728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 06 Juni 2017

    MUI Keluarkan Fatwa Medsos, Padahal Wasekjen MUI Rajanya Biang Kerok Tukang Hasut di Twitter

    MUI telah keluarkan fatwa penggunaan media sosial. Setiap umat muslim yang bermuamalah melalui medsos diharamkan untuk melakukan ghibah, fitnah, namimah dan menyebarkan permusuhan.

    Efektifkah fatwa ini? Saya rasa tidak. Wasekjen MUI saja tukang hasut dan sebar kebencian di Twitter. Ibaratnya kalau Guru saja kencingnya ngangkang, murid pun kencing sambil nungging, begitulah kura-kura.

    Mengeluarkan fatwa haram, tapi justru Wasekjen MUI sendiri, Tengku Zukarnain, adalah rajanya biang kerok di media sosial, tukang adu domba dan menyebarkan permusuhan di Twitter sehingga akunnya di blokir Twitter.
    Sela
    Selama masih ada provokator di MUI seperti Tengku Zulkarnain ini yang memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan propaganda, permusuhan dan adu domba, maka jangan harap fatwa itu akan manjur bagi masyarakat.

    Bukan hanya menyebarkan kebencian dan adu domba di media sosial, bahkan ujaran kebencian berupa ancaman pun pernah diucapkannya di acaranya bang Karni Illyas, ILC, bahwa Ahok harus dibunuh, atau dipotong kaki tangannya bersilangan, atau disalib, atau diusir dari negara ini.

    Akibat ulah provokasinya itu, eskalasi kemarahan umat muslim pun memyeruak ke permukaan. Demo nomor togel berseri-seri, perang urat saraf dan caci maki di media-media sosial pun tidak terelakkan lagi. Efeknya bukan hanya merugikan pak Ahok dan keluarganya, akan tetapi juga berkembang luas menjadi tataran konflik horizontal di negara ini.

    Kebencian antar umat beragama di negara ini tidak akan terjadi jika Wasekjen MUI yang terhormat ini tidak dengan sengaja memancing di air keruh dalam kontestasi Pilkada DKI.

    Tengku Zulkarnain juga pernah memposting cuitan di akun Twitter miliknya foto Al-Quran yang dirobek-robek seolah-olah dilakukan oleh pendukung Ahok di Pengadilan Jakarta, padahal foto itu adalah kasus di Malaysia. Maksudnya apa coba?

    Itu masih mending, yang lebih konyol lagi, Tengku Zulkanrnain juga memfatwakan bahwa nomor dua adalah haram hanya lantaran paslon Ahok-Djarot dapat nomor urut dua. Apa kata dunia?

    Ulah Tengku Zainudin ini tidak ada bedanya dengan AA Gatot dan Dimas Kanjeng yang mengaku-ngaku ahli agama tapi melakukan pesta sex gangbang party dan pesta narkoba serta penipuan besar-besaran penggandaan uang sampa-sampai Marwah Daud yang sekolah S3 pun bisa kena tipu mentah-mentah.

    Dengan hasutan-hasutan Tengku Zulkarnain di media sosial, maka fatwa haram MUI adalah langkah yang sia-sia belaka karena justru orang mereka sendiri yang dengan sengaja menciptakan kegaduhan-kegaduhan tetap berlanjut untuk menciptakan polarisasi dalam masyarakat antara si kafir dan non kafir, dajjal dan non dajjal, dan lain sebagainya.

    Prilaku Tengku Zulkarnain di media sosial justru tidak mencerminkan kepribadiannya sebagai seorang MUI. Harusnya sebagai Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnain ini memberi contoh dan suri tauladan yang baik dalam penggunaan media sosial, bukan malah sebaliknya.

    Orang seperti Tengku Zulkarnain ini tidak layak menduduki jabatan sebagai Wasekjen MUI karena memiliki watak provokasi, adu domba dan permusuhan antar sesama. Apa yang telah dilakukan Tengku Zulkarnain membuka mata kita bahwa jabatan yang disandang dalam organisasi keagamaan bukanlah cerminan dari akhlak seseorang.

    Kura-kura begitu.

    ***

    Fatwa MUI Tentang Penggunaan Media Sosial

    1. Dalam bermuamalah dengan sesama, baik di dalam kehidupan riil maupun media sosial, setiap muslim wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu’asyarah bil ma’ruf), persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq) serta mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma’ruf) dan mencegah kemunkaran (al-nahyu ‘an al-munkar).

    2. Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

    3. Senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan, tidak mendorong kekufuran dan kemaksiatan.

    4. Mempererat persaudaraan (ukhuwwah), baik persaudaraan ke-Islaman (ukhuwwah Islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathaniyyah), maupun persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah).

    5. Memperkokoh kerukunan, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antara umat beragama dengan Pemerintah.

    6. Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk:

    7. Melakukan ghibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusuhan.

    8. Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan.

    9. Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup.

    10. Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i.

    11. Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.

    12. Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat hukumnya haram.

    13. Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya haram.

    14. Mencari-cari informasi tentang aib, gosip, kejelekan orang lain atau kelompok hukumnya haram kecuali untuk kepentingan yang dibenarkan secara syar’i.

    15. Memproduksi dan/atau menyebarkan konten/informasi yang bertujuan untuk membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar, membangun opini agar seolah-olah berhasil dan sukses, dan tujuan menyembunyikan kebenaran serta menipu khalayak hukumnya haram.

    16. Menyebarkan konten yang bersifat pribadi ke khalayak, padahal konten tersebut diketahui tidak patut untuk disebarkan ke publik, seperti pose yang mempertontonkan aurat, hukumnya haram.

    17. Aktifitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram. Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.



    Penulis   :   Argo   Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: MUI Keluarkan Fatwa Medsos, Padahal Wasekjen MUI Rajanya Biang Kerok Tukang Hasut di Twitter Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top