728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 03 Juni 2017

    Presiden Jokowi, Sang Pendobrak dan Sang Pembangun Sistem

    Setiap manusia memiliki zamannya, kehadiran pemimpin dan musuhnya adalah keniscayaan
    Kita sebagai warga Negara Indonesia tepat 72 tahun merdeka. Kita berdiri di tempat kita masing-masing, kita berbeda agama, suku dan ras. Namun tetap berada dalam satu tanah air Indonesia. Kita semua adalah saudara sebangsa dan setanah air. Itu sebuah fakta yang tidak bisa terbantahkan, Kita merdeka berkat kerja keras para pendiri bangsa. Merdeka.

    Sejarah mencatat, tanggal 10 november 1945 telah terjadi pertempuran arek-arek Suroboyo di Hotel Oranye dengan pasukan Belanda hingga terbunuhnya Jenderal Mallaby pada saat itu. Kehadiran sosok bung Tomo saat itu benar-benar menjadi mesin, penggerak, pemersatu, leader dalam memperjuangkan kemerdekaan Suroboyo.

    17 Agustus tahun 1945, Bung Karno dan Bung Hatta sang proklamator merupakan nafas dari didirikannya bangsa kita tercinta ini Bangsa Indonesia.

    Bagi umat muslim, ketika Arab pra Islam begitu sesat akan nilai-nilai masyarakat. Membunuh bayi semaunya, budak diberlakukan tidak adil, wanita hanya dijadikan alat pemuas nafsu. Kehadiran sosok Muhammad di tengah-tengah mereka telah mampu menjadi pemimpin untuk mengentaskan permasalahan yang mereka alami.

    Setiap zaman pasti memiliki permasalahannya sendiri dan akan menghadirkan pemimpinnya sendiri. Itu sebuah keniscayaan.

    Namun dibalik perjuangan orang-orang baik pasti akan selalu ada orang-orang buruk yang mengganggu pekerjaan mereka. Bung Tomo dan Bung Karno saat itu harus menghadapi para penjajah yang ingin menguasai negeri ini. Presiden Jokowi dalam menegakkan keadilan sosial di Indonesia dihadapkan dengan koruptor, teroris, hingga ormas-ormas intoleran yang merongrong negara kesatuan Republik Indonesia.Itu sebuah keniscayaan dunia yang tidak bisa terbantahkan lagi.

    Sistem yang membentuk pribadi atau pribadi yang membentuk sistem?
    Saya pernah ditanyai seorang teman. Siapa penggerak dunia ini? Sistem ataukah manusia?
    Sistem itu bisa digunakan untuk mendidik dan mencetak manusia. Sistem itu layaknya mesin produksi yang siap membentuk manusia menjadi apa yang diminta oleh mesin produksinya. Misal: keberadaan TNI/Polri merupakan sebuah sistem untuk membentuk manusia menjadi abdi negara, yang total menyerahkan hidupnya demi bangsa dan negaranya. Oleh sebab itu kita temui Jenderal Tito dengan kecerdasannya, strateginya yang begitu matang, kecintaannya kepada Negara Indonesia. Hal itu terjadi lantaran sejak masuk Polri beliau sudah dicetak atau dididik menjadi pribadi yang begitu cinta negaranya, pribadi yang cerdas, pribadi yang ahli strategi dan lainnya.

    Namun ada juga seorang Individu yang membuahkan pemikiran-pemikiran brilian, individu yang memiliki kehendak, individu yang memiliki ide-ide untuk menghadirkan sebuah perubahan bagi dirinya dan orang-orang disekitarnya. Individu yang seperti inilah yang memiliki karakter sebagai agent of change, individu yang terlahir untuk menjadi leader, menjadi pembaharu, menjadi sosok pertama yang menanamkan pemikiran-pemikirannya untuk merubah orang-orang di sekitarnya bahkan dunia. Individu seperti inilah yang dikatakan sebagai pembentuk sistem. Pemikiran-pemikirannya akan digunakan sebagai sistem untuk membentuk individu. Contoh sederhananya kita bisa melihat dengan ucapan Soekarno yang dengan lantang mengatakan “beri kami 10 pemuda maka kami akan guncangkan dunia”. Sosok Soekarno disini merupakan sosok yang mampu menghadirkan pemikiran dan ide-ide untuk merubah atau membentuk sistem. Kehadirannya sebagai seorang pembaharu dan sebagai seorang leader. Kehadirannya merupakan sosok individu yang mampu merubah dan membentuk sistem. Sistem yang sekarang kita pakai sebagai acuan untuk bernegara yakni UUD 1945 dan Pancasila.

