728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 03 Juni 2017

    Mengapa Jokowi Berbeda? Beliau Ini Politisi Atau Bukan Sih?

    Di tempat saya bekerja, di jalan-jalan yang saya lewati ketika pulang dan pergi kerja, di daerah tempat saya tinggal dan kemanapun saya pergi selalu terlihat kesibukan orang-orang pekerja keras yang mengenakan safety gear membangun berbagai fasilitas publik yang akan bertahan hingga puluhan tahun kedepan.

    Pembangunan…

    Ya sebuah kata luar biasa yang rasa-rasanya telah lama terlupakan dari hiruk pikuk politik kita. Kita lupa tujuan kita berbangsa dan bernegara adalah untuk membangun, membangun dan membangun. Cukup sudah kita disuguhi berbagai cerita tidak penting selama puluhan tahun, tentang korupsi, tentang mark up proyek, tentang proyek yang tidak jadi-jadi, perebutan kekuasaan, bagaimana menggulingkan orang dan sebagainya, cukup sudah, saya muak.

    Orde lama, orde baru, reformasi semua hanya jargon kosong tanpa meletakkan negara ini ke rel yang mengantarkannya ke arah yang benar.

    Tanpa mengurangi rasa hormat, yang dihasilkan dari puluhan tahun pemerintahan yang silih berganti itu tidaklah maksimal. Politik yang saya kenal dari zaman zaman tersebut masihlah tentang “bagaimana agar saya bisa berkuasa dan bagaimana caranya saya bisa mempertahankan kekuasaan”. Politik selalu tentang berkuasa, berkuasa dan berkuasa sampai datangnya sesosok pemimpin yang lahir dan tumbuh dari rakyat bernama Joko Widodo.

    Mungkin sekilas anda akan menganggap saya berlebihan, tapi coba tempatkan seperti ini.

    Pernah punya tetangga pejabat? Pernah berpapasan dengan pejabat di tempat-tempat umum? Bupati, walikota, anggota dewan dan sebagainya? Berarti anda tahu “gaya” 99% dari mereka. “Mewah”, “megah”, “orang penting”, padahal kita tidak tahu hal penting apa yang telah mereka perbuat untuk negara ini. Jangankan kontribusi positif, kalau mereka tidak korupsi dan merusak saja saya sudah sangat bersyukur.

    Jika kita sudah bisa melihat gambaran bagaimana cara orang yang menjabat bertingkah, anda akan melihat kesederhanaan Jokowi dan keluarga sebagai hal yang luar biasa. Padahal dia bisa bisa saja menggunakan semua fasilitas sesuai dengan yang seharusnya beliau dapatkan.

    Pencitraan kah?

    Hanya orang bodoh yang mengatakan Jokowi pencitraan. Untuk apa beliau pencitraan? Agar terpilih kembali? Benarkah demikian?

    Lalu untuk apa beliau ingin terpilih kembali? Apakah untuk memperluas jaringan bisnis anak dan keluarganya? Atau memperkaya diri dan keluarganya? Atau menikmati fasilitas nomer wahid yang disediakan untuk kepala negara?

    Ternyata tidak satupun dari hal-hal tersebut yang dirasakan Jokowi. Semenjak jadi presiden kekayaannya segitu-segitu saja, bisnisnya segitu-segitu saja, gaya hidupnya segitu-segitu saja, jam tidurnya berkurang, badannya capek melakukan inspeksi dari sabang sampai merauke, beliau dan keluarga -bahkan ibu dan almarhum ayahnya- menjadi korban fitnah habis-habisan.

    Lalu apa yang membuat para pembenci Jokowi mengatakan beliau melakukan pencitraan agar terpilih lagi? Apa untungnya bagi Jokowi bila beliau terpilih lagi?

    Satu hal yang jelas, kesederhanaan Jokowi telah membalikkan semua hal yang biasanya kita lihat di dalam politik kita. Kesederhanaan Jokowi terlah mempertunjukkan kepada seluruh Indonesia bahwa politik itu bukan tentang kekuasaan, kekayaan dan kemegahan. Politik itu pengabdian dan pengabdian itu melelahkan. Sangat sulit mencari politisi dengan aura pengabdian yang lebih jelas terasa dibandingkan presiden Jokowi.

    Politik itu membangun. Politik itu membangun, walaupun kesederhanaanmu yang sudah tertanam sejak kecil dikatakan sebagai pencitraan. Politik itu membangun, walaupun setiap hari kau dan keluargamu dijadikan sasaran fitnah. Politik itu membangun, walaupun badanmu lelah dan waktumu terpakai untuk mengabdi kepada rakyat walau banyak yang tidak mau mengerti.

    Politik yang ditunjukkan Jokowi adalah politik pengabdian. Dia galakkan proyek walaupun dia dan keluarganya tidak dapat serupiah pun dari semua yang dia bangun. Dia cabut subsidi-subsidi yang melemahkan mental dan daya juang masyarakat walaupun harus menciderai citranya demi masyarakat yang mandiri dan mengalihkan dana yang dihemat untuk pembangunan. Lagi-lagi beliau mengutamakan pembangunan dibanding citra pribadinya. Lagi-lagi beliau memberi contoh politik membangun, bukannya politik “bagaimana cara agar dapat berkuasa dan mempertahankan kekuasaan”.

