728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 06 Juni 2017

    Muallaf Pancasila dan Muallaf Bela Agama

    Baru-baru ini beredar banyak sekali postingan via WA yang mempertanyakan soal gempita “Saya Pancasila” memenuhi lini masa. Di antara yang paling mengusik perhatian saya adalah tulisan dari Hersubeno Arief yang menyebut fenomena ini sebagai Muallaf Pancasila. Begini dia menulis: (selengkapnya https://m.kumparan.com/hersubeno-arief/selamat-datang-para-mualaf-pancasila-marhaban)

    “Fenomena ini juga belakangan sangat terasa dari perilaku para “mualaf” Pancasila. Mereka menilai orang lain tidak Pancasilais. Bagi yang paham sebuah proses “keimanan” tahapan seperti ini sesungguhnya biasa saja. Cukup disambut dengan senyum dikulum. Biarkan proses alam berlangsung dan tinggal menunggu sampai berapa lama mereka bertahan.”

    Lebih tegas lagi ia menulis; “Mereka mengaku Pancasilais hanya untuk kepentingan politis. Hanya untuk memenangkan pilkada atau mungkin pilpres. Pola hidup dan perilakunya sungguh jauh dari nilai-nilai Pancasila.”

    Saya tidak tau yg dimaksud dengan mereka ini siapa? Apakah kita-kita yang menyambut seruan Pemerintah dalam rangka Pekan Pancasila lalu rame-rame memasang pofil picture dengan gambar diri berdampingan dengan lambang negara bertulis, saya indonesia, saya pancasila?

    Euforia tidak selamanya negatif


    Katakanlah silent majority yg memasang tagar “saya pancasila” ini bentuk euforia menyambut ajakan pemerintah merayakan hari kelahiran pancasila, lalu apa salah? Bahkan saya melihat secara kontekstual ini bukan bentuk euforia tetapi jihad kebangsaan karena belakangan begitu marak faham radikal dan fakta-fakta ancaman ISIS juga Ormas Islam yang terang-terangan ingin mengubah dasar negara kita.

    Jadi, euforia ini bukan hanya menyambut kelahiran Pancasila tetapi lebih dari itu, penegasan sikap kita kepada mereka yang mau mengubah dasar negara. Katakanlah perayaan ini sebagai bentuk perlawanan dan bangkitnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga pancasila sebagai pemersatu bangsa dari rongrongan orang yg selama ini gemar teriak anti pancasila.

    Bila ini difahami sebagai bentuk kecil dari aksi bela negara mengapa harus nyinyir menyebut kami sebagai Muallaf Pancasila?

    Lalu bagaimana dengan euforia Bela Agama yang mereka lakukan hingga berjilid-jilid? Ini jelas persoalan, karena kalau memakai logika Bung Hersubeno Arif, semua penggiat aksi bela agama kemarin adalah orang-orang yang baru beriman dan baru kembali ke jalan yang benar atau dalam istilah kristiani yg dikutip oleh Hersubeno sebagai domba-domba tersesat dan kembali kumpul dengan gembala-Nya.

    Menggunakan istilah muallaf bagi anak bangsa yang sedang merayakan kelahiran dasar negaranya tentu tindakan yg bukan hanya tidak arif tetapi merendahkan spirit nasionalisme, sebagaimana bila istilah muallaf ini juga disematkan pada peserta aksi bela agama kemarin tentu sangat menyepelekan keimanan bukan hanya para peserta tetapi juga ulama dan habaib.

    Tes Kesetiaan Pancasila

    Satu hal lagi yang dituliskan Bung Hersubeno adalah soal Tes Kesetiaan Pancasila. Dengan penuh percaya diri, dia menulis, “Untuk mengecek apakah seseorang benar-benar Pancasila atau sekedar “munafik” Pancasila, gampang kok alat ukurnya. Coba minta mereka menyebutkan urut-urutan Pancasila.
    Kalau tidak hafal berarti mereka hanya mengaku-ngaku Pancasilais. Mendadak Pancasila. Kalau mereka hafal di luar kepala sila-sila dalam Pancasila bahkan sampai sesuai urutannya, masih perlu dites lagi. Apakah perilaku dan pola hidupnya sesuai dengan Pancasila?”.

    Ini menggelitik saya lagi, apakah kepada pemimpin dan peserta demo berjilid-jilid kemarin perlu di tes perilaku dan hidupnya sesuai dengan risalah suci agama?

    Ah, tiba-tiba saja saya teringat aphorisma bijak dari Gus Dur, “Tidak penting apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu.”

    Bila kita se-ideologi dalam menerima Pancasila sebagai dasar negara, lalu mengapa harus nyinyir? Apakah ada pemahaman yang berbeda soal Pancasila? Atau -maafkan saya- apakah masih tersimpan kebencian di dalam hati, sehingga perayaan yang digagas oleh Presiden Jokowi dan diamini banyak sekali anak bangsa, ditolak sedemikian rupa?


    Penulis   :  Enha   Sumber :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Muallaf Pancasila dan Muallaf Bela Agama Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top