728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 15 Juni 2017

    Mengapa Jawa Barat adalah ‘medan perang’ terpenting di 2018

    Sudah menjadi rahasia umum bahwa Ketua Umum Gerinda Prabowo Subianto akan kembali ‘menantang’ Presiden Joko Widodo pada pemilihan Presiden 2019, seperti pada 2014. Pada waktu itu, Prabowo dan Jokowi sama-sama pendatang baru dan berstatus sebagai penantang. Dengan kondisi demikian, karena belum memiliki rekam jejak sebelumnya (sebagai presiden) dapat dibilang peluang kemenangan hampir sama.  Ini terbukti dari hasil pemilu 2014 yang relatif tipis yakni 53-47 untuk kemenangan Jokowi. Untuk tahun 2019 nanti, Jokowi akan maju sebagai ‘petahana’, sementara Prabowo tetap sebagai ‘penantang’. Ibarat perang, pihak yang bertahan dalam benteng (petahana) akan jauh diuntungkan dibanding pihak yang menyerang (penantang). Pada pilpres tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai petahana menang mudah dengan 60.8% suara.

    Pilkada serentak 2018, yang diusulkan diadakan pada bulan Juni, akan menjadi perhelatan demokrasi Indonesia yang lebih besar dari pilkada 2017.  Pilkada 2018 akan diadakan di 171 daerah, terdiri dari 17 provinsi dan 154 kabupaten dan kota (http://nasional.kompas .com/read/2017/04/21/20055611/pilkada.serentak.berikutnya.digelar.27.juni.2018).  Yang menarik adalah, tiga provinsi dengan jumlah penduduk ‘tergemuk’, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur juga mengadakan pemilihan gubernur.  Berdasarkan data yang dikumpulkan penulis, ketiga provinsi ini menyumbang 49% suara dari total 133 juta suara sah pada 2014.   Jawa Barat memiliki 23.7 juta suara, Jawa Tengah 19.5 juta dan Jawa TImu 21.9 juta.

    Di sinilah mengapa Pilkada 2018 menjadi penting. Pada pemilu presiden 2014, Jokowi menang di 24 dari 34 provinsi termasuk Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.  Sementara Prabowo hanya menang di 10 provinsi.  Namun yang menarik,  Prabowo menang cukup besar di Jawa Barat, provinsi ‘tergemuk’  dari seluruh 34 provinsi di Indonesia, dengan 60-40.  Dari Jawa Barat saja, Prabowo mendapatkan 14 juta suara.  Jawa Barat adalah basis terkuat Prabowo Subianto dan juga salah satu partai pendukungnya (Partai Keadilan Sejahtera).  Sembilan provinsi lain dimana Prabowo menang, hanya menyumbang 17% suara nasional secara kolektif.
    Menurut hemat saya, peluang Prabowo untuk mengalahkan Jokowi tidak besar dan dia juga menyadari hal ini. Survey Kompas pada 29 Mei mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi masih dua kali lipat Prabowo (http://nasional.kompas .com/read/2017/05/29/14431471/survei.kompas.elektabilitas.jokowi.41.6.persen.prabowo.22.1.persen).  Ini setelah demo berjilid-jilid selama pilkada 2017, yang diharapkan akan menggerus elektabilitas pakde, dan ternyata tidak.  Jika pilpres diadakan Juni kemarin, Jokowi menang mudah dengan 67% dan Prabowo 33%. Apalagi, sebagian besar proyek infrastruktur akan hampir rampung di 2018-19, dan akan menjadi modal kampanye Pakde. Jika saya adalah Prabowo dan saya melihat statistik di atas, Gerinda dan PKS harus memenangkan pilgub Jawa Barat 2018 untuk memperbesar peluang di 2019 sekecil apapun.  Dengan harga berapapun dan dengan cara apapun.  Inilah yang perlu kita semua waspadai.  Bagi Prabowo, memenangkan Jawa Barat bukan berarti memenangkan 2019, tetapi kalah di Jawa Barat adalah kalah di 2019.

    Calon gubernur yang sudah muncul adalah Ridwan Kamil yang diusung Partai Nasdem, yang sekarang berada di kubu moderat-nasionalis.  Untungnya Ridwan Kamil bukanlah Basuki Tjahaja Purnama; Ridwan bukanlah Kristen Tionghua, sehingga kartu SARA tidak akan seberhasil di Jakarta kemarin.  Tapi mereka akan menemukan cara-cara lain.  Mungkin mereka akan memperpanjang masa kampanye kembali menjadi 5 bulan (Lihat tulisan saya sebelum ini: https://seword .com/politik/masa-pencucian-otak-itu-5-bulan-lamanya/).  Mereka akan menyewa Eep Saefullah – Eep Saefullah yang lain, yang bersedia memecah belah rakyat demi kursi gubernur.  Mereka akan kembali melakukan demo berseri seperti di Jakarta.  Dan mereka akan terus memikirkan cara-cara baru, yang mungkin lebih kotor dan tak terhormat.  Menurut saya, Pilgub Jawa Barat akan sama gaduhnya, atau bahkan lebih gaduh dari Jakarta.

    Singkatnya, bagi Jokowi, Jawa Barat hanyalah satu provinsi dimana ia hanya mendapatkan 40% suara pada 2014.  Bagi Prabowo, itu adalah modal terbesar untuk melangkah lebih jauh lagi.  Oleh karena itu, Jawa Barat adalah medan perang terpenting di 2018, setidaknya untuk Gerindra dan PKS, di mana tidak ada kata kalah.



    Penulis :  Raden Wijaya   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mengapa Jawa Barat adalah ‘medan perang’ terpenting di 2018 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top