728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 10 Juni 2017

    Politik Identitas Bertopeng Perjuangan Umat adalah Sebuah “Kedunguan”

    Singkat saja, aku ingin menuliskannya!

    Sudah menjadi hukumnya dunia, kesadaran seseorang selalu dimungkinkan oleh realitas di luarnya, maka itu kesadaran manusia tak pernah seragam, selalu berbeda-beda, karena manusia selalu dalam situasi diterminasi oleh realitas di sekitarnya, sekaligus berupaya mengubahnya. Jika tidak, sejarah otomatis berhenti.

    Itulah sebabnya mengapa kaum muslim harus bahu membahu, bersama umat agama lain serta kaum ateis melawan penghisapan yang menyebabkan ketimpangan dan malapetaka sosial. Pasca Kristendom, manusia tak boleh lagi ditempatkan sebagai budak Klerik. Manusia adalah ‘subjekt der Geschichte’ sebagaimana diungkapkan Marx. Karena itu ia sendiri yang menentukan baik buruknya dunia.

    Agenda pemurnian Islam yang melakat pada tubuh Islam Politik yang eksklusif dan intoleran makin membahayakan dan menjadi anomali abad dua satu yang secara identitas berciri: ‘hybrid and cosmopolite’.

    Ide tentang purifikasi dan otentisitas ini selalu menjadi horor bagi kemanusiaan. Upaya mencari dasar segala dasar identitas suatu kelompok terbukti menjadi ancaman bagi dunia.

    Ide ini absurd karena mengimajinasikan suatu tatatan sosial yang murni dari segala residu yang tak dikehendakinya karena diaggap mengancam kemurnian. (Roy Murtadho)

    Polemik belakangan ini memang sudah melenceng jauh, dimana persoalan kelas yang kemudian melompat pada politik identitas. Seolah-olah identitas tertentu dalam keadaan dizalimi. Dan tidak heran jika ormas ataupun parpol meski pandangan secara politiknya berbeda menjadi bersatu, hal ini jika diamati lebih jauh tak lebih dari kepentingan dominasi dalam memperebutkan tahta kekuasaan itu sendiri.

    Belakangan ini identitas bertransformasi menjadi politik identitas yang digunakan sebagai basis perjuangan aspirasi kelompok. Namun hal ini jika kita lihat lagi lebih jauh, dimana aksi yang marak diwarnai dengan mengatas namakan umat Islam adalah sebuah kekeliruan. Karena identitas seharusnya digunakan lebih untuk merangkum dan memperkokoh kebhinekaan bangsa ini, dimana Nusantara berdiri dan lahir bukan pada golongan dan agama tertentu melainkan keberagaman.

    Politik identitas yang marak akhir-akhir ini telah menjungkirkan dan meruntuhkan paham yang selama ini menjadi pilar sebuah negara yang sejatinya kita cintai bersama. Fenomena dan polemik ini semestinya tidak hanya menjadi pemikiran bagi seluruh tokoh bangsa melainkan juga pemuda, dan masyarakat. Politik atau penguatan identitas sesungguhnya bukanlah hal yang baru dan ini menjadi sah mengingat negara kita menjunjung tinggi demokrasi. Akan tetapi, ekspresi identitas itu seharusnya ataupun selayaknya mesti menghadirkan toleransi, bukan melahirkan kebencian dan merasa paling jago, yang pada akhirnya menjadi fanatik buta dengan selalu mengatas namakan umat, sementara agama sendiri tidak mengindahkannya.

    Apa yang terjadi belakangan ini tentang ormas Islam yang didukung juga oleh parpol dan oknum tertentu, justru memperlihatkan keinginan untuk menciptakan masyarakat yang “monis”, hal ini karena betapa mencuatnya kata “khilafah” yang digembar-gemborkan dapat membawa kemaslahatan umat di Nusantara, akan tetapi menegasikan sisi kultur-sosial masyarakat Indonesia. Hal ini sama saja bahwa mereka melupakan kejayaan Islam itu sendiri. Pancasila sudah final, maka merawatnya dan mewujudnya jauh lebih penting.

    “Khilafah sebagai salah satu sistem pemerintahan adalah fakta sejara namun tidak boleh lupa bahwa model yang demikian sangat sesuai dengan eranya; yakni ketika kehidupan manusia belum berada di bawah naungan negara-negara bangsa (nation states). Karena pada masa itu umat Islam sangat dimungkinkan untuk hidup dalam satu sistem khilafah. Namun dimana saat umat manusia bernaung di bawah negara-negara bangsa (nation states) maka sistem khilafah bagi umat Islam sedunia tentu kehilangan relevansinya. Maka membangkitkan kembali ide khilafah pada masa kita sekarang ini tentulah sebuah utopia, apalagi negara seperti Indonesia lahir dan tumbuh justru dari bersatunya keberagaman.

    Kata khilafah yang kini kembali mencuat lewat politik identitas, dan sebelumnya banyak dimainkan oleh jamaah Hizbut Tahrir yang didirikan di Jerusalem Timur, 1952, yang mana untuk di Indonesia dikenal dengan nama HTI. Dan yang marak belakangan ini juga digaungkan oleh Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) di Irak dan Syiria, yang bukan hanya bercokol di Timur Tengah melainkan juga sudah masuk ke Asia, khususnya Asia Tenggara. Pemurnian yang hendak dilakukan seolah-olah perjuangan untuk melawan ketertindasan, sementara dibelakang tirai, imperium asyik memasok senjata. Sambil berkata, “Dimana lagi negara yang kaya SDA, untuk kita lakukan eksploitasi dan ekspansi, terus pasok senjata agar “pecah-belah lalu kuasai”

    Untuk di Nusantara, benih-benih tentang ide penegakkan khilafah, sejarah mencatat bahwa ide tersebut sudah ada sejak awal kemerdekaan RI pada tahun 1945, baik ada yang bersifat konstitusional, seperti Majelis Konstituante, atau pun bersifat militer, seperti dalam peristiwa kasus DI/TII, yang mana kesemua itu berusaha mendirikan negara Islam dan menolak Pancasila.

    Apa yang terjadi dalam pemurnian pada suatu golongan yang terjadi belakangan ini dan membuat politik cukup gaduh, bukanlah merupakan perjuangan yang disebut untu melawan kezaliman ataupun ketertindasan yang mengatas namakan umat, melainkan justru menjadi horor dan ancaman bagi nilai kemanusiaan, hal ini sudah diperlihatkan dalam polemik yang terjadi di timur tengah. Disisi lain apakah yang mereka sebut dalam perjuangan umat adalah kemurnian perjuangan menegakkan agama yang merasa terzalimi? Tidak. Karena justru yang kental adalah politik-ekonomi. Atau keinginan untuk memegang puncak dominasi. Dalam hal ini sebagian rakyat baik mayoritas ataupun minoritas dibuat lupa siapa kawan dan siapa lawan, dengan menggunakan para proxy seperti ekstrimis agama atau “premanis” agama.



    Penulis    :    Losa Terjal   Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Politik Identitas Bertopeng Perjuangan Umat adalah Sebuah “Kedunguan” Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top