728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 03 Juni 2017

    Pancasila dan Revolusi Mental: Indonesia (Kembali) Menjadi Macan Asia

    “Pancasila itu jiwa dan raga kita. Ada di aliran darah dan detak jantung kita, perekat keutuhan bangsa dan negara. Saya Jokowi, Saya Indonesia, Saya Pancasila. Kalau kamu?”-Joko Widodo

    Setiap tanggal 1 Juni, segenap rakyat Indonesia memperingati hari Lahir Pancasila, namun, refleksi mendalam perlu dilakukan, apakah Pancasila sudah benar-benar menjadi bagian yang inheren dalam diri setiap warga negara Indonesia? Apakah Pancasila sudah menjiwai dan mewujudkan dirinya dalam pikiran dan perbuatan setiap warga negara Indonesia? Apakah Pancasila dapat sudah menjadi tuntunan bagi kita untuk merevolusi mental segenap insan Indonesia untuk kembali menjadikan Indonesia sebagai Macan Asia?

    Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Indonesia merupakan negara yang kaya raya, kaya raya dalam sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Dengan estimasi jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa dan kurva piramida penduduk yang didominasi oleh angkatan kerja yang produktif. Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat memiliki potensi untuk menjadi negara nomor satu di Asia Tenggara atau bahkan di Asia.[2] Sumber daya alam Indonesia yang melimpah dikarenakan Indonesia berada dalam titik pertemuan dua lempeng benua dan dua samudra merupakan hal yang sangat dihafalkan oleh anak-anak Indonesia di sejak bangku sekolah dasar.

    Dengan kenyataan seperti ini, mengapa sampai sekarang, Indonesia masih belum bisa semaju Singapura atau Jepang? Singapura merdeka pada tahun 1965, namun Singapura dalam rentang waktu yang singkat mampu menjadi negara termaju di Asia Tenggara.[3] Contoh pararel adalah Jepang, pada akhir Perang Dunia II, Jepang porak poranda akibat serangan dua bom nuklir dari Sekutu, namun dalam rentang waktu yang singkat, Jepang dapat bangkit kembali untuk menjadi salah satu negara termaju di Asia Timur. Singapura dan Jepang adalah negara-negara yang sumber daya alam maupun manusianya secara kuantitatif jumlahnya jauh lebih sedikit daripada Indonesia, sebuah ironi ketika Indonesia yang justru kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia justru secara GDP kalah dari Singapura dan Jepang.[4]

    Adakah hal-hal yang terlewatkan dari pengamatan para pemimpin dan pembuat kebijakan di negara ini, sehingga hampir dalam kurun waktu lebih dari 70 tahun, Indonesia masih bergelut dalam upaya mencapai kemajuan bangsa? Apakah hal-hal yang terlewatkan ini masih merupakan tantangan masa lalu yang sampai sekarang masih belum bisa diselesaikan?

    Untuk menjadikan sebuah negara maju yang masyarakatnya cerdas dan memiliki kesempatan untuk mengabdikan diri setinggi-tingginya bagi bangsa dan negara, para pemimpin dan pembuat kebijakan harus bisa menghadapi permasalahan negara yang paling inti yaitu menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang memiliki mental mulia, yaitu memiliki moral yang baik dan etos kerja yang tinggi. Permasalahan moralitas merupakan permasalahan yang inti dalam kehidupan manusia, moral menurut Kant adalah aturan mengenai perbuatan baik dan buruk yang bersifat universal dan menjadi pedoman bagi manusia untuk keberadaban dirinya.[5]

    Tantangan bagi semua manusia adalah menjadi manusia yang bermoral, manusia yang jujur dan mulia, altruistik terhadap sesama dan bersemangat untuk berkerja keras, menantang diri sendiri untuk menjadi lebih maju. Inilah revolusi mental yang harus disukseskan oleh semua pihak di Indonesia. Presiden Joko Widodo dalam program kerja pokoknya mewacanakan Nawa Cita yang salah satu diantaranya adalah Revolusi Mental.[6] Kesamaan yang dimiliki oleh kesuksesan Singapura dan Jepang adalah mental-mental individu yang kompetitif dalam menjawab perkembangan zaman. Mental merupakan aspek esensial dalam memajukan suatu bangsa. Penulis berpendapat bahwa Indonesia memiliki instrumen yang sangat kuat untuk menyukseskan program tersebut yaitu dengan revitalisasi Pancasila.

    Dalam Pancasila, terkandung nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yaitu nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi dan Keadilan. Nilai-nilai ini yang menjadi fondasi moral bangsa Indonesia dan harus benar-benar bias dijiwai oleh semua warga negara Indonesia, jika Indonesia ingin kembali menjadi Macan Asia seperti pada masa awal-awal kemerdekaan Indonesia. Indonesia sungguh dikagumi oleh banyak negara-negara bekas jajahan di era kolonialisme, semangat pemuda-pemudi Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan menjadi inspirasi besar bagi banyak negara-negara yang mengalami nasib serupa. Sejarah mencatat, Indonesia menjadi salah satu pelopor gerakan anti kolonialisme, kesetaraan dan kooperasi antar negara di dunia untuk mewujudkan dunia yang lebih baik.

