728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 14 Juni 2017

    Mimbar Provokatif

    Sebuah unggahan video dari salah satu anggota Nahdatul Ulama di Pekan Baru, Riau, Muhammad Ikhsan benar-benar mengkhawatirkan. Video tersebut diunggah pada akun facebook yang bersangkutan yang merupakan video tabayyun dari yang bersangkutan kepada udztad yang isi ceramahnya sangat provokatif. Berikut hasil dari tabbayun yang bersangkutan kepada udztad tersebut beserta linknya.

        “Tadi saya coba minta klarifikasi ke ustadz yg ceramah di Mushola dekat rmh kami malam ini (Malam ke-17 Ramadhan), yg mana ceramah beliau berisi tuduhan kepada ketua PBNU KH. Said Aqil & Densus 88 (Polri) yg mana tuduhan nya sebagai berikut :

            KH. Said Aqil itu sesat, karena mengatakan bahwa umat islam itu pergi haji nya ke Karbala bukan ke Mekkah.
            Densus 88 itu adalah pembohong karena teroris yg ditangkap itu sebenarnya bukan lah seorang teroris.

        Ternyata materi ceramah yg disampaikan hanya dilihat dan didapat dari sosial media facebook, tapi saat menyampaikan ceramah nya tersebut seolah-olah itu semua benar-benar beliau lihat dan dengar langsung dengan mata kepala sendiri dan dia meyakinkan kepada jamaah bahwa apa yg disampaikan itu adalah benar adanya. Sepanjang ceramah nya beliau ini juga selalu memuji mesjid-masjid yang notabenenya adalah basis salafy wahabi di kota kami. Kemudian membawa-bawa nama panglima TNI, dan diakhir video dia mengaku sebagai seorang warga dan mantan pengurus NU di kota kami. Miris ternyata seorang pencerama dengan gelar Drs, MA., ikut-ikutan menyebarkan fitnah dan hoax. Akan jadi seperti apa umat ini kelak. Naudzubillahiminzalik.”

        Untuk lebih jelasnya silahkan cek langsung ke Facebook Muhammad Ikhsan

    Kasus tersebut, menggambarkan betapa maraknya ujaran kebencian dan provokasi yang ada di masjid-masjid kita saat ini. Mimbar yang seharusnya digunakan sebagai tempat untuk menyampaikan firman-firman Allah lambat laun berubah menjadi tempat untuk ujaran-ujaran kebencian. Tempat yang seharusnya digunakan udztad/ulama untuk mengkaji isi dan makna dari Al-Qur’an, kini telah berubah menjadi pengkajian berita-berita yang beredar di sosial media yang belum tentu kebenarannya.

    Saya bersyukur masih ada saudara muslim di Indonesia ini mempunya hati dan sikap seperti Muhammad Ikhsan ini. Dimana dia mempunyai kemauan dan keberanian diri untuk ber-tabayyun atas ceramah-ceramah yang  bersifat provokatif seperti di atas, karena jika hal-hal seperti ini terus menerus dibiarkan, tinggal tunggu waktu saja suatu saat akan pecah.

    Saya pun beberapa kali menemukan penceramah yang isi ceramahnya seperti ini pada masjid dekat rumah saya. Ceramah yang dibahas bukanlah makna dari isi Al-Qur’an melainkan politik di negara ini. Tidak lagi seperti dulu yang isi ceramahnya mengenai bagaimana berbuat amal saleh atau seperti apa sikap-sikap terpuji dalam islam, melainkan bagaimana membenci pemerintah atau golongan yang bukan segolongannya.

    Bahkan pernah ada ceramah di masjid (dekat rumah) saya, yang secara beapi-api berani memberikan statement bahwa islam dari dulu telah dizalimi di negara ini. Padahal secara logika, itu sama sekali tidak benar. Ceramah itu pula yang memacu saya untuk membuat sebuah tulisan berjudul Benarkah Islam Dizalimi di Indonesia. Dalam tulisan itu, saya menggambarkan bagaimana diistimewakannya agama Islam di negara ini sejak dulu hingga saat ini, bahkan menurut saya, hingga detik anda membaca tulisan saya ini.

    Mungkin berita-berita tidak benar yang begitu mudah disebarkan melalui media-media sosial adalah salah satu penyebab sehingga terjadi perubahan (baca: penyesatan) terhadap pemikiran beberapa udztad dan ulama di Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama, begitu banyak media online yang berkonten Islam saat ini bertebaran di dunia maya namun isi muatannya penuh dengan hasutan, provokasi, rasis, fitnah dan kebencian.

    Jika memang benar itu penyebabnya, maka saya rasa harus ada tindakan yang lebih intens dari pemerintah untuk menghalau berita-berita provokatif semacam itu agar berita-berita tersebut tidak mudah diolah ke dalam mimbar-mimbar. Karena ketika berita-berita seperti itu begitu mudah diolah ke atas mimbar, yakinlah hal tersebut akan menjadi ancaman yang serius bagi sila ketiga pancasila kita. Di lain sisi, udztad-udztad dan ulama-ulama harus kembali disadarkan akan tugas utama mereka, yaitu menyampaikan ayat-ayat yang ada dalam Qur’an bukan malah menyampaikan ayat-ayat yang ada dalam media sosial. Dengan begitu, penggunaan mimbar tidak lagi mudah disalahgunakan untuk hal-hal yang sifatnya provokatif seperti ini.

    Semoga bermanfaat. Wassalam.





    Penulis :  Linggar Eisenring    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mimbar Provokatif Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top