728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 14 Juni 2017

    Pelarian Rizieq Membuktikan Bahwa Dia Cuma Pion Catur

    Rizieq itu tetap menjadi berita yang layak jual, baik dia berada di negeri ini ataupun di negeri orang. Pelariannya memang menarik diikuti dengan seribu satu isu dan gosip yang mengikutinya. Ada pertanyaan tersisa dari kasus raibnya Rizieq.  Dimana orang-orang yang pernah membonceng demo besar-besaran yang digelar Rizieq dan kelompok FPI-nya? Mengapa mereka memilih diam ketika Rizieq dalam masalah?

    Ini mengindikasikan bahwa Rizieq tidak memiliki kartu truf di tangannya yang mampu memaksa orang-orang yang dulu pernah ditolongnya dalam peristiwa gala demo berseri yang ditunggangi rencana makar untuk menolong dia lepas dari jeratan kasus PornChat. Dia tidak punya informasi penting yang bisa mengungkap sampai ke akar-akarnya grand-design gerakan makar yang membonceng demo ciptaannya.

    Dengan berlama-lama dan segala alasan untuk tidak kembali ke Indonesia ini menandakan Rizieq masih berharap bisa membeli waktu dan berharap beking dari orang-orang yang pernah memakai jasanya. Tapi pertolongan itu tidak kunjung tiba, buktinya tidak satupun ada yang menolong Rizieq membungkam Firza.

    Satu-satunya kelompok yang masih setia menolongnya adalah kumpulan pengacara FPI. Sayangnya kelompok pengacara FPI ini terlalu banyak mengarang cerita aneh tentang alasan mengapa Rizieq terus menghindari panggilan Polisi. Pernyataan-pernyataan kelompok pengacara ini justru yang membuat orang makin curiga bahwa Rizieq memang benar-benar bersalah dan sengaja menghindari jalur hukum.

    Menarik untuk menganalisa mengapa orang-orang dari kelompok makar tidak terlihat ada usaha dan suara untuk membeking Rizieq. Ini sebenarnya mudah dipahami, jika kita melihat bahwa Rizieq itu tidak lebih dari pion yang digunakan untuk menutupi tujuan sesungguhnya dibalik demo berseri. Kelompok penunggang ini membutuhkan massa dalam jumlah besar yang mudah dibelokkan menjadi chaos yang menjurus anarkis dan berlangsung sedekat mungkin dengan Istana dan Gedung DPR.

    Kebetulan dengan memanasnya suhu sentimen agama yang dipicu oleh ucapan Ahok, gerakan makar seakan mendapat momentum yang tepat. Disini mereka melihat ada celah masuk lewat gerakan demo besar-besaran yang diprakarsai FPI dan satu-satunya tokoh yang dianggap mumpuni untuk mengumpulkan dan memprovokasi massa adalah Rizieq.

    Rizieq melihat peluang ini dan menjual jasanya yang mampu menggerakkan massa untuk kepentingan apapun. Dua kepentingan bersatu dalam waktu yang tepat. Hanya saja Rizieq tidak tahu siapa master-mind sesungguhnya yang menunggangi demo mereka.Data intelijen menunjukkan dia tidak terlibat (atau hanya sedikit tahu) dalam skenario makar dan tidak tahu bagaimana aliran dana itu digerakkan dan kemana saja dana didistribusikan.

    Setali tiga uang dengan  Rizieq, Firza juga cuma pion kecil yang bisa dikorbankan  kapan saja, perannya hanya sebagai distributor dana dalam lingkar luar kelompok. Dia sebenarnya tidak tahu  banyak mengenai pergerakan kelompok inti.

    Jadi apa untungnya membela Firza? Hanya jika Firza memegang kunci informasi, pasti sudah ada orang dalam yang bermain melindungi Firza. Polisi juga menyadari ini, nyatanya kasus keterlibatan  Firza dalam makar tidak lagi menjadi prioritas. Polisi lebih tertarik mengungkap kasus PornChat untuk menjerat Rizieq.

    Kelompok penentang Jokowi sudah memenangi sasaran antara yaitu menjegal dan memenjarakan Ahok. Mereka kini rehat sejenak dan mundur selangkah dari hiruk-pikuk politik, sembari menyusun strategi senyap berikutnya untuk target Pilpres  2019.