    Kepribadian dan kemampuan universal yang dibutuhkan pemimpin
    Untuk menjabarkan kata pemimpin memang agak susah, karena literature yang didapatkan cukup banyak dan hanya membahas secara umum. Namun jika mengamati para pemimpin besar  kita akan mendapati dua hal yang selalu ada dalam diri mereka

    1. Pemimpin besar terlahir dengan kepribadian besar
    2. Pemimpin besar terlahir dengan kemampuan besar

    Kepribadian yang saya maksud di sini adalah kepribadian dalam memberikan contoh, kepribadian nyata dalam sebuah perilaku. Kejujuran dalam bekerja, mampu memberi contoh, pribadi yang pekerja keras, adil sebagai pemimpin, tegas dalam mengambil keputusan, keras terhadap hal-hal buruk dan masih banyak lagi.
    Kemampuan yang saya maksud di sini adalah kemampuan dalam berpikir dan bekerja. Memiliki jiwa visioner dalam membuat rencana jangka panjang dan jangka pendek, memiliki target yang jelas dalam setiap pekerjaanya. Memiliki program yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Kemampuan dalam menggerakan anggota, kemampuan dalam mengendalikan sistem pengendalian, kemampuan bekerja melebihi manusia lainnya.
    Seorang pemimpin besar akan selalu terlahir dengan kepribadian dan juga dengan kemampuan besar. Setidaknya itu kriteria pemimpin yang saya amini.

    Budaya kerja adalah tolok ukur sebuah kinerja

    Ketika seorang pemimpin besar memiliki kepribadian yang baik dalam bekerja, kejujuran, keadilan, ketegasan maka dia akan berusaha mewujudkan kepribadian itu menjadi budaya kerja bagi orang-orang di sekitarnya dan bawahannya. Dengan begitu akan terbentuk sebuah budaya kejujuran, budaya kerja, budaya tegas, budaya adil dan selainnya.
    Ketika seorang pemimpin memiliki kemampuan kepemimpinan. Kemampuan visioner, kemampuan menetapkan target di setiap langkahnya, kemampuan menjalankan program yang jelas. Maka dengan jiwa kepemimpinannya dia juga akan berusaha mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk meniru dan menerapkan pekerjaan yang sudah dilakukannya. Dia akan merubah orang-orang disekitarnya menjadi orang yang visioner, memiliki target, program jelas dan selainnya.
    Dengan begitu seorang pemimpin akan membentuk sebuah budaya, sebuah sistem secara halus yang memaksa orang-orang di sekitarnya untuk menjadi seseorang yang mampu bekerja secara visioner, seseorang yang mampu bekerja dengan target, program-program yang menyentuh akar permasalahan.
    Dia juga akan membentuk bawahannya menjadi pribadi yang jujur dalam bekerja, kerja keras, anti korupsi, sederhana serta bisa melayani dan mengayomi seluruh masyarakat sesuai dengan prinsip keadilan.

    Jokowi adalah?

    1. Jokowi adalah keniscayaan

    Negara kita merdeka 72 tahun, kita sudah berkali-kali berganti Presiden sebagai nahkoda negeri ini. Bahkan ada seorang Presiden yang berkuasa selama 32 tahun. Selama 32 tahun berkuasa, sang presiden seolah mengendalikan negara sesuai dengan kepentingannya sendiri. Yang paling nyata adalah kepemilikan perusahaan atau yayasan atau proyek-proyek yang bisa dikendalikan oleh keluarga. Bahkan presiden kita sebelum Jokowi pun melibatkan seluruh keluarganya untuk ambil bagian dalam menguasai negeri ini. Praktik-praktik tersebut menjadi sangat lumrah ketika berkuasa, namun sedikit demi sedikit orang-orang mantan penguasa akan dipreteli satu-persatu oleh KPK ketika masa kekuasaan berakhir. Itulah sebuah fenomena negeri ini, sebuah fenomena budaya KKN yang meraja lela.
    Kehadiran Presiden Jokowi merupakan sebuah keniscayaan, dimana ketika negeri ini begitu menginginkan memiliki presiden yang baik, yang jujur, anti korupsi, yang berprinsip pada keadilan sosial. Jokowi hadir disana, beliau hadir dengan karakternya yang sederhana, yang anti korupsi, yang jujur, yang begitu mendambakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    2. Jokowi sang pendobrak sistem dan pembentuk sistem.

