728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 05 Juni 2017

    Orang Pintar Mengisi Hidup dengan Berkarya, Orang Bodoh Sibuk Mencela

    Sebuah kalimat cantik melintas di timeline Facebook saya, ternyata itu adalah status dari akun budiman_hakim yang dibagikan ulang oleh Addie MS. Langsung saja saya teringat Pak Jokowi. Memang begitulah orang pintar, ia akan memanfaatkan sumberdaya dan waktu yang ia miliki untuk berkarya. Menghasilkan sesuatu yang berguna, sementara mereka yang bodoh hanya bisa mencela karena hanya itu kemampuannya.

    Sudah banyak cerita-certa bagaimana cerdasnya Jokowi dalam menyusun strategi untuk mengalahkan lawan-lawannya. Orang menyebutkan langkah kuda, mengibaratkan langkah-langkah tidak terduga dari Pak Jokowi seperti dalam permainan catur. Sebenarnya kepintarannya-lah yang membuat hingga hari ini beliau masih Presiden padahal dulu ada yang sesumbar bahwa Jokowi tidak akan bertahan lebih dari setahun.

    Setelah saya pelajari lebih seksama, Pak Jokowi bukan hanya pintar bermain catur tapi juga dalam menyusun strategi pembangunan untuk mengejar ketertinggalan. Ia merancang strategi tersebut dengan baik lalu menempatkan orang-orang yang tepat supaya tujuannya bisa tercapai.

    Pernahkah kita berpikir apa yang akan kita lakukan 30 tahun kedepan? Kemungkinan kita akan kebingungan menjawabnya. Perlu kecerdasan dan pengetahuan yang mendalam untuk bisa menyusun sebuah rencana jangka panjang, 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun kedepan. Seperti seorang CEO yang dengan insting serta pengetahuannya mampu menentukan kemana perusahaan akan bergerak dalam 5 hingga 10 tahun kedepan. Jika ia salah menentukannya maka perusahaan akan terancam bangkrut.

    Strategi besar pembangunan yang dirancang oleh Jokowi diyakini akan membawa Indonesia ke puncak kejayaan pada tahun 2045. Tahapannya ia bagi menjadi tiga tahap yaitu tahap membangun pondasi, tahap pembangunan industri pengolahan dan tahap pembangunan industri jasa.

    Tahap membangun pondasi inilah yang sedang ia fokuskan sekarang melalui pembangunan infrastruktur secara besar-besaran. Indonesia selama ini tertinggal dalam pembangunan infrastruktur dan pengaruhnya bisa berdampak ke berbagai sektor karena infrastruktur adalah dasarnya. Ibarat ingin membuat pabrik yang bisa menghasilkan profit, tentu yang harus pertama kali ada adalah infrastruktur pabrik tersebut termasuk akses jalan, listrik dan air.

    Ini mirip seperti main game Sim City, dimana pada game tersebut pemain bertindak seperti Gubernur yang membuka lahan agar kotanya berkembang. Untuk itu si pemain harus membangun jalan yang menghubungkan dengan kota sebelah, membangun jalan dalam kota, mengaliri listrik dan air, baru nanti perlahan-lahan muncul bangunan-bangunan.

    Tahap pembangunan industri pengolahan. Pada tahap ini tidak adalah lagi barang mentah yang dijual tapi sudah barang jadi yang siap jual dan memberikan nilai tambah.

    “Nanti pada tahapan itu, jangan ada dari kita yang berjualan barang mentah. Semuanya harus minimal barang setengah jadi. Kelapa sawit jangan sampai kita kirimnya CPO terus. Turunannya CPO harus dikerjakan, entah sabun, minyak goreng kosmetik, silakan,” ujar Jokowi.

    “Jagung juga sama. Jangan sampai kita kirim dalam bentuk bahan mentah. Buat makanan, entah makanan ternak atau apa. Semuanya harus masuk ke industri pengolahan seperti itu,” kata dia.

    Tahap terakhir, Indonesia akan fokus pada pembangunan industri jasa. Salah satu sektor yang akan sangat menguntungkan adalah jasa pariwisata.

