728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 12 Juni 2017

    NU dan Muhammadiyah Harus Waspadai Perkembangan Doktrin Daulah Islamiyah

    Sudah tidak dibantah lagi, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi kaum muslimin dengan jumlah umat yang besar di Indonesia. Sosok seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Achmad Dahlan, Gus Dur, Buya Hamka dan Syafi’i Maarif merupakan panutan dan guru bangsa. Bukan hanya dalam hal spiritual tokoh-tokoh tersebut mumpuni, akan tetapi juga dalam pemahaman kebangsaan.

    Namun, tampaknya keberadaan NU dan Muhammadiyah, belakangan ini makin tergerus oleh masuknya pemahaman baru yang dibawa oleh kalangan intelektual muda yang mengecap pendidikan dari beberapa negara Timur Tengah seperti Mesir dan Yaman.

    Bukti konkret, gerakan Islam lintas negara (Trans-Nasional) yang berniat mendirikan Daulah Islamiyah di Indonesia , telah berkembang jauh hingga pelosok negeri. Perlahan, tapi pasti metode dakwah dengan pola “pendalaman materi” atau “Kajian” telah merebak hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang dimotori oleh para alumni-alumninya.

    Tumbuh suburnya ajaran Islam Baru ini, tidak lepas dari sikap permisif yang dilakukan oleh rezim Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan memberikan izin dan berkembangnya perkumpulan dan persaudaraan Muslim— yang diluar negeri dikenal dengan sebutan Moslem Brotherhood.

    Perkumpulan ini merupakan cikal-bakal berkembangnya Ikhwanul Muslimin di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, Ikhwanul Muslimin berkembang melalui Ikhwanul Tarbiyah yang menjadi tonggak satu partai agama baru dan berdiri pasca reformasi. Partai ini tidak membutuhkan waktu lama untuk menjaring anggota, mengingat para pendirinya merupakan pengajar muda di berbagai kampus ternama di Indonesia, seperti UI, IPB, ITB, Unpad, UGM dan Undip.

    Gerakan Ikhwanul Muslimin ini kemudian, berkembang menjadi dua arus utama yaitu Ikhwan Tarbiyah yang bertugas untuk menebarkan dan menancapkan pemahaman halaqah kepada para simpatisan dan kadernya, lalu berkembang pula Ikhwanul Jidahis organisasi sayap yang jauh lebih radikal, tidak takut mati dan menebar ancaman dengan kekerasan.

    Di Indonesia Ikhwanul Muslimin dideklarasikan pada 1994 dan langsung menyasar generasi muda bangsa di tingkat Tarbiyah (SMA) serta perguruan tinggi melalui pola rekrutmen Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) melalui mekanisme kampus. Pola ini mengadopsi organisasi ekstra kemahasiswaan dalam bidang keagamaan yang telah lebih dulu eksis. Doktrin yang diajarkan—menurut mereka—lebih menitikberatkan pada pemurnian ajaran Islam yang menjadi ciri khas dari paham Wahabi dan Salafi yang dengan mudahnya mengatakan sesuatu hal itu bid’ah (tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW).

    Secara politik , gerakan Ikhwanul Muslimin juga menyasar posisi “wakil rakyat” karena paham demokrasi yang dianut Indonesia relatif lebih permisif dan terbuka, dibandingkan dengan periode kepemimpinan Orde Baru. Tujuan utamanya tetap yaitu mendirikan Daulah Islamiyah atau Negara Islam.

    Kondisi ini berkelindan dengan masuknya, Hizbut Tahrir ke Indonesia (HTI). Hizbut dalam bahasa Arab memiliki makna partai. Organisasi ini punya pola pengkaderan sendiri, sosialiasi dan bertujuan merebut kekuasaan. HTI jelas-jelas tidak menerima ideologi Pancasila dan tidak hormat kepada bendera merah putih. Mereka hanya bersedia tunduk dan hormat pada bendera berlatar hitam atau putih dengan tulisan Laa Illa ha Illallah, Muhammad Rasullah.

    Selain itu HTI juga dengan tegas menolak konsep demokrasi dan lebih menekankan pada paham ke-khalifahan. HTI juga sering memanfaatkan isu-isu struktural melalui media online karena dinilai jauh lebih efektif dan efisien, anti terhadap Amerika Serikat.

    Upaya untuk memperbesar simpatisan HTI adalah dengan menggunakan kendaraan gerakan Dakwah Salafi dan Salafi Sururi yang berkembang pesat dengan bantuan dana langsung dari Arab Saudi serta beberapa negara lainnya. Sasarannya adalah pengajian-pengajian, anak-anak SMA yang ingin memperdalam ilmu agama. Melalui mekanisme ini, jelas pada pendakwah aliran Salafi berupaya untuk merebut basis yang selama ini dikuasai oleh Muhammadiyah.

    Strategi berikutnya adalah penguasaan masjid, setelah melalui berbagai indoktrinasi, kader HTI, Ikhwanul Muslimin dan Salafi berupaya untuk merebut posisi masjid dan pesantren yang selama ini menjadi basis dari NU. Karena para kader HTI dan Ikhwanul Muslimin merupakan kalangan “terdidik”, maka mereka pun menggunakan sarana grup WA untuk menarik simpati dan membuat beberapa situs serta portal khusus untuk melakukan dakwah secara terarah dan struktural. Hal ini lepas dari pengamatan dan pengawasan NU dan Muhammadiyah yang menyebabkan dua organisasi besar pendiri NKRI itu berada jauh dibelakang.

    Oleh karena itu, NU dan Muhammadiyah wajib lebih waspada terhadap perkembangan dan strategi politik yang sedang dimainkan oleh gerakan Islam internasional, apabila ingin tetap setia mengawal NKRI.



    Penulis  :   Kentos Artoko    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: NU dan Muhammadiyah Harus Waspadai Perkembangan Doktrin Daulah Islamiyah Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top