728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 04 Juni 2017

    Pakde Jokowi Semakin di Depan

    Setelah sebelumnya saya membahas kinerja dan kelebihan Pakde Jokowi, kini saatnya saya membicarakan kekurangan Pakde. Iya, banyak sekali menurut saya kekurangan Pakde Jokowi. Salah satunya adalah kurang toleransi untuk para perusuh di negeri ini. Tamparan paling terbaru Pakde adalah pernyataannya bahwa tidak diperkenankannya tindakan persekusi. Ya, Pakde benar-benar telah memukul mereka yang semena-mena melakukan tindakan tersebut.

    Saya mengamati kinerja Pakde belakangan ini. Di mata saya, Pakde merupakan sosok yang tidak memiliki toleransi kepada mereka yang mengganggu ketentraman negaranya. Sungguh sosok yang sangat dibenci oleh mereka yang ingin membuat onar di negeri ini. Selain itu, Pakde yang tidak bertoleransi, memasang wajah senyum kepada mereka yang tertampar keras oleh sikapnya. Terutama Ormas yang selama ini bertindak sesukanya–merasakan senyuman itu sebagai tamparan keras.

    Pakde menunjukkan sikap yang tidak memiliki ampun, salah satunya soal hukum. Pakde menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Menteri dan pejabat yang tidak bekerja dengan baik, langsung digantikan. Misalnya saja pada menteri pendidikan yang telah susah payah menyempurnakan kurikulum 2013, tetapi karena dianggap gagal, maka digantikan oleh orang lain yang dianggap Pakde lebih berkompetensi. Penggantian ini tentunya sudah dipertimbangkan oleh Pakde, dan tentu ekspektasi Pakde agar pendidikan di Indonesia lebih baik.

    Sebagian orang tentu memandang tindakan Pakde suatu hal yang kejam, terlebih mengganti menteri pendidikan saat itu. Akan tetapi, semua itu dilakukan Pakde demi negerinya tercinta. Sikap kejam yang dianggap sebagian orang, dianggap angin lalu oleh Pakde Jokowi. Seperti yang selama ini gencar dilakukan oleh Pakde yaitu, lebih banyak bekerja, daripada hanya berbicara. Pakde mengajarkan kepada generasi muda, bahwa kesuksesan itu tidak bisa diraih hanya dengan berbicara, melainkan memerlukan tindakan nyata.

    Kekejaman Pakde ini kemudian dianggap sebagian orang yang tidak menyukainya sebagai ciri dari PKI. Saya sempat dibuat tertawa dengan isu murahan ini. Isu ini merupakan isu pasar yang bisa dibuat siapa saja, dan kapan saja. Kalau mereka mempelajari sejarah, apakah PKI itu seperti Pakde Jokowi? Apa mereka pernah membaca sejarah PKI dengan benar? Saya rasa mereka hanya ikut-ikutan saja. Di Indonesia, siapa yang memiliki peran besar, maka ideologinya akan diikuti dan dianggap benar oleh pengikutnya. Mereka yang memiliki kelompok kecil, benarnya saja dianggap salah, apalagi salahnya, pasti sudah dirundung oleh sebagian orang Indonesia.

    Cara sekelompok orang untuk memakzulkan Pakde dari jabatannya terbilang bermacam-macam. Mulai dari isu kelas murahan, hingga isu yang diobral layaknya di pasar loak.  Bagi saya pribadi, isu PKI adalah isu yang dibuat anak-anak dalam mengejek temannya. Tentu isu ini tidak akan mampu memakzulkan Pakde dari jabatannya. Masyarakat yang merasakan kinerja Pakde, pasti mengabaikan isu ini, dan menganggap ini hanyalah sebuah angin lalu.

    Cara murahan ini dilakukan oleh lawan politik Pakde. Istilah belum move on rasanya pantas kita sematkan kepada lawan politik Pakde yang sampai saat ini masih mencari cara menjatuhkan Pakde. Lucu rasanya, pemilu sudah berlalu sekian tahun, tetapi mereka yang sakit hati karena jagoannya kalah, merasa dendam. Dendam ini yang kemudian membuat mereka melakukan segala cara, padahal dalam agama jelas dilarang. Isu murahan diangkat ke permukaan. Isu yang tidak berdasar, dan tidak pantas dibaca, mulai diviralkan di berbagai media.