    Saat ini, pemerintah tengah membangun sejumlah destinasi wisata di Tanah Air. Misalnya Mandalika, NTB; Pulau Komodo, NTT; Kepulauan Seribu, DKI Jakarta; Danau Toba, Sumatera Utara; dan sebagainya.

    “Kekuatan kita di Indonesia ini sebenarnya di industri pariwisata. Anak-anak muda masuklah ke industri ini karena sangat menjanjikan,” ujar Jokowi. (sumber, nasional.kompas.com)

    Dari apa yang dikemukakan oleh Pak Jokowi, kita bisa melihat bagaimana cerdasnya beliau hingga bisa memetakan strategi pembangunan sampai tahun 2045. Pak Jokowi paham apa yang harus dilakukan supaya Indonesia bisa mencapai puncak ke-emasan dalam bidang ekonomi. Jadi yang ia lakukan saat ini adalah meletakkan pondasinya.

    Pak Jokowi membuka akses jalan, listrik dan air. Membuka banyak pelabuhan dan bandara menghubungkan setiap wilayah di Indonesia. Dengan adanya infrastruktur seperti jalan, listrik, air bersih, maka dapat dipastikan daerah-daerah akan berkembang.

    Selanjutnya industri pengolahan dapat berkembang. Selama ini Indonesia selalu menjual bahan mentah yang tidak ada nilai tambahnya seperti rotan. Padahal jika bahan mentah tersebut bisa diolah didalam negeri maka barang jadi tersebut akan menambah keuntungan. Tapi tentunya untuk membangun industri pengolahan maka perlu infrastruktur terlebih dahulu.

    Industri jasa pun akan berkembang karena jalan-jalan baru dibuka, penerbangan baru dibuka karena ada bandara baru, pelabuhan-pelabuhan baru membuka jalur pelayaran baru. Kemudahan akses tentunya akan mendorong juga daerah-daerah tujuan wisata yang sebelum sulit berkembang karena sulit dijangkau akan kebanjiran turis.

    Jadi dengan menggalakkan pembangunan infastruktur, maka selanjutnya akan menunjang perkembangan industri pengolahan dan juga industri pariwisata.

    Jokowi membidik lima sektor penting yaitu pertanian, perikanan dan kelautan, energi, industri, dan pariwisata.

    Beliau dengan cerdasnya mengetahui akar permasalahan pada setiap sektor dan menempatkan orang yang tepat disana. Untuk sektor pertanian, ketersediaan air diatasi melalui irigasi dan waduk, lalu pembangunan embung atau kantong air. Hasilnya terjadi kenaikan produksi karena naiknya luas panen seluas 0,51 juta hektare (3,71%) dan kenaikan produktivitas 1,45 kuintal/ha (2,82%). Di pulau Jawa naik 1,83 juta ton dan di luar Jawa 2,88 juta ton. Produksi padi mencapai 75,55 juta ton gabah kering giling (GKG). Produksi paling tinggi dalam 10 tahun terakhir (sumber, pertanian.go.id).

    Bagaimana perikanan dan kelautan? Rasanya cukup saya jawab dengan “Bu Susi is the answer”. Kita semua tahu bagaimana dulu Bu Susi awalnya dicela barisan sakit hati karena ia hanya lulusan SMP. Tapi buktinya kita bisa lihat sendiri saat ini. Kata “tengggelamkan” menjadi semacam tagline bagi Bu Susi.

    Sektor Energi lagi-lagi kecerdasan Jokowi dari mulai pengangkatan menteri ESDM, pembubaran petral hingga Freeport yang akhirnya mau melepaskan 51% saham miliknya.

    Perkembangan industri menengah dan besar yang meliputi sektor industri logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika (ILMATE); industri kimia, tekstil, dan aneka (IKTA); serta sektor industri agro. Pada periode 2014-2016, sektor ILMATE tumbuh sebanyak 633 unit baik baru maupun perluasan. Total nilai investasinya sebesar Rp75,15 triliun dari PMA dan PMDN dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 85.554 orang.

    Sementara di sektor IKTA, pada periode 2015-2016 sebanyak 890 unit baik baru maupun perluasan. Sedangkan, total nilai investasinya sebesar Rp 235,50 triliun (PMA dan PMDN) dan penyerapan tenaga kerjanya sebanyak 377.646 orang.