    Jokowi terlahir dari rezim penguasa yang begitu kental dengan KKN. Namun sejak kecil berada di pinggiran sungai dan terlupakan. Karakter ini telah menempanya menjadi seorang pemimpin yang terlahir dari era penguasa lalim, hal itu membuatnya terlahir sebagai pemimpin dengan karakter dan jiwa tegas, pemimpin yang memiliki ide-ide dan pemikiran untuk pembaharuan dalam memerangi KKN. Itu terwujud dengan adanya revolusi mental, kehadiran Jokowi benar-benar mampu menjadi shock terapi bagi semua orang. Belum pernah ada Presiden di negeri ini yang tidak melibatkan jabatan tertentu bagi keluarganya di dalam partai maupun di pemerintahan. Keberadaan Jokowi benar-benar menjadi tolok ukur bagi masyarakat tentang standard untuk memilih seorang pemimpin/kepala daerah/kepala negara. Dulu, sebelum Presiden Jokowi berkuasa kita sudah terbiasa disuguhkan dengan para penguasa yang kaya, yang melibatkan sanak saudara di jajaran pemerintahannya, penguasa yang menguasai tambang/perusahaan/kekayaan alam negara melalui sanak keluarganya. Jokowi berbeda, kehadirannya benar-benar sebagai seorang individu pendobrak sistem/kebiasaan buruk era sebelumnya.
    Dia telah membentuk sebuah sistem baru, dimana kepala negara atau kepala negara sekarang atau setelahnya harus dipaksa mengikuti standard sistem yang telah dibuat oleh Jokowi.

    3. Jokowi mampu menanamkan budaya kerja

    Sebelum era Jokowi kita sering melihat sebuah kenyataan budaya bahwa jabatan menteri adalah jabatan bagi-bagi kue antar parpol pendukung, hal ini membuat Presiden tersandra dengan kepentingan-kepentingan parpol pendukungnya. Maka kita sering melihat fenomena kegaduhan antara parpol pendukung pemerintahan bahkan menteri dengan sang Presiden sendiri. Lucunya presiden seolah tidak berani mengambil sikap. Budaya bagi-bagi kue berimplikasi kepada budaya kerja yang buruk sehingga hasil kerja pemerintahan pun sangat sedikit yang bisa dibanggakan.
    Sekarang, kita lihat betapa fenomenalnya Ibu Susi, Ibu Sri Mulyani, Bapak Jonan dan Bapak Archandra serta yang lainnya. Mereka semua adalah sosok profesional luar biasa hebat dengan kepribadian dan kemampuan hebat ditambah lagi mereka terkontaminasi oleh karakter budaya kerja Jokowi. Jokowi mampu menjadi pribadi yang bisa menularkan serta membentuk sebuah sistem. Kita tahu di era sebelum Jokowi, budaya kerja instansi pemerintahan amat rendah. Visi dan program hanya dikerjakan sebatas formalitas semata. Di era Jokowi semua pekerjaan memiliki standard yang amat tinggi, sehingga menghasilkan pekerjaan yang benar-benar memuaskan. Budaya ini suatu saat akan menjadi warisan terbesar kepada penerusnya dimana Presiden Jokowi mewariskan sebuah budaya kerja kesetiap jajarannya.

    4. Pembangunan yang dilakukan Presiden Jokowi begitu cepat

    Danau Toba dibangun sedemikian indah, ruas jalan tol begitu banyak dibangun, ruas Gempol-Pandaan beroperasi 12 juni 2015, Cikampek-Palimanan beroperasi 13 juni 2016, Ruas Porong-Gempol beroperasi 06 mei 2015. Pada tahun 2016 juga menyelesaikan 2 ruas tol Trans Jawa Surabaya-Mojokerto dan Pejagan-Pemalang (baca di sini). Papua yang tidak pernah tersentuh kini disulap jauh lebih baik, salah satunya adalah pembangunan jalan Trans Papua yang dikerjakan besar-besar di era Jokowi (baca di sini) . Freeport yang dihegemoni oleh asing kini menjadi kerdil di mata pemerintahan Jokowi (baca di sini). Bidang kesehatan disentuh dengan adanya KIS, bidang pendidikan disentuh dengan adanya KIP (baca di sini)

    Jokowi itu bukan manusia sempurna, dia hanyalah manusia biasa yang masih memiliki banyak kelemahan dan kekurangan.
    Namun kalau kita mau berpikir obyektif, adakah Presiden di negeri ini yang mampu mengimbangi kinerja Jokowi?



    #JokowiuntukIndonesia


    Penulis :   Mukhlas Prima Wardani    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Presiden Jokowi, Sang Pendobrak dan Sang Pembangun Sistem Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top