728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 16 Juni 2017

    Pak Jokowi, Mana Revolusi Mental di Dunia Pendidikan (2) ?

    Membicarakan Pendidikan Indonesia tidak ada habisnya. Jika Kementerian lain ibarat berbentuk persegi, maka Kementerian Pendidikan dan kebudayaan berbentuk heksagonal. Kemdikbud malah diibaratkan gajah yang sudah kegendutan. Lebih sibuk mencari cara menghidupi diri sendiri ketimbang bergerak. Begitu komentar dari para rekan penulis seword yang sempat berdikusi lewat WA tadi pagi.

    Dalam realita Pendidikan, kita terlalu sering mendengar para guru (honorer) mengeluh, para siswa mengeluh, para pegawai Kemdikbud dan Dinas Pendidikan bermasalah.

    Seringnya program Kemdikbud tidak smooth dalam pelaksanaan, mungkin karena yang “punya sekolah” itu Pemerintah Propinsi, Pemerintah Daerah, bukan Kemdikbud. Sementara Pemda dan Pemprov itu berurusan dengan Kementerian Dalam Negeri, bukan dengan Kemdikbud.

    Koordonasi struktural “yang tidak nyambung” pada akhirnya bisa membuat para orangtua tidak puas, para civitas akademika tidak puas, dan masyarakat juga tidak puas pada pelayanan pendidikan. Lalu mana revolusi mental dalam dunia pendidikan Indonesia?

    Uneg-uneg ini sempat saya bagikan ke teman-teman penulis Seword. Thanks tuk Erika Ebener, Eugenius Mario, Oni Suryaman, Nurdiani Latifah, Rudi Wijaya dan lain-lain yang lewat WA mau urun rembuk memikirkan mau kemana Pendidikan Indonesia, termasuk Program 5 hari Sekolah.

    Berbusa-busa kita sudah bicara dan sampai pegal mengetik untuk posting ide demi perbaikan Pendidikan Indonesia. Lingkaran setan yang membelit SDM Guru, Kurikulum yang gonta ganti, Sarana dan Prasarana, Program Akselerasi yang dihambat, dan seterusnya. Kok seperti rakyat menggonggong, Mendikbud  dan Presiden tetap berlalu.

    Kemdukbud yang diguyut dana trilyunan rupiah ternyata tidak juga mampu membereskan masalah pendidikan. Jika dihitung sudah ada 29 orang hebat yang menjadi Menteri Pendidikan di Indonesia. Mulai dari Ki Hajar Dewantoro sampai yang sekarang Muhadjir Effendy tetapi masalah pendidikan formal, nonformal, informal Indonesia kelihatannya tidak pernah “naik kelas”.

    Kapan Pendidikan Indonesia “Naik Kelas”

    Perbandingannya adalah proses dan output pendidikan Indonesia dengan negara tetangga, Singapura dan Malaysia. Tahun 1990an, banyak siswa Malaysia belajar di kampus-kampus PTN di Indonesia. Sekarang, banyak siswa Indonesia memilih sekolah dan kuliah di Malaysia dan Singapura (dan negara-negara maju lainnya).

    Perbaikan di sektor pendidikan Indonesia mungkin ada di sana sini, tetapi tidak signifikan. Kualitas pendidikan, secara rata-rata, masih kurang; sehingga, banyak orangtua “nekad” mencari solusi semampunya.

    Dari pada hanya ngomel-ngomel dengan kualitas dan pelayanan sekolah formal, maka saya harus bertindak demi anak-anak saya. Tidak bisa menggantungkan diri pada lembaga pendidikan (formal) termasuk para guru 100%.

    Solusi saya, Homeschooling Komunitas.

    Sebagai mana mayoritas orangtua, awalnya saya memilih jalur formal untuk menyekolahkan anak-anak saya di sekolah formal yang bagus (maksudnya bagus Uang Pangkal dan SPP-nya).

    Namun mulai dari kelas 1 sampai 4 di SD formal kenyataannya tidak seperti harapan saya.

    Pulang sekolah sudah capek, tetapi anak mesti mengerjakan PR bertumpuk, termasuk tugas kerajinan tangan yang akhirnya orangtua mesti turun tangan, Belum lagi ekskul yang menghabiskan biaya dan waktu istirahat anak, seperti wajib berenang, wajib latihan untuk lomba O2SN, O2N dan lain-lain. Di satu sisi, tujuannya baik termasuk mengharumkan nama sekolah tetapi ujung-ujungnya menjadi beban tambahan buat anak dan orangtua.

    Bersekolah (formal) bisa menjadi ajang bullying, baik terbuka maupun tertutup. Bahkan secara ekstrim, sekolah formal sering abai pada pendidikan karakter. Anak jujur dan tidak mau nyontek, dimusuhi. Pendidikan agama Kristen, Katholik, Hindu, Budha diabaikan di banyak SD SMP SMA SMK negri. Lalu apakah orangtua cuma pasrah?

