728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 09 Juni 2017

    Mencoba Memahami Kaum Bumi Datar

    Istilah ‘kaum bumi datar’ akhir-akhir ini begitu populer di sosial media, ditujukan kepada orang-orang agamawi yang berpikiran sempit yang sepertinya tidak mampu menggunakan logikanya secara obyektif. Namun sebenarnya memang ada cukup banyak orang yang benar-benar percaya bahwa bumi berbentuk datar. Cobalah mengetik kata kunci ‘flat earth’ di google, dan anda akan menjumpai cukup banyak informasi tentang komunitas ini. Saya sendiri juga mengamati sepertinya komunitas ini mengalami peningkatan jumlah pengikut, khususnya di Indonesia. Banyak video-video kaum bumi datar dalam bahasa Indonesia yang diunggah di YouTube, dan diikuti oleh cukup banyak ‘umat’.

    Kalau boleh saya jelaskan secara singkat teori aneh ini: kaum bumi datar percaya bahwa bumi berbentuk datar seperti cakram (disk) dan tidak berbentuk bulat seperti bola, dengan kutub utara sebagai pusat cakram dan kutub selatan sebagai dinding pembatas di sisi luar. Matahari adalah sebuah benda terang yang menari berputar bersama dengan bulan di atas piringan bumi dengan jarak beberapa ribu kilometer saja. Gravitasi adalah omong kosong, perjalanan luar angkasa adalah hoax, satelit komunikasi adalah tipuan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Mereka menolak setiap bukti visual (foto/video) dari satelit yang menunjukkan bentuk bumi yang bulat, mengatakan bahwa semuanya adalah rekayasa. Mereka percaya bahwa tidak ada orang yang berhasil menembus atmosfir bumi sampai ke ruang angkasa.

    Memang kalau kita cermati argumen-argumen mereka di internet, cara berpikir dan mempertahankan pendapat mereka mirip banget dengan “kaum bumi datar” yang suka memakai daster putih itu. Ngeyel, logika terbalik-balik, menggunakan informasi yang sepotong-potong dan yakin banget kalau dirinya yang paling benar dan yang lain salah. Mereka percaya bahwa teori bumi bulat dan semua fakta tentang matahari, bulan, gravitasi, satelit luar angkasa dsb adalah konspirasi maha besar yang dibuat oleh sekelompok orang untuk menguasai dunia. Dan mereka adalah satu-satunya kumpulan orang yang telah terbuka matanya untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya tentang konspirasi ini.

    Saya jujurnya sempat berharap tipis untuk bisa bertemu langsung dengan salah satu kaum bumi datar untuk berdialog. Ternyata harapan tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kesempatan untuk ngobrol dengan seorang kaum bumi datar yang saya kenal dekat. Sebelum mengetahui bahwa rekan saya tersebut ternyata menjadi flatearther, profil umum yang saya pikirkan tentang kaum bumi datar selama ini adalah bahwa mereka orang-orang yang terbelakang dan tidak berpendidikan yang mudah disesatkan.  Ternyata saya keliru.

    Rekan saya adalah seorang pria pengusaha keturunan Tionghoa, status ekonomi menengah ke atas dan memiliki gelar S-2. Sangat jauh dari gambaran ‘kaum bumi datar’ yang saya bayangkan selama ini. Saya mengenal dia cukup lama, dan dia baru menjadi flatearther selama beberapa bulan terakhir. Sebagai seorang umat bumi datar, dia cukup aktif memposting artikel-artikel dan berbagai tautan video Youtube tentang bumi datar di halaman sosial medianya. Karena kedekatan hubungan kami, saya merasa sangat terganggu dengan ‘tragedi intelektual’ yang menimpanya dan kemudian saya setengah memaksa dia untuk bertemu dan berdiskusi soal ini.

    Pertanyaan pertama yang saya ajukan saat bertemu adalah, “Apa yang terjadi?” Dia kemudian menjelaskan tentang berbagai teori bumi datar yang dia baca beberapa bulan sebelumnya: bagaimana teori-teori itu terlihat masuk akal bagi dia, bagaimana dia tidak bisa tidur selama beberapa malam karena dihantam oleh “fakta-fakta” baru yang ia jumpai.  Saya kemudian mulai mencoba untuk menunjukkan semua penyimpangan logis dari teori bumi datar ini, berharap bahwa ia akan insaf kembali ke jalan yang benar. Saya berusaha menjawab semua serangan yang dimiliki umat bumi datar terhadap bumi bulat, sembari menunjukkan kekeliruan yang fatal dari teori bumi datar dari sudut pandang ilmu alam maupun akal sehat.

