728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 08 Juni 2017

    Mereka yang Tidak Terima Dijuluki ‘Sumbu Pendek’

    Kita tentu sudah sering mendengar istilah ‘sumbu pendek’ dan ‘sumbu panjang’ di berbagai tulisan, terutama di media sosial. Sumbu pendek adalah istilah untuk seseorang yang mempunyai kepribadian cepat marah atau reaktif terhadap perbedaan-perbedaan yang muncul. Sebaliknya, sumbu panjang dikiaskan pada orang yang tidak mudah terprovokasi dan mengedapankan sikap toleransi. Dalam banyak kasus, istilah ‘sumbu pendek’ sering dilekatkan pada kelompok Front Pembela Islam (FPI) karena sering terlibat aksi-aksi yang cukup anarkis, misalnya persekusi pada beberapa warga yang akhir-akhir ini menjadi sorotan dan bahan pemberitaan sehari-hari.

    Entah bagimana awalnya, kasus persekusi ini kemudian jadi pembahasan saya dan teman-teman di grup WhatsApp PCI NU (Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama). Salah satu teman saya, sebutlah A, mengatakan bahwa persekusi ini terjadi karena FPI adalah kelompok ‘sumbu pendek’, sehingga ketika pimpinannya dicaci mereka langsung emosi dan terjadilah penghakiman sendiri, seperti pada kasus yang terjadi pada dr. Fiera Lovita, remaja Mario Alvian, serta beberapa orang lainnya. Tak terima dengan pernyataan tersebut, seorang teman saya lainnya, sebutlah B, mengatakan bahwa baik NU dan FPI keduanya sama-sama bersumbu pendek. Ia berdalih sebab ketika Gus Mus dicaci warga NU tak terima, sehingga Banser kemudian bergerak mendatangi si Pencaci. Begitupula FPI, tak terima pemimpinnya dicaci lalu bergerak mendatangi yang bersangkutan. Jadi, baik NU atau FPI sama-sama tak terima bila pimpinannya atau ulamanya dihina atau dicaci baik secara langsung atau di media sosial.

    Diskusi A dan B lalu menjadi perdebatan karena B pendukung kelompok FPI. Sebenarnya si B ini dulunya sama-sama aktivis NU, tapi kemudian terpengaruh oleh paham-paham radikal, ia kemudian masuk dalam organisasi terlarang pendukung khilafah, yaitu HTI dan dalam waktu yang sama mendukung gerakan FPI dan cukup sering ikut aksi demo yang dilakukan front tersebut. Seperti berbalik 360 derajat, ia sering menyebar ‘hoax’ atas fitnah yang dialamatkan pada kyai-kyai NU. Anehnya si B tetap masuk dalam grup PCI NU meskipun secara ideologi ia sudah sangat berbeda dengan mayoritas teman-teman di grup. Rupanya masuk dalam pertemanan yang bersebrangan ini memang biasa dilakukan oleh FPI ataupun kader HTI untuk ‘menyusup’ atau menyebar ideologi mereka pada orang lain secara perlahan. Dari dakwah tersembunyi ini, ia berhasil menjadikan dua teman saya lainnya bergabung ke dalam HTI dan sangat aktif mendung FPI, meskipun dalam hal ideologi kedua organisai ini sangat berbeda.

    Dari percakapan A, B, dan teman lainnya, saya mengambil suatu kesimpulan bahwa dalam merekrut pendukung baru, FPI kerap menggunakan premis yang akhirnya menjadi cacat logika. Mari kita bahas penyataan B tadi tentang persamaan NU dan FPI yang sama-sama disebut ‘sumbu pendek’.

    Premis A: Banser NU bergerak jika Gus Mus dicaci.

    Premis B: FPI lakukan persekusi jika Rizieq Shihab dicaci.

    Kesimpulan : Baik Banser dan FPI sama-sama marah bila pimpinannya dicaci atau dengan kata lain keduanya bisa disebut ‘sumbu pendek’.

    Logika lain yang sering dipakai oleh FPI untuk menyerang NU adalah pembubaran pengajian yang dilakukan oleh Banser.

    Premis A: Banser bubarkan pengajian HTI karena ideologinya menyimpang.

    Premis B: FPI bubarkan pertunjukan wayang karena ceritanya menyimpang.

    Kesimpulan: Baik Banser dan FPI sama-sama sering membubarkan kegiatan yang dianggap menyimpang, sehingga keduanya bisa dicap ‘sumbu pendek’.

    Kesimpulan ini tentu cacat atau sesat pikir karena argumen dalam premisnya tidak berhubungan. Di sini logika berperan penting, karena apa yang dilakukan oleh Banser dan FPI jelas sangat berbeda. Untuk kasus pertama, Banser pernah membawa seseorang bernama Pandu Wijaya karena menghina Gus Mus di akun media sosialnya. Ia kemudian dibawa ke hadapan pimpinan NU tersebut untuk meminta maaf. Tak ada perlakuan kasar padanya, Gus Mus langsung memaafkan dan mengajak yang bersangkutan berfoto bersama. Yang lebih bijak lagi adalah ketika Gus Mus meminta karyawan tersebut tidak dipecat dari pekerjaannya karena banyak desakan dari netizen agar PT Adhi Karya, tempat ia bekerja memecatnya.

