728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 16 Juni 2017

    Mengikis Nasionalisme Populis dan Nasionalisme ala ISIS

    Gerak paham nasionalisme di dunia tengah bergairah. Ini menarik sekaligus banyak pikiran jadi terusik. Gara-gara Ahok diskusi kebangsaan di tanah air menjadi sedemikian dinamis. Namun, serangan teroris di beberapa negara yang diklaim dilakukan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) membuat banyak orang merasa miris.

    Ada tiga arah nasionalisme yang tengah bergairah. Dua wajah perlu dicegah satu wajah lagi wajib menjadi arah bersama menjadi negara bangsa di tengah percaturan global.

    Wajah pertama nampak dalam wujud nasionalisme sempit atau disebut nasionalisme populis. Nasionalisme ini menentang globalisasi. Ironisnya, negara-negara besar semacam Inggris dan Amerika Serikat tengah gandrung dengan nasionalisme populis ini.

    Ketika Inggris raya memilih Brexit hingga keluar dari Uni Eropa tidak lain bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional sendiri. Tidak ketinggalan adalah kegilaan Amerika yang memilih Donald Trump sebagai presidennya. Jelas sekali kalau Trump waktu kampanye menjual agenda nasionalisme populis. ‘Make America Great Again’. Fenomena ini makin bikin miris ketika dua petinggi DPR RI, Setya Novanto dan Fadli Zon ikut tepuk tangan dalam lautan nasionalisme populis ini.

    Setali tiga uang sekarang adalah Perancis. Majunya Marine Le Pen pada putaran kedua pemilihan presiden waktu itu perlu jadi catatan khusus. Para pemilih utama Le Pen adalah kaum muda yang melek teknologi yang canggih berikut para buruh yang kehilangan pekerjaan. Para buruh ini tidak berpendidikan tinggi. Selain itu pidatonya pada pemilihan presiden tahap pertama perlu mendapat perhatian. Pidato yang menyibak sikap anti globalisasi. Disebutlah sebagai ‘globalisation savage‘ alias globalisasi barbar.

    Sikap anti terhadap globalisasi barbar sejatinya merupakan sikap anti terhadap imigrasi. Serangan teroris di Perancis dianggap akibat imigrasi yang membawa teroris masuk Perancis. Phobia terhadap Islam pun kemudian masuk ke dalam ranah umum. Terbitlah aturan larangan memakai hijab di ruang publik. Bagi saya sebagai pecinta motor berhijab hal ini cukup menggelisahkan.

    Hal yang berbahaya dari nasionalisme populis ini adalah tindakan kekerasan. Baik fisik maupun simbolik. Misalnya dengan mengkafirkan orang lain atau me-liyan-kan sesamanya. Dalihnya adalah kehendak kuat melindungi identitas kultural. Jadilah identitas dibentur-benturkan. Tentu sikap ini berbahaya. Benturan identitas bisa bikin babak belur kayak telur yang terbentur.

    Wajah kedua dari nasionalisme yang berbahaya adalah nasionalisme lintas negara. Ini merupakan nasionalisme baru. Misalnya ISIS yang berhasil membangun nasionalisme mengatasi negara-bangsa. Gerakan ini sangat berbahaya karena bertujuan membentuk negara raksasa berdasarkan tali agama dan anti pada globalisasi dengan segala pluralisme dan keterbukaannya.

    ISIS adalah ancaman global karena melawan kedaulatan pemerintah negara bangsa yang sah. Tidak heran bila ISIS punya hobi perang dengan pemerintahan dari negara tertentu.

    Sejalan dengan ISIS adalah gerakan dan paham Hizbut Tahrir Indonesia. Tidak sama persis dan memang belum tentu sepaham, tetapi jiwanya sama. Mendirikan khilafah sebagai negara raksasa dunia dengan dasar agama tertentu. Agama yang sudah kerasukan motivasi seperti ini bisa berwajah bengis dengan sosoknya yang radikalis.

    Nasionalisme lintas negara yang didorong ego suatu agama jelas membahayakan eksistensi negara-bangsa yang sah. Dengan sekuat tenaga hal ini perlu dicegah supaya keutuhan bangsa tidak terpecah sehingga hati tidak terus-terusan resah.

    Sekarang, masih adakah jenis nasionalisme yang layak diperjuangkan?

    Tentu masih. Inilah wajah nasionalisme jenis ketiga. Disebut saja nasionalisme Pancasila. Sebuah nasionalisme yang inklusif, toleran, dan suka mengupayakan kebaikan bersama (bonum commune).

    Nasionalisme Pancasila adalah berkah. Tidak hanya untuk Indonesia tetapi juga bagi warga dunia. Nasionalisme Pancasila selalu berciri manusiawi dan mendorong partisipasi mewujudkan kebaikan bersama. Identitas agama dan kultural tetap tegas dan jelas dalam keterbukaan dialog dan sikap hidup toleran. Otonomi setiap kelompok dalam negara bangsa diakui atas dasar demokrasi dan perwakilan.

    Diyakini bahwa nasionalisme Pancasila ini merupakan jawaban atas kegelisahan bangsa-bangsa di dunia yang diancam maraknya nasionalisme populis hingga nasionalisme lintas bangsa semacam ISIS yang membuat krisis kemanusiaan di mana-mana.

    Momentum peringatan Hari Lahir Pancasila tentu sangat bermakna bagi panggilan bangsa Indonesia untuk menciptakan perdamaian dunia. Peran yang dilakukan sang puteri Pancasila, Megawati Soekarnoputri dalam forum perdamaian dan persaudaraan dunia pantas diapresiasi. Dari Jeju, putri proklamator menjadi inspirator bagi perdamaian di Semenanjung Korea.

    Sudah semestinya bagi segenap warga Indonesia mengarus-utamakan nasionalisme Pancasila dalam pandangan hidupnya. Bagi para pemangku hak dan kewajiban, nasionalisme Pancasila adalah jiwa dan kepribadiannya. Saatnya nasionalisme Pancasila menjadi kiblat dunia. Baik itu dunia nyata maupun dunia maya.



    Penulis   :  Setiyadi RXZ   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mengikis Nasionalisme Populis dan Nasionalisme ala ISIS Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top