    Saya awalnya berpikir bahwa meluruskan kembali pandangan seorang flatearther adalah tugas yang mudah. “Tidak sulit, karena ada banyak fenomena alam dan penjelasan logis yang menunjukkan bahwa bumi berbentuk bulat”, demikian pikiran saya. Tapi ternyata saya keliru lagi.

    Rekan saya bertahan dengan gigih pada pendapatnya, menyatakan semua argumen saya sebagai “tipu muslihat global” yang dulu juga dipercayainya. Walaupun saya bisa mematahkan semua logika bumi datar yang dia gunakan, dia tetap berdiri kokoh pada kepercayaannya tersebut. Kami berdiskusi selama lebih dari 3 jam dan saya ternyata gagal untuk mengembalikan dia ke jalan yang benar. Saya seperti berhadapan dengan sebuah tembok yang membelenggu akal sehatnya. Diskusi kemudian berakhir dengan janji pertemuan berikutnya, di mana dia akan belajar lebih dalam untuk memperkuat posisinya sebagai seorang  flatearther untuk bisa menjawab berbagai pertanyaan saya yang tidak mampu dijawabnya saat itu.

    Walaupun saya belum berhasil meyakinkan rekan saya, namun ada beberapa pelajaran penting yang saya tarik dari diskusi tersebut. Pelajaran-pelajaran ini saya harap bisa berguna bagi orang-orang waras saat menghadapi para kaum ‘bumi datar agamawi’.

    Pertama, kaum bumi datar sangat percaya bahwa hanya mereka yang benar dan yang lain salah. Penganutnya selalu bangga atas kebenaran diri mereka dan menilai pandangan yang berbeda sebagai sesuatu yang sesat dan dihasilkan konspirasi global. Mereka merasa menjadi orang-orang pilihan, memandang diri sendiri sebagai ‘juruselamat’ dari tipu daya global yang sedang menguasai pikiran semua orang di dunia selain mereka. Setiap ‘serangan’ logika yang saya lakukan – walaupun tidak mampu dijawabnya –  bukannya melemahkan tapi justru menguatkan kepercayaannya bahwa saya dan semua orang adalah bagian dari konspirasi global itu. Saat orang merasa diri paling benar, logikanya menjadi lumpuh dan hanya bisa menerima hal-hal yang menguatkan kepercayaannya itu.

    Kedua, cemooh dan ejekan sama sekali tidak efektif untuk menyadarkan mereka. Mereka memandang diri sebagai minoritas orang-orang pilihan. Mengejek dan menghina terang-terangan hanya membuat mereka makin masuk dalam tempurung “kebenaran” yang mereka yakini. Ejekan dipandang sebagai bukti bahwa mereka memang benar, dan seluruh dunia membenci mereka. Mereka bisa saja tersinggung atau marah, tapi hal itu akan makin menguatkan posisi mereka.  Di sisi lain, saat mendengar argumen-argumen mereka yang sangat konyol dari sisi akal sehat, kita harus pandai-pandai menahan diri untuk tidak mem-bully para kaum bumi datar ini.

    Ketiga, diperlukan relasi yang baik, kesabaran dan waktu yang cukup panjang untuk membawa orang-orang seperti ini kembali pada akal sehatnya. Meskipun saya tidak berhasil meyakinkannya di pertemuan pertama kami, namun saya bersyukur karena diskusi tetap berlangsung dengan hangat dan terbuka. Bagaimanapun juga diskusi tatap muka seperti ini adalah cara yang terbaik dibandingkan dengan debat kusir dan saling serang di dunia maya. Saya akan tetap mencoba berdialog dengan rekan saya ini, sampai waktunya tiba bagi dia untuk mengambil keputusan.

    Terakhir, saya melihat betapa kuat dan berbahayanya posisi sebuah “kebenaran” yang bersifat eksklusif. Ada kebutuhan yang besar dalam diri setiap orang untuk menjadi benar dan berada dalam posisi benar. Tapi kesombongan dan ego manusia kemudian mendorong kebutuhan ini kepada ekstrimitas, yaitu untuk menjadi yang “paling” benar, di sinilah masalah mulai terjadi. Semua aliran/ajaran sesat selalu bermuara dari keyakinan bahwa diri kita “paling” benar dan orang lain salah. Keyakinan semacam ini selalu menghasilkan radikalisme dan kepicikan. Setiap kita, khususnya umat beragama perlu waspada terhadap jebakan semacam ini. Fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, di mana orang bisa melakukan hal-hal yang begitu negatif atas nama bela agama, menunjukkan betapa mengerikannya akibat dari merasa diri “paling benar”.

    Saya tetap berdoa dan berharap agar rekan saya ini satu saat menyadari kesalahannya. Semoga.



    Penulis    :    GusLee   Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Mencoba Memahami Kaum Bumi Datar Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top