    Kelompok ini memang membutuhkan jasa FPI dan sekutunya dalam gerakan mereka, tapi mereka tidak tergantung pada personal-personal semacam Rizieq. Bagi kelompok ini urusan dengan Rizieq sudah selesai. Ini tidak lebih dari urusan jual beli jasa. Dengan dana yang tidak terbatas , mereka akan bergerak lagi pada saat yang dianggap tepat untuk berjual beli dengan kelompok FPI atau sejenisnya dengan atau tanpa Rizieq.

    Jadi bagi mereka tidak ada keuntungan apapun membela Rizieq, toh kasus yang dihadapi bukanlah kasus politik. Lagi pula membela Rizieq dan Firza hanya akan membuka kedok mereka lebih transparan, dan itu sama saja menjadikan mereka sasaran empuk Polisi dan TNI untuk bertindak.

    Dua demo besar-besaran memang berhasil mengangkat nama Rizieq, tapi ini juga yang menjadi titik awal kejatuhannya. Rizieq menjadi jumawa dan gegabah merasa itu adalah hasil jerih payahnya. Sehingga dia kehilangan kontrol atas mulutnya dan perilakunya. Dia merasa hukum tidak akan menyentuhnya, tapi dia keliru. Kita menjadi saksi bagaimana mulut Rizieq yang ringan mencaci maki dan menghina kelompok lain kini menjadi hakim atas dirinya.

    Kasus moral yang mejadikannya tersangka membuatnya kabur keluar negeri dan kini dia terlihat berjuang sendirian mengatasi masalahnya. Tetap menggunakan pola yang sama untuk menggalang dukungan moral dan mencari pembenaran dari pengikut-pengikutnya, Rizieq mengangkat tema “Kriminalisasi Ulama”, tapi sayang produk jualan Rizieq tidak terlalu laku, usaha terakhir lewat gerakan Bela Ulama 96  yang digembar-gemborkan akan mendatangkan umat sampai ratusan ribu seperti jauh panggang dari api.  Ini bentuk upaya yang sia-sia dari grup Alumni 212 karena cuma berhasil menghadirkan ratusan orang saja. Suatu jumlah yang bikin miris, mengingat demo pertama diklaim mampu menghadirkan 7 juta umat.

    Setelah Ahok berhasil dijatuhkan dan dipenjarakan, tidak ada lagi tema sensitif yang mampu mengangkat semangat jihad pengikut fanatiknya. Tema baru ‘Kriminalisasi Ulama’ tampaknya tidak terlalu menarik minat penyandang dana dan pengikut-pengikut Rizieq untuk terjun langsung membelanya, pembelaan hanya ramai di medsos. Orang mungkin mulai sadar Rizieq menjual umat dan ayat agama untuk kepentingan penyelamatan dirinya sendiri. Ditambah seretnya kontribusi dari penyandang dana, sangat musykil mampu mengumpulkan massa dalam jumlah besar.

    Pada akhirnya , bagi Rizieq sendiri, dia tidak punya banyak pilihan selain mengemis harapan kepada orang-orang yang pernah dibantunya agar mau meluangkan tenaga menolong beliau lepas dari jeratan kasus yang menimpanya. Langkah terakhir Rizieq yang masih mungkin jika semua jalan sudah buntu adalah memohon pada Raja Salman memberikannya kewarganegaraan Arab Saudi.

    Jika benar klaim Rizieq bahwa Raja Salman mengundangnya ke Arab Saudi, tentu permohonan Rizieq mudah saja dikabulkan. Apalagi pengacaranya sudah mengkonfirmasi bahwa Rizieq mendapat visa yang ‘unlimited period’ dari Kerajaan Arab Saudi. Bagi saya, visa jenis lucu-lucuan ini tidak lebih dari karangan terbaru para pengacara sang Imam besar, sebab belum pernah ada satu negara di dunia mau menerbitkan visa tanpa batas waktu tinggal. Kalau ini ada apa bedanya dengan mendapat kewarganegaraan biasa?

    Mari kita sama-sama doakan Rizieq agar keinginannya terkabul. Setidaknya mungkin di Arab sana dia bisa kembali belajar mengenal Islam yang sesungguhnya , Islam yang menghormati orang lain dan penuh toleransi. Dihitung-hitung, tidak banyak manfaatnya jika sang imam besar ini tinggal di Indonesia. Tidak ada kontribusi apapun diberikannya bagi negara ini, selain keonaran dan provokasi kebencian.



    Penulis :   Allen      Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pelarian Rizieq Membuktikan Bahwa Dia Cuma Pion Catur Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top