    Bandingkan dengan FPI yang langsung mengintimidasi orang yang menghina Rizieq Shihab. Dokter Fiera dianggap menghina Rizieq ditekan dan diancam sehingga harus mengungsi ke luar kota. Anak-anaknya pun mengalami trauma psikis sehingga harus didampingi oleh Komnas perlindungan anak. Setelah menulis permintaan maaf di akun media sosialnya pun, dokter Fiera tetap diburu, seolah permintaan maaf itu tidak cukup menebus kesalahannya. Dari kasus ini bisa ditarik kesimpulan bahwa NU dan FPI jelas berbeda, sehingga mengambil kesimpulan keduanya bersumbu pendek tidak dapat diterima.

    Kasus kedua yaitu ketika Banser membubarkan pengajian HTI. Seperti yang kita ketahui bahwa HTI sangat intens menyebarkan ideologi khilafah Islamiyah. Bagi mereka ‘bughot’ atau memberontak terhadap negara dibenarkan. Banser berpendapat, mumpung HTI belum besar dan masih embrio, sehingga segala tindakan yang mengarah pada pembubaran NKRI harus diantisipasi dan dibubarkan. Karena jika organisasi ini sudah menjadi besar akan sulit memberantasnya. Ideologi HTI jelas bertentangan tidak hanya dengan NU tapi juga dengan Pancasila yang sudah menjadi dasar ideologi negara. Dan yang perlu digaris bawahi Banser tidak pernah bertindak anarkis, tidak pernah membawa alat-alat atau senjata yang membuat kelompok atau individu lain ketakutan.

    Bandingkan dengan FPI yang kerap membubarkan wayang karena ceritanya dianggap syirik pada Allah karena mengandung unsur Hindu-Budha. Padahal dalam seni wayang penuh dengan lakon khas Islam, seperti karakter Punakawan, dan dijadikan sebagai media dakwah oleh Sunan Kalijaga. Tanpa beliau, mustahil Islam bisa berkembang pesat dan penuh toleran di bumi Indonesia. Selain itu wayang sudah menjadi suatu kebudayaan bangsa, jika dibubarkan siapa yang akan melestarikan? Di beberapa universitas di luar negeri, salah satunya Belanda, wayang dan gamelan bahkan sangat diminati dan dipelajari. Tentu kita tak mau jika suatu saat anak cucu suatu saat mengenal kebudayaannya sendiri justru dari negara lain.

    Dari pembahasan di atas, kesimpulan yang menyamakan NU dan FPI karena membubarkan suatu kegiatan jelas tidak bisa diterima, karena yang dibubarkan keduanya adalah hal yang berbeda. Jika misalnya FPI membubarkan wayang, dan NU bertindak serupa, maka kesimpulan menjadi benar. Tapi karena premisnya tidak sama, maka kesimpulannya menjadi salah atau sesat pikir.

    Tak hanya FPI, HTI pun kerap menggunakan logika sesat pikir untuk merekrut dan meyakinkan kadernya. Sesat pikir yang sering didengungkan mereka sebagai berikut:

    Premis A: Sifat Tuhan adalah kekal abadi

    Premis B: Pancasila memuat nilai-nilai yang kekal abadi.

    Kesimpulan: Tuhan dan Pancasila adalah identik.

    Lihatlah, bagi orang awam kesimpulan ini dianggap benar padahal yang terjadi adalah cacar pikir sebab premis-premisnya tidak berhubungan sama sekali dengan kesimpulan yang dicari. Tapi HTI menggunakan hal tersebut untuk mencekoki anggotanya, yaitu jika Pancasila dijadikan ideologi atau asas, maka sama saja dengan menyembahnya karena segala hal diukur dengan Pancasila. Dalam Islam yang berhak disembah hanyalah Allah, dan segala sesuatu yang berlawanan akan dianggap syirik. Oleh sebab itu ideologi Pancasila harus ditolak dan ditentang.

    Pemahaman HTI seperti ini perlu diluruskan, sebab Pancasila bukanlah Tuhan yang harus disembah. Penerapan nilai-nilai Pancasila justru bertujuan untuk menjadikan kita ummat yang taat pada Tuhan, karena nilai-nilai di dalamnya sangat sejalan dengan moral Islam.

    Terakhir, saya pikir sudah waktunya kita angkat pena untuk meluruskan hal-hal seperti di atas. Kita tahu bahwa pemahaman yang salah jika terus didengungkan, perlahan menjadi suatu kebenaran. Saya rasa pemerintah perlu mengambil tindakan tidak hanya pada kelompok yang menolak Pancasila, tetapi juga terhadap berbagai kelompok yang sering bertindak radikal, apalagi atas nama agama.



    Penulis    :  Anisatul Fadhilah    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mereka yang Tidak Terima Dijuluki ‘Sumbu Pendek’ Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top