728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 08 Juni 2017

    Posisi Din Syamsudin di UKP-PIP Diganti KH. Said Aqil Shiradj, Pertanda Apa?

    Presiden Jokowi baru saja melantik Pengarah dan Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila ( UKP-PIP). Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, Rabu (7/6/2017).

    Untuk posisi Kepala UKP-PIP, Jokowi memercayakan kepada Yudi Latif. Sementara, untuk posisi Pengarah, Jokowi memilih 9 orang, dua di antaranya adalah Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno.

    Selain itu, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PBNU KH. Sa’id Aqil, Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD. Ada pula tokoh Kristen Andreas Annangguru Yewangoe, tokoh yang mewakili agama Hindu Wisnu Bawa Tenaya, dan serta perwakilan agama Budha, Sudhamek.

    Ada hal yang menarik dari nama-nama yang dilantik oleh Jokowi. Nama Din Syamsudin tidak lagi termasuk dari anggota UKP-PIP. Posisinya digantikan oleh KH. Said Aqil Shiradj. Simak informasi berikut.

    Presiden Jokowi mencabut Din Syamsudin dari daftar dewan pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Din Syamsuddin akhirnya diganti oleh KH. Said Aqil Siradj.

    Pencabutan ini dilakukan sebelum Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 31/M/2017 tentang pengangkatan pengarah dan kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila diterbitkan.

    Pencabutan nama Din Syamsuddin dibenarkan Ketua UKP-PIP, Yudi Latief. Yudi mengatakan, Din Syamsuddin sengaja dicopot dari daftar dewan pengarah UKP-PIP karena akan mendapat tugas lain dari Kepala Negara yang rencananya juga akan dibentuk lembaga lain kayak Dewan Kerukunan Nasional.

    Jika Din Syamsuddin masuk dalam struktur UKP-PIP, maka akan terjadi penumpukan tokoh Islam dari organisasi Muhammadiyah. Sebab selain Din Syamsuddin, Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Ma’arif juga masuk dalam daftar dewan pengarah UKP-PIP.

    “Jadi tokoh agama lain mungkin supaya tidak overlapping. Sebagian di unit ini, sebagian di rencana-rencana yang lain,” terangnya.

    Ketika ditanya apakah Din Syamsuddin akan dimasukkan dalam struktur Dewan Kerukunan Nasional, Yudi mengaku belum tahu.

    “Belum ada penjelasan, tapi konon ada ini tersendiri lah, tugas tersendiri,” tutupnya.

    Digantikannya posisi Din Syamsudin oleh KH. Said Aqil Shiradj terlihat bukan sebuah kebetulan. Jika alasan posisi Din Syamsudin diganti oleh KH. Said Aqil Shiradj manurut Yudi Latief karena akan ditempatkan ke posisi lain, alasan ini juga janggal. Mengapa tidak KH. Said Aqil Shiradj saja yang ditempatkan di posisi yang lain? Apalagi, posisi yang dimaksud oleh Yudi Latif baru sebatas rencana.

    Alasan bahwa jika Din Syamsudin tetap berada di UKP-PIP, maka akan terjadi overlapping tokoh Muhamddiyah dimana di UKP-PIP sudah ada Ahmad Syafi’i Ma’arif juga mudah dibantah. Pasalnya, meskipun KH. Ma’ruf Amin disebut mewakili MUI, namun secara organisasi beliau adalah Ro’is Am NU. Maka ketika KH. Said Aqil Shiradj masuk UKP-PIP menagapa tidak dikatakan overlapping tokoh NU? Apalagi di situ juga ada Mahfud MD yang secara amaliyah masuk kategori orang NU.

    Nalar saya mengatakan bahwa digantikannya posisi Din Syamsudin oleh KH. Said Aqil Shiradj bukan tanpa alasan. Sikap-sikap yang ditunjukkan oleh Din Syamsudin belakangan ini yang kemungkinan membuat Jokowi lebih memilih KH. Said Aqil Shiradj.

    Sikap yang ditunjukkan oleh Din Syamsudin belakangan memang terlihat memicu pro dan kontra. Tak lama setelah  Jokowi meresmikan Masjid KH. Hasyim Asy’ari, Din Syamsudin menyurati Jokowi.  Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Jokowi untuk meminta agar menunda peresmian Masjid KH Hasyim Asy’ari yang berada di bilangan Daan Mogot, Ketua Dewan Pertimbangan MUI/Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah M Din Syamsuddin, sempat menyebut istilah ‘Masjid Dhirar’. Di dalam surat terbuka yang tersebar luas semenjak kemarin itu, ‘Din Syamsuddin’ mengartikan istilah ‘Masjid Dhirar’ sebagai masjid yang membahayakan.

    Tuduhan Din Syamsudin bahwa Masjid KH. Hasyim Asy’ari sebagai masjid dhirar tentu sangat menyakitkan kubu pemerintah. Masjid dhirar memiliki pengertian sebagai masjid yang dibangun oleh orang munafik. Dengan mengatakan Masjid KH. Hasyim Asy’ari sebagai masjid dhirar, maka secara tidak langsung Din Syamsudin meyebut bahwa pemerintah adalah orang munafik.

    Entah atas dasar apa Din Syamsudin sampai berkesimpulan bahwa ada kemungkinan bahwa masjdi KH. Hasyim Asy’ari adalah masjid dhirar. Padahal, ulama-ulama di atas beliau tetap kalem, adem  ayem, serta mengapresiasi pemerintah yang telah membangunkan masjid. Mereka justru berterima kasih kepada pemerintah.

    Alasan-alasan itu yang menurut nalar saya yang membuat Jokowi memilih KH. Said Aqil Shiradj untuk menempati posisi Din Syamsudin di UKP-PIP. Nalar saya tentu bisa jadi benar bisa jadi salah. Silahkan pembaca seword berpendapat mengapa posisi Din Dyamsudin digantikan oleh KH. Said Aqil Shiradj.



    Penulis    :   Saefudin achmad   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Posisi Din Syamsudin di UKP-PIP Diganti KH. Said Aqil Shiradj, Pertanda Apa? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top