728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 04 Juni 2017

    Nyinyir Anies Di Bulan Ramadan: ‘Republik Bukan Didirikan Pelayan’, Batalkah?

    Semakin dekat dengan pelantikannya, Anies semakin tidak tahan untuk tidak mengejek dan menyindir kinerja Pemprov selama ini yang dibangun oleh Pak Ahok. Seolah-olah dengan modal 58 persen warga Jakarta yang memilihnya, ia merasa di atas angin.

    Harus kita akui bahwa angka 58% merupakan angka fantastis yang diperoleh pasangan Anies Sandi, bahkan melebihi Joko Widodo. Namun rasanya tidak pantas jika di bulan suci Ramadan, Anies nyinyir. Setahu saya, di bulan puasa ini manusia bukan hanya menahan godaan dari lapar.

    Makna bulan puasa lebih sekadar dari menahan lapar. Jika hanya sebatas menahan lapar, tentu orang-orang yang kelaparan dan tidak mampu di Afrika dan beberapa lokasi di Indonesia lah yang menjadi pemegang kunci sorga.

    Seharusnya Anies tahu bahwa di dalam bulan suci Ramadan ini, ia harus memaknai puasa dengan konsep yang lebih dalam, yaitu menahan diri dari godaan kata-kata. Gusti ora sare, tapi Gusti mungkin sedang mendiamkan Jakarta. Inilah yang sangat ditakutkan, diamnya Tuhan di dalam kota Jakarta.

    Ada lagu yang menurut saya cukup baik di dalam memaknai bulan puasa ini. Terkhusus untuk Anies yang sempat nyinyir di bulan suci Ramadan ini.



        Jagalah Hati – Snada

        Jagalah hati, jangan kau kotori, jagalah hati, lentera hidup ini.
        Jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati, cahaya Ilahi.
        Bila hati kian bersih pikiran pun akan jernih. Semangat hidup nan gigih, prestasi mudah diraih.
        Namun bila hati keruh, batin selalu gemuruh, seakan dikejar musuh, dengan Allah kian jauh.
        Bila hati kian suci tak ada yang tersakiti. Pribadi menawan hati, dirimu disegani.
        Namun bila hati busuk, pikiran jahat merasuk. Akhlak kian terpuruk, jadi makhluk terkutuk.
        Bila hati kian lapang, hidup sempit terasa senang. Walau kesulitan datang, dihadapi dengan tenang.
        Tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit.
        Terasa terus menghimpit, lahir batin terasa sakit.





    Jika kita melihat lirik yang diciptakan oleh AA Gym ini, sungguh sangat cocok untuk Anies dan AA Gym sendiri. Anies dan AA Gym sekarang ada di dalam satu kelompok. Mereka yang sedang kepanasan karena keberadaan Ahok, lagi-lagi sulit untuk menjaga hati. Melihat nyinyiran Anies kepada pemprov DKI Jakarta, tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa Anies kian terpuruk untuk menjaga hati.

    Bahkan di bulan suci Ramadan pun, nyinyiran Anies tetap terdengar, tidak berbeda dengan bulan-bulan lainnya.  Anies menyatakan komitmennya untuk menjalankan pendekatan ‘gerakan’ ketika ia resmi memimpin Jakarta. Entah apa yang dimaksud dengan pendekatan ‘gerakan’. Mungkin Tuhan saja yang tahu, karena rasa-rasanya Anies pun tidak tahu apa yang ia bicarakan.

    “Republik ini tidak pernah didirikan oleh para pelayan. Republik ini dibangun oleh para penggerak. Orang yang datang menggerakkan warganya untuk membereskan masalah. Itu spirit gerakan,” kata Anies.

    Retorika murni yang tidak mendasar menjadi ciri khas dari Anies. Selama ini kita mengenal bahwa Anies memiliki sifat inkonsisten. Namun harus saya akui bahwa Anies konsisten di dalam satu hal, yakni retoris. Ia menyatakan bahwa apa yang dipaparkan sudah pernah diterapkan saat menjadi Mendikbud.

    Anies mencontohkan beberapa hal yang dilaksanakannya, yaitu Olimpiade Matematika di Malang. Sebelum-sebelumnya Olimpiade berjalan di kota Jakarta, namun Anies melakukan gerakan di kota Malang. Lagi-lagi kita melihat Anies yang belum terbangun dari ketertidurannya di dalam kebodohan masa lalu. Sekarang ia berada di Jakarta, lantas apa yang diucapkan sungguh tidak masuk akal.

    “Itulah yang namanya gerakan. Kami coba lakukan itu di Kota Malang. Peserta Olimpiade tidak menginap di hotel. Ribuan orang menginap di rumah-rumah warga,” kata Anies.

    Maka di dalam kesimpulan akhir, saya mengajak para pembaca Seword untuk mendoakan kota Jakarta. Kota Jakarta akan dipimpin oleh orang seperti Anies, dan rasanya ini bukan suatu kabar baik bagi kita.

    Para pembaca harus tahu bahwa tidak semua orang dari 58% warga Jakarta adalah warga yang menyukai program kerja Anies. Mereka dikondisikan untuk memilih Anies. Saya pun sempat melakukan survey kecil-kecilan di perumahan saya dan beberapa jalanan besar ibu kota Jakarta.

    Pertanyaannya sederhana, “Sewaktu Pilkada kamu pilih pasangan calon apa? Mengapa”. Hal yang mengejutkan saya, dari pemilih Anies Sandi, ternyata hampir 70% memilih dengan alasan yang mirip. Mereka memilih karena “tidak mungkin pilih pasangan lain”.

    Jadi inilah Jakarta yang akan kita hadapi nanti selama 5 tahun. Saya enggan untuk menyalahkan warga yang masih bisa dipengaruhi oleh isu SARA. Namun saya lebih cenderung melihat bahwa ada kemungkinan timses berhasil membawa isu ini ke ibu kota.

    Betul kan yang saya katakan?


    Penulis :  Hysebastian   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Nyinyir Anies Di Bulan Ramadan: ‘Republik Bukan Didirikan Pelayan’, Batalkah? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top