    Pakde pun hanya membalas dengan senyuman. Senyuman Pakde ini memiliki makna implisit menurut saya. Bagaimana tidak, Pakde sama sekali tidak goyah dengan isu PKI atau isu dirinya non-muslim. Orang yang membuat isu ini, tentunya geram dengan senyuman Pakde. Terlebih lagi, sikap Pakde semakin terlihat mesra dengan rakyatnya. Pakde mengundang beberapa anggota PPSU untuk mampir ke istana, sedangkan si pembuat onar yang hobi menyerukan isu, diabaikan begitu saja.

    Sebenarnya si pembuat onar mungkin saja mencari perhatian Pakde. Ya, bisa saja menurut saya demikian. Isu murahan dibuat diberbagai media massa. Kemudian kelompok ini membagikan berita tersebut ke berbagai pihak. Masyarakat awam yang masih sakit hati, karena jagoannya dikalahkan oleh Pakde, tentu tidak mencerna lagi berita tersebut. Hal ini yang menjadikan kebodohan yang bertumpuk karena tindakan orang yang tidak bertanggung jawab. Siapa yang dirugikan? Tentunya masyarakat yang tidak menelaah berita tersebut. Si pembuat berita, pasti kecewa karena Pakde masih bisa tertawa bahagia.

    Masyarakat saat ini bukanlah sekelompok orang yang hidup bergerombol. Sudah seharusnya masyarakat menjadi sekumpulan manusia yang berpikir, dan mencerna semua informasi. Diera modernisasi, peranan media semakin besar terhadap penyebaran berita. Seyogyanya pemerintah menyaring berita dan menindak tegas penyebar isu murahan bernada provokasi. Sebagai contoh langkah preventif yang diambil Pakde, bahwa seseorang kini harus lebih memperhatikan jika menulis di media sosial. Betapa pedulinya Pakde terhadap kondisi masyarakat saat ini. Di balik wajahnya yang selalu tersenyum, terdapat keprihatinan yang luar biasa dari seorang Jokowi terhadap bangsa Indonesia.

    Semoga Pakde tidak pernah lelah memberikan kebahagiaan kepada generasi muda. Saya pikir, hanya Pakde yang mampu berinteraksi dengan masyarakat biasa tanpa rekayasa. Anak-anak kecil tertawa bersama dengan Pakde. Pekerja yang berbakti kepada negara diundang ke istana oleh Pakde. Penulis muda yang coba menyuarakan keragamaan, tidak lupa diundang untuk makan bersama Pakde. Sikap Pakde yang seperti ini, kemudian menumbangkan semua lawan politiknya. Ya, sederhana memang, hanya menebar senyuman, lalu semua luluh di hadapan Pakde. Akan tetapi, Pakde tidak hanya tersenyum. Kinerja yang dilakukannya berbanding dengan senyuman khasnya.

    Senyuman ini membuat Pakde semakin di depan. Bukan hanya untuk tahun ini, elektabilitas Pakde Jokowi akan selalu melebihi lawan politiknya nanti. Karena pemimpin yang dipilih rakyat, bukanlah yang selalu menyajikan tindakan tidak terpuji. Kesantunan Pakde dalam berbicara, kecintaan Pakde terhadap budaya dan bahasa, mampu membuat Pakde memiliki pesona di mata pencintanya. Hanya Pakde yang memiliki sifat negarawan sejati, tanpa menunjukkan taji yang anarki. Bagi saya seorang pembelajar dan pengajar, Pakde mengajarkan satu hal kepada saya, yaitu: kejujuran itu suatu hal yang mahal, tidak peduli pandangan orang lain yang tidak suka. Karena kejujuran bermuara kepada kemakmuran bersama. Saya akan selalu belajar dari sikap Pakde yang murah senyum, jujur, dan selalu merakyat (tanpa rekayasa).


    Penulis : Syihaabul Hudaa    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pakde Jokowi Semakin di Depan Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top