728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 14 Juni 2017

    Narasi Jokowi dan Filosofi Tetesan Air

    Saat Jokowi terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta, saya sedang menjalani masa predeparture trainning di Bali sebagai persiapan studi ke Australia. Saya menyangsikan bahwa Jokowi yang dengan modal mobil ESMKA itu bisa menduduki kursi nomor satu di DKI. DKI Jakarta, bo? Bukan sesuatu yang mudah bagi pendatang dari luar ibukota. Tapi soal nasib seseorang siapa yang dapat membendung, jika Tuhan berkehendak.
    Narasasi Kesuksesan Jokowi

    Keberhasilan Jokowi menggapai kursi nomor satu di DKI Jakarta tak terlepas berbagai narasi keberhasilannya di Kota Solo. Kepemimpinan blusukan, mendukung produk mobil ESMKA, tata kota Solo, hingga kisah meluluhkan hati rakyat yang resisten relokasi dan penataan kota Solo dinilai mampu untuk meluluh kerasnya ibukota. Keberhasilannya pada pada periode pertama melenggangkan langkah Jokowi pada periode kedua Pilkada Walikota Solo dan menghantar Jokowi pada pertarungan Pilkada DKI 2012 yang lalu.

    Dua tahun memimpin Jakarta, nama Jokowi melambung. Digadangkan untuk dicalonkankan menjadi Presiden Republik Indonesia dari Partai Demokrasi Perjuangan. Presiden? What’s? It likes a dream. Ya, itulah perjalanan Jokowi seperti sebuah mimpi. DKI Jakarta hanya menjadi titik transit baginya untuk meraih level kepemimpinan yang lebih tinggi. Tetapi, sebelum hijrah, dengan durasi kemimpinan yang singkat, Jokowi-Ahok memberikan perubahan yang siginifikan di ibukota. Jokowi-Ahok menjadi duet maut yang mampu menyulap Jakarta lebih bersih tertatah baik lingkungan maupun tatanan birokrasi.

    Sebagai contoh, Pasar Tanah Abang yang dikenal garang karena menjadi tempat sarangnya preman-preman berbahaya akhirnya berhasil ditundukan juga. Ini salah satu ujian terbesar Jokowi-Ahok pada waktu itu. Banyak pihak meragukan kemampuan mereka untuk menata Tanah Abang. Lalu mereka membanding-bandingkan Solo dan Jakarta bagaikan langit dan bumi. Masyarakat Solo dengan budaya halus masih bisa ditaklukan tapi tidak dengan Pasar Tanah Abang. Babatu! Keras sekali!
    Jalan Terjal Jokowi Menuju RI 1

    Ketika saya di Australia, suhu politik semakin hangat. Tensi politik semakin tinggi. Jokowi menjadi calon presiden kian kencang. Dukungan kepada Jokowi tidak saja berasal dari partai politik, dukungan dan simpatik mulai berasal dari kalangan masyarakat. Mereka menjadi relawan, bekerja siang dan malam untuk Jokowi.

    Di tengah arus dukungan rakyat Indonesia kepada Jokowi semakin kuat, justeru pernyataan politisi menaikan eskalasi politik dalam negeri. Di tengah keraguan karena pengalaman, kemampuan dan sebagainya, akhirnya  nasib berkata lain. Kursi nomor satu RI pun didudukinya.

    Memang banyak yang kritik. Meragukan kemampuannya. Tapi kemudian ditepis oleh Jokowi dengan berbagai langkah kebijakan yang spektakuler. Konsep Nawa Cita yang menawarkan membangun Indonesia dari pinggiran merupakan kekuatan dan dasar Jokowi untuk membangun negeri ini.
    Jokowi dalam Polarisasi Politik Senayan

    Mendapat dukungan mayoritas rakyat Indonesia pada Pilpres 2014 tidak serta merta memuluskan langkah Jokowi ke istana kepresidenan. Tantangan terberat adalah perserteruan dua kubu politik besar, yakni Koalisi Merah Putih (KMP) versus Koalisasi Indonesia Hebat (KIH). (Baca: Jejak Perseteruan Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih di DPR).

    Situasi politik ini adalah tantangan berat Jokowi pada masa-masa awal-awal menahkodai negeri ini. Langkah berat karena secara komposisi dari aspek kuantitas (jumlah kursi) di DPR RI, Koalisi Indonesia Hebat kalah jauh dari Koalisi Merah Putih. Hal ini dapat menyebabkan pelemahan secara politis pada setiap kebijakan Jokowi-JK. Perseteruan pun tercipta dan terelakan. Berikut beberapa jejak perseteruan KMP dengan KIH, di awal-awal kepemimpinan Jokowi-JK.

    Pertama, Perubahan Mekanisme Pemilihan Pimpinan DPR dan MPR (8 Juli 2014), dengan mengesahkan UU No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3). Ini terjadi sehari sebelum penetapan presiden dan wakil presiden terpilih (9 Juli 2014). Pada UU No. 27 Tahun 2009 Pasal 82 menetapkan pimpinan DPR berasal dari partai pemenang pemilu. Mengacu pada Pileg 2014, maka ketua DPR RI seharusnya PDI Perjuangan sebagai partai pemenang pada Pemilu tersebut. KMP merecoki PDIP dengan Pasal 84 Ayat (1) yang menyatakan bahwa pimpinan DPR terdiri atas satu orang ketua dan empat orang wakil ketua dipilih dari dan oleh anggota DPR. Mengacu pada Pasal ini, maka posisi Ketua DPR raib dari tangan PDIP.