    Presiden Jokowi sangat serius menjalankan politik pembangunan dan politik pengabdiannya antara lain :

    Sumber

    Jika anda meng klik sumber di atas, seorang tokoh asal Papua menyatakan presiden Jokowi (yang baru memerintah selama 3 tahun) merupakan presiden paling sering mengunjungi Papua. Dan sebagaimana kita ketahui pembangunan di Papua memang sangatlah masif di era presiden Jokowi.

    Pertanyaan untuk para pembenci, untuk apa beliau bulak balik ke Papua? Pencitraan? Bodoh sekali anda. Kalau alasannya pencitraan, ngapain presiden mencari citra di tempat yang penduduknya sedikit? (kurang dari 2% keseluruhan penduduk Indonesia) politikus yang pencitraan pasti akan lebih memilih blusukan keliling pulau Jawa saja yang penduduknya banyak, hampir 55% dari keseluruhan penduduk Indonesia (jadi ingat dulu ada politikus yang melakukan tur keliling pulau Jawa). Beliau pulang-pergi ke daerah-daerah jauh yang terpencil sekalipun agar masyarakat Papua merasa sama sama memiliki Indonesia.

    Beliau memastikan persatuan Indonesia, beliau memastikan terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jika bukan karena itu, lebih baik beliau ongkang-ongkang kaki saja di istana negara sembari menciptakan lagu (haha..).

    Mungkin yang teriak-teriak pencitraan, baru jadi manajer perusahaan kecil saja sudah tidak mau turun ke lapangan (huek..).

    Silahkan buka pula sumber berikut.

    Penduduk Pulau Kalimantan juga akan merasakan pembangunan yang luar biasa besar-besaran. Ini yang ditunggu-tunggu oleh bangsa Indonesia dari sabang sampai merauke. Merasa menjadi bagian dari Indonesia, diperhatikan pembangunannya dan diperhatikan kesejahteraannya. Jika anda perhatikan di sosial media ada yang berkoar-koar bahwa “pembangunan infrastruktur tidak penting”, “buat apa membangun kalau dengan hutang”, dan yang mengesampingkan pembangunan serta kerja nyata dalam memilih pimpinan pemerintahan, dapat dipastikan hampir seluruhnya berasal dari pulau Jawa. Mereka yang koar-koar nyaring seperti anak ayam kelaparan itu telah merasakan kemapanan infrastruktur di Pulau Jawa dari lahir sampai tua bangka. coba pindahkan mereka ke suatu pulau terpencil, yang susah sinyal, susah listrik, susah akses ke sumber air bersih, susah akses ke sekolah dan rumah sakit, kita lihat apa mereka masih akan berkoar-koar hal yang sama.

    Ada pula yang mengkritisi katanya infrastruktur hanya dinikmati oleh kalangan menengah keatas. Orang-orang seperti ini harus diisi lagi otaknya dengan pertamax 20 ribu rupiah karena sudah sangat kosong. Apakah mereka fikir infrastruktur itu hanya jalan tol, jalan raya, pelabuhan dan bandara saja?

    Mereka lupa bahwa irigasi juga termasuk infrastruktur (sumber), irigasi mempermudah ladang dan sawah serta perkebunan rakyat mendapatkan akses terhadap pengairan.

    Sumber : Liputan6.com



    Waduk dan embung juga merupakan infrastruktur yang sangat penting bagi para petani (sumber)

    Sumber : beritalima.com

    Pembangunan berbagai pembangkit listrik juga sangatlah dibutuhkan oleh penduduk Indonesia terutama yang berada di daerah terpencil. (sumber)

    Sumber : Detik.com

    Maafkanlah saudara-saudara kalian yang tinggal di Pulau Jawa dan berteriak pembangunan infrastruktur tidak penting. Saya dan mereka tidak mengerti apa yang kalian rasakan.

    Terima kasih presiden Jokowi telah menunjukkan pada kami bahwa politik pembangunan dan politik pengabdian itu ada. Engkau tidak bertambah kaya, hidupmu tidak bertambah mewah tetapi percayalah pak Jokowi, ada ratusan juta rakyatmu yang bangga bercerita tentangmu, ada ratusan juta rakyat Indonesia yang merasakan hasil karyamu baik disadarinya maupun tidak. Yang membencimu dan yang mencintaimu sama-sama merasakan hasil kerja kerasmu, kerjamu tidak sia-sia pak. Terima kasih.

    Saya sering berbicara dengan orang asing dan saya bangga bercerita tentang anda kepada mereka. Jarang ada pimpinan negara yang seperti anda, mereka iri Indonesia punya pemimpin seperti anda pak, Terima kasih.

    Dari sudut gerbang utama negara ini saya bercurah pendapat…

    #JokowiUntukIndonesia


    Penulis :   Muhammad Sabri    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mengapa Jokowi Berbeda? Beliau Ini Politisi Atau Bukan Sih? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top