    Singkat cerita, saya memindahkan anak-anak ke jalur pendidikan kesetaraan. Buat yang belum tahu, pendidikan kesetaraan atau dikenal dengan homeschooling adalah resmi di bawah supervisi Dinas Pendidikan. Ada Ujian Sekolah, Ujian Nasional, dan Ijazah dari Kemdikbud resmi.

    Jadi saya bersama beberapa orangtua lain, membuka  MercySmart Homeschooling komunitas (bukan homeschooling tunggal) sebagai solusi anak-anak kami untuk menuntaskan wajib  belajar 12 tahun. Dan di tahun ke-10 menjalani homeschooling komunitas, saya bersyukur karena hasilnya  melebihi ekspektasi saya. Yang ingin tahu lebih banyak, silakan mampir ke www.mercysmart.id.

    Ice-cream party dulu sebelum Ujian Akhir Semester di MercySmart Homeschooling Komunitas

    Orangtua Wajib Berperan

    Di MercySmart Komunitas, pelajaran Agama, Olahraga, Seni Budaya adalah tanggung jawab mutlak orang tua. Belajar Agama, berolahraga, dan seni budaya adalah porsi Orang tua sebagai Guru Utama anaknya, sekaligus menjadi family-time.

    Karena itu, isu kalau homeschooling tidak bersosialisasi jelas terbantahkan. Dengan aktif dalam pelajaran dan praktek Agama, Olah Raga, Seni dan Budaya pasti melibatkan komunitas dengan berbagai usia dan latar belakang pendidikan. Itulah sosialisasi yang sebenarnya, bukan anak dikurung di kelas untuk bergaul dengan teman yang itu-itu saja.

    Demikian juga isu kalau anak homeschooling tidak berprestasi. Karena fokus mereka di bidang minat dan bakat, mereka berprestasi di bidang non-akademis. Bahkan kebanyakan anak-anak homeschooling sudah menjadi entrepreneur cilik, walau buat orangtuanya –jika anaknya bisa menghasilkan uang dan prestasi– itu bonus, bukan  tujuan. Karena tujuan ortu untuk pindah jalur homeschooling adalah mengasah kemampuan dan kapabilitas sejak dini.

    Di sisi sebaliknya, homeschooling komunitas memang tidak menjadikan NEM tinggi-tinggi sekali menjadi target pembelajaran. Karena tidak semua anak dikaruniai kecerdasan intelektual. Walaupun buktinya ada alumni MercySmart Homeschooling yang cerdas, layak akselerasi, bahkan tembus SMBPTN Seleksi Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri. Ada yang usia 14 sudah lulus setara SMA dan menjadi mahasiswa termuda se-dunia. Saat ini, mereka masih kuliah dengan IP lebih dari 3,0.

    Homeschooling komunitas menitikberatkan pada minat dan bakat anak. Karena hare gene, mau tunggu lulus SMA baru mengasah minat dan bakat? Hadeeuh ketinggalan bos. Sejak dini, anak yang punya bakat seni dan olahraga serta bakat programmer computer, bakat membuat film, diberi porsi banyak untuk belajar dan berlatih.


    Kemdikbud Dukunglah Homeschooling

    Jadi tidak heran,untuk mengerjakan kurikulum pendidikan yang ujungnya ada Ujian Nasional Kemdikbud, buat banyak siswa homeschooling tidak lebih penting daripada menggali bakat dan minatnya.
    Dari sudut pandang itu, mungkin revolusi pendidikan Indonesia bisa mulai terbukti. Pendidikan Indonesia mulai memberi porsi perhatian sesuai minat dan bakat siswa.

    Karena itu, Pak Presiden, Pak Mendikbud tolong dukung para orangtua yang punya kemauan dan waktu untuk menjalankan pendidikan homeschooling.

    Jangan paksa anak-anak kami yang memang usia sekolah, harus masuk ke sekolah formal. Karena terus terang kami masih berpikir antara input dan output sekolah formal tidak seimbang.

    Cabut Permendiknas no 57 Tahun 2015 Pasal 25  yang “merendahkan” kemampuan anak-anak jalur kesetaraan. Panggil Badan Standar Nasional Pendidikan yang malah ngotot membatasi anak-anak homeschooling dan jalur kesetaraan mengikuti program akselerasi.

    Selama 10 tahun menjadi penggiat pendidikan, saya bisa katakan mayoritas siswa memilih homeschooling,  bukan karena tidak mampu bersaing di sekolah “tempat penitipan anak formal” tetapi karena mereka dan orangtuanya cerdas untuk menyiasati waktunya dan memilih “jalan tol pendidikan Indonesia”

    Bersambung ke Presiden Jokowi, Mana Revolusi Mental di Dunia Pendidikan (3) ?



    Penulis   :  Mercy Sihombing   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Pak Jokowi, Mana Revolusi Mental di Dunia Pendidikan (2) ? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top