    Kedua, Pengesahan Tata Tertib DPR yang di dalamnya merupakan penjabaran dari UU MD3 (10 September 2014).

    Ketiga, Rancangan Undang-undang tentang Pemilihan Kepala Daerah disahkan menjadi Undang-undang, melalui voting, dan pada saat itu anggota fraksi KIH memilih walkout (25 September 2014).

    Keempat, KMP sukses menggoalkan Setya Novanto sebagai Ketua, wakil ketua masing-masing ditempati oleh Fahri Hamzah (Fraksi PKS), Fadli Zon (Fraksi Gerindra), Taufik Kurniawan (Fraksi PAN), dan Agus Hermanto dari (Fraksi Partai Demokrat). Koalisi KIH mogok dengan cara walkout dari proses pemilihan tersebut (2 Oktober 2014).

    Kelima, Kubu KMP berhasil menempatkan paket yang diusung untuk pimpinan MPR (7 Oktober 2014).

    Keenam, Anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) melakukan aksi banting meja pada rapat paripurna pengesahan nama daftar calon anggota di alat kelengkapan DPR (28 Oktober 2014).

    Ketujuh, KMP menyapu bersi kursi pimpinan di alat kelengkapan DPR. Sebagai wujud protes, KIH membentuk pimpinan DPR tandingan (29 Oktober 2014). Sehari kemudian, pimpinan DPR tandingan menggelar rapat paripurna.
    Kematangan Jokowi dan Filosofi Tetesan Air

    Kekisruhan di Senayan memiliki efek langsung terhadap kinerja Jokowi ke kedepan. Ini menjadi ujian awal sejak Jokowi resmi sebagai presiden Republik Indonesia. Jokowi yang dianggap pendatang baru di panggung politik nasional tampil tenang. Ia tidak tampak dalam jebakan polarisasi politik di Senayan.

    Sikap politik Jokowi yang tenang menjadi misteri bagi publik. Yang tampak perseteruan KMP dengan KIH di Senayan adalah perseteruan antar partai politik pendukung masing-masing calon presiden pada Pilpres 2014. Sehingga yang kita lihat Jokowi berada di tengah-tengah pusaran tersebut tanpa memihak pada salah satu kubu pun.

    Barangkali inilah salah satu kehebatan Jokowi memerankan dirinya. Meskipun ia kader PDIP tetapi ia tidak juga berada di kubu KIH dan langsung berhadap-hadapan dengan kubu KMP. Ia memainkan peran dengan tepat serta melancarkan strategi dengan jitu.

    Maka tak heran keberhasilan Jokowi dalam menjalankan roda pemerintah tidak terlepas dari strategi politik yang dijalankannya. Kematangan berpolitik Jokowi di sejauh ini meningatkan penulis pada sebuah ungkapan kuno berbahasa Latin, “qua cavat lapidem non vi sed saepe cadendo”  atau “water hollows stone not by force, but by frequency of falling” – diterjemahkan bebas demikian, “tetesan air yang terus menerus akan melubangi batu”.

    Bukti ungkapan ini pada kepemimpinan Jokowi adalah terurainya kekuatan Koalisi Merah Putih. KMP yang digadang-gadangkan akan selalu kompak hingga akhir kepemimpinan Jokowi justeru melemah di tengah jalan. Keluarnya PAN dan Golkar memberikan dampak signifikan terhadap peta kekuatan di Senayan. (Baca : Pemerintahan Jokowi Tambah Kuat kalau Golkar Ikut Gabung)

    Realitas politik di atas semakin menggambarkan secara jelas kepemimpinan Jokowi dalam mengelola konflik. Sikap tenang tampak pasif, tetapi sesungguhnya ia bekerja dalam senyap (aktif) – tidak tampak di permukaan.

    Sehingga menakar kinerja Jokowi tidak saja tentang program-program pembangunan yang digelontorkannya, juga tentang kepemimpinannya. Sejauh ini, Jokowi sukses membentuk dirinya sebagai pemimpin setelah melewati gelombang masalah, konflik yang bertebaran di pusaran kekuasaannya. Ini bukti Jokowi bukanlah pemimpin boneka yang kerap dituduhkan selama ini. Ia adalah dirinnya. Dirinya sebagai Jokowi yang memiliki watak dan karakter kepemimpinan yang unik. Sedikit berbicara, banyak bekerja. Memiliki konsistensi pendekatan atau diplomasi politik yang mampu meluluhkan hati para rivalnya. Terbongkarnya bangunan koalisi KMP dengan hengkangnya Golkar dan PAN adalah buktinya.

    Salam Seword, sewot gitu loh…



    Penulis :   Giorgio Babo Moggi    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Narasi Jokowi dan Filosofi Tetesan Air Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top