    Sektor industri agro, periode 2014-2016, tumbuh sebanyak 66 unit baik baru maupun perluasan.  Total nilai investasinya sebesar Rp72,41 triliun dari PMA dan PMDN. Sedangkan, penyerapan tenaga kerjanya sebanyak 21.502 orang (sumber, setkab.go.id)

    Sektor pariwisata pun meningkat, Jokowi memperkenalkan istilah 10 Bali baru yang menjadi destinasi wisata baru. Sepuluh destinasi yang merupakan wisata prioritas di antaranya Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai (sumber, merdeka.com)

    Presiden Jokowi mengenalkan pendekatan pembangunan yang disebut dengan “Indonesia-Sentris”.  “Indonesia sedang berubah ke arah “Indonesia-Sentris”, bukan hanya “Jawa-Sentris” lagi. Pendekatan Indonesia-Sentris ini dapat dianggap sebagai terjemahan pemerintah atas tidak meratanya kesejahteraan di Indonesia terutama antara Jawa dan luar Jawa. Pendekatan ini menjelaskan bagaimana  orientasi pembangunan Jawa-Sentris telah mengakibatkan ketidakadilan, kesenjangan,  kemiskinan dan ketimpangan di beberapa daerah seperti di Papua.  Presiden Jokowi mau memulai revolusi  membenahi warisan praktek pembangunan warisan pemerintahan lama (sumber, ksp.go.id)

    Konsep Indonesia Sentris adalah koreksi terhadap pembangunan yang sebelumnya tidak merata. Di tangan Presiden Jokowi, semua hal-hal rumit dari warisan masa lalu berhasil diurai dan diterjemahkan secara tepat lalu dijawab melalui berbagai kebijakan dan program kontekstual. Inilah modal dasar untuk memaknai kembali kebangkitan nasional di era baru Indonesia.

        Konsep “Indonesia Sentris” sangat erat kaitannya dengan makna kebangkitan nasional yang harus terus menjadi semangat dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat (sumber, presidenri.go.id)

    Kita dapat melihat bagaimana Jokowi dengan cerdasnya mengatur strategi pembangunan dan menjalankannya untuk mencapai puncak keemasan ekonomi Indonesia. Ia melihat bahwa infrastruktur sebagai dasar untuk menjalankan mesin-mesin penggerak roda ekonomi bangsa. Selanjutnya perlahan-lahan industri pengolahan dan pariwisata akan menjadi tambang emas bagi Indonesia kelak.

    Saat ini pun hasil dari pembangunan infrastruktur keseluruh pelosok Indonesia terlihat mulai memberikan dampak positif bagi industri-industri lainnya. Jadi kita bisa berkesimpulan bahwa apa yang dilakukan Jokowi selama ini sudah benar.

    Begitulah orang pintar, ia akan asik berkarya sementara pembencinya hanya akan terus mencela dan mencela. Lucunya mereka mencela sambil menikmati juga karya-karya Pak Jokowi. Tapi tentu Pak Jokowi pun ikhlas-ikhlas saja mereka menikmati hasil kerja keras beliau karena bagi Pak Jokowi mereka masih tetap rakyat Indonesia.

    Lagi pula Jokowi itu lulusan UGM, salah satu dari 3 perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dua lainnya adalah UI dan ITB, tentu kepintarannya tidak perlu diragukan lagi. Bahkan yang mencelanya pun belum tentu bisa lolos seleksi masuk salah satu dari tiga perguruan tinggi tadi.

    Meski pintar beliau tetap rendah hati dan hidup dalam kesederhanaan. Itulah kenapa orang yang cuma bisa menilai dari penampilan akan salah sangka, mereka pikir Pak Jokowi bodoh, dan tidak tegas padahal sebaliknya. Ah Pak De, semakin saya mengenal bapak semakin cinta sama bapak. Dan semakin yakin Indonesia ini dipimpin oleh orang yang tepat.

    Sehat selalu Pak Jokowi, jangan lupa istirahat.



    Begitulah kelelawar


    Penulis :  Gusti Yusuf    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Orang Pintar Mengisi Hidup dengan Berkarya, Orang Bodoh Sibuk Mencela Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top