    Pada masa penjajahan, politik devide et impera digunakan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan para pemuda dan pemudi Indonesia namun, sejarah membuktikan bahwa pada tahun 1928, bangsa Indonesia sukses untuk keluar dari belenggu politik devide et impera dengan lahirnya Sumpah Pemuda.[7] Jika kita mau mengingat kembali masa itu, kita akan sangat kagum dengan semangat persatuan para pendahulu kita, karena pada tahun 1928, teknologi informasi dan komunikasi belum semaju sekarang. Jika Indonesia pada saat itu bisa bersatu, hal itu murni karena semangat persatuan yang luar biasa. Jika pada tahun 1928, para pemuda dan pemudi Indonesia bisa berbuat seperti itu, mengapa pada tahun 2017, kita justru masih berjuang untuk mengalahkan politik devide et impera yang dilakukan oleh oknum-oknum yang anti persatuan?

    Kita seharusnya bisa lebih bersatu karena teknologi informasi dan komunikasi sangat memudahkan proses komunikasi, jangan sampai teknologi yang maju justru malah menjadi alat politik devide et impera dengan keberadaan hoax dan ujaran kebencian via media sosial. Jika pada zaman dahulu, Indonesia bisa bersatu dalam Sumpah Pemuda dan mengusir penjajah, mengapa sekarang Indonesia justru harus mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain yang dulunya belajar dari Indonesia?

    Revolusi Mental dari Presiden Joko Widodo merupakan jalan untuk mengingatkan kembali sejarah kejayaan Indonesia tersebut, ingatlah akan kemampuan Indonesia mengusir penjajah dengan darah, keringat dan persatuan! Ingatlah akan persaudaraan bersama dalam Sumpah Pemuda, yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia dalam satu perjuangan bersama untuk harkat dan martabat sebagai bangsa Indonesia! Ingatlah pengorbanan para Pahlawan, yang gugur mulia dengan harapan generasi-generasi selanjutnya dapat terus berjuang dalam cara-cara yang berbeda sesuai dengan perkembangan zaman untuk Indonesia.

    Mungkin yang membuat Indonesia tertinggal adalah ketika kita lupa siapa diri kita, lupa bahwa kita adalah bangsa yang hebat, bangsa yang kuat, bangsa yang bermoral dan pekerja keras. Pancasila mengingatkan kita kembali tentang semua itu. Dalam beberapa saat terakhir, Indonesia mengalami perdebatan internal tentang persatuan dan kebhinekaan. Ingatlah bahwa Pancasila dan Bhinekka Tunggal Ika, memanggil kita kembali untuk mengenang bahwa instrumen ini yang memenangkan pertempuran kita melawan penjajahan di masa lalu dan harapannya akan selalu mempersatukan bangsa Indonesia sekarang dan di masa depan.

    Ingatlah bahwa dengan Pancasila dan Bhinekka Tunggal Ika, kita dikagumi oleh bangsa-bangsa lain sebagai bangsa yang sukses mengusir penjajah, mempersatukan masyarakat yang sangat beragam, multi agama, etnis dan budaya serta menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa lain yang memiliki karakteristik yang sama. Ingatlah! Jika kita bisa menjiwai Pancasila dan Bhinekka Tunggal Ika, kita bisa menjalankan semua aspek kehidupan dengan kompas moral yang tinggi dan meritokrasi.

    Presiden Joko Widodo sudah mulai memperkenalkan meritrokrasi dalam jajaran para Menterinya, kita bisa melihat contohnya dalam terpilihnya pakar ekonomi Indonesia yang berhasil menembus kancah internasional, Ibu Sri Mulyani sebagai Menteri Ekonomi. Meritokrasi menjamin bahwa pemimpin yang diberi mandat benar-benar memiliki kualifikasi untuk mengemban mandat tersebut. Jika pemimpinnya adalah yang terbaik dari yang terbaik, niscaya, kebijakan-kebijakan yang dibuat akan sesuai dengan kebutuhan bangsa dan bisa membawa bangsa Indonesia ke masa depan yang lebih baik. Sistem meritokrasi senantiasa mencari insan-insan terbaik untuk menduduki jabatan tertinggi dengan harapan, hanya yang terbaik yang akan memahami dan mengerti langkah-langkah apa yang harus diambil untuk menjalankan tugasnya dalam membawa bangsa Indonesia ke kehidupan yang lebih maju.

    Pemilihan berdasarkan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) merupakan musuh utama dari sistem meritokrasi karena secara nilai, kedua bentuk pemilihan ini sangat kontradiktif. Pemberian jabatan berdasarkan KKN tidak akan membawa bangsa Indonesia menjadi lebih maju, yang ada hanyalah membawa kita mundur berabad-abad ke belakang. Hal ini dikarenakan, pihak yang menjabat tidak memiliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaannya dengan baik, bayangkan jika kita mengendarai pesawat dimana yang menjalankan pesawat tersebut bukanlah pilot atau pilot yang tidak memiliki pengalaman kerja yang layak, dijamin pasti kita tidak akan sampai ke tujuan.

    Berdasarkan analisis di atas, Indonesia memiliki modal dasar yang kuat untuk (kembali) menjadi Macan Asia yaitu sumber daya manusia dan alam yang melimpah, marilah kita semua membantu Presiden Joko Widodo untuk menyukseskan Revolusi Mental dengan revitalisasi Pancasila. Karena mengabdikan diri kepada Negara merupakan sebuah kehormatan. Salam Pancasila!

    #JokowiUntukIndonesia


    Penulis :   Juwita    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pancasila dan Revolusi Mental: Indonesia (Kembali) Menjadi Macan Asia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top