728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 03 Juni 2017

    Lupakan Rizieq dan Amien, Tengok Peta Kekuatan Jokowi dan Prabowo 2019

    Rizieq FPI alias Rizieq Shihab, lupakan! Biarkan dia kalau perlu buron terus, lari terus, toh nanti kehabisan napas. Kasus lendir pronografi yang melibatkan Firza dan Rizieq akan menggelinding tak berhenti. Amien, juga kita lupakan. Kasus uang Rp 600 juta dari dana korupsi Alkes, membuat Amien Rais, biarkan berkilah kanan-kiri membela diri. Biarkan. Segoyyanya Amien Rais yang dikaitkan dengan uang korupsi alkes Rp 600juta, kita diamkan dan doakan agar kuat berjalan kaki dari Jogja ke Jakarta – agar azab Allah tidak menimpa orang yang bernadzar tetapi tidak ditunaikan. Biarkan kedua kasus menggelinding sesuai arah: Rizieq akan dibui jika terbukti, Amien Rais juga begitu adanya.

    Mari kita bedah akar gonjang-ganjing politik sejak Oktober 2016 dan sebelumnya yakni pilpres 2019 dengan hati gembira ria senang sentosa dengan capres Prabowo dan Jokowi. Akar kisruh politik adalah kekalahan Prabowo dan kemenangan Jokowi di pilpres 2014. Lalu dilanjutkan untuk kiprah tak mau kalah di Pilpres 2019. Berikut peta strategi kampanye pilpres 2019 antara Prabowo melawan Jokowi yang bakalan seru.

    Prabowo dipastikan akan maju kembali di 2019 dengan segala persiapan yang matang. Tim kampanye dan ahli strategi telah dan selalu bekerja dengan segala kreativitas mereka. Tujuannya satu, menjaga semangat ‘kekalahan di 2014’ di dalam hati para pendukungnya agar Prabowo harus menjadi presiden.  Pernyataan Prabowo di kampanye Pilkada DKI begitu nyata, “jika ingin Prabowo menjadi presiden, maka pilih Anies”.

    (Jokowi dipastikan akan maju dengan strategi membangun Indonesia dengan kinerja. Senjata kinerja nyata ini sesungguhnya hal yang paling strategis. Namun demikian justru karena nilai penting dan bisa memberikan kekuatan imej politik, maka pembangunan harus diganggu dan dikecil-kerdilkan agar tidak menjadi citra positif bagi Presiden Jokowi.)

    Untuk menjaga semangat para pendukung Prabowo tersebut,  maka secara terstruktur, rapi dan terintegrasi, komando strategi kampanye dengan corong nyata seperti Fadli Zon – didukung oleh anasir partai agama PKS yakni Fahri Hamzah. Duo manusia bermulut manis ini berhasil memertahankan sikap loyal terhadap Prabowo dan anti-Jokowi di kalangan para pendukung.

    Salah satu strategi kampanye melawan Jokowi adalah tentang semua pencapaian, kemunculan Jokowi di media sosial, pekerjaan, sikap, kinerja, pembangunan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi akan dicela, dikritik, dan dibusukkan melalui berbagai cara seperti pernyataan dan pelintiran.

    Peta kekuatan politik pendukung Prabowo dipastikan akan bersandar kepada partai nasionalis Gerindra. Partai agama PKS, PAN, Demokrat, dan para partai baru seperti Partai Berkarya besutan Keluarga Cendana. Gerindra jelas ke sana, sementara partai agama PKS tetap nyaman dengan Prabowo. PAN denngan pentolan si mencla-mencle Amien Rais, anti Jokowi dipastikan akan merapat ke Prabowo. Minimal dengan kekuatan tersebut Prabowo bisa merangkul lagi Golkar yang memiliki pijakan di dua kaki; satu kaki Prabowo, kaki lainnya Jokowi. Partai Berkarya dan Partai Perindo besutan Harry Tanoe akan merapat ke Prabowo.

    (Dengan peta kekuatan seperti itu, tentu Jokowi pun memiliki pendukung yakni PDIP, Hanura, PKPI, NasDem, dan PKB yang dapat dipastikan. Golkar yang selalu berteriak mendukung Jokowi tidak bisa dipegang ujungnya. Golkar di bawah kendali ARB dan pengaruh JK akan menjalani dan menjadikan dirinya bertingkah seperti ular – masuk dan menyelinap ke kedua kubu. PSI sebagai partai baru kemungkinan akan merapat ke Jokowi.)

    Dengan kekuatan partai seperti itu, maka akan terjadi persaingan politik perebutan suara berdasarkan strategi. Kubu Prabowo dan kubu Jokowi sudah memiliki basis pendukung nyata yakni eks pendukung di Pilpres 2014. Yang menjadi masalah adalah bagaimana pergeseran suara pemilih akan terjadi? Akankah suara tetap dan tidak bergeser?

    Ada fakta nyata yang luar biasa sebenarnya dari sisi strategi kampanye. Sikap Fadli Zon dan Fahri Hamzah dalam ‘berkampanye’ yang nyinyir soal apapun tentang Jokowi, ditambah dengan serangan gencar lewat media sosial bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi sikap mereka berhasil memertahankan sentimen dukungan terhadap Prabowo, di satu sisi lainnya membangun sentimen dukungan di kubu Jokowi tetap terpelihara. Maka strategi ala Fadli Zon seperti itu tak sepenuhnya strategis dan bisa memenangi ‘hati dan kewarasan’ pemilih.

    Sesungguhnya, dalam politik, kampanye harus dilakukan dengan 4 strategi (1) jangka pendek, aksi reaksi, (2) menengah, ada strategi yang ingin dicapai, (3) strategi jangka panjang, yakni rangkaian grand design kampanye secara detil yang fleksibel, dan (4) kampanye secara resmi dengan menggandeng seluruh elemen pendukung dan pematangan pendukung.

    Dalam hal ini, Timses Prabowo tengah berhasil dalam membangun strategi jangka pendek. Juga dengan tujuan menengah, namun kemampuan untuk merangkai antara strategi jangka pendek dan jangka menengah untuk menuju strategi no 3 dan no 4, seperti kampanye 2014 mengalami kedodoran. Hal ini tampaknya akan terulang.

    Sementara Jokowi masih dingin-dingin saja dan menggunakan strategi kinerja: kerja, kerja, dan membuktikan janji kampanye 2014. Itu yang sedang dilakukan oleh Jokowi. Akibatnya, para partai pendukung Presiden Jokowi sampai saat ini masih tetap diam, bahkan hanya Golkar yang sudah mendukung – meskipun dukungan Golkar tidak bisa dipegang.

    Kekuatan sesungguhnya Presiden Jokowi, selain dukungan para partai adalah relawan di 2014 lalu. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah relawan akan melakukan hal yang sama? Sementara di kubu Prabowo yang akan bergerak kuat adalah pendanaan, pemanfaatan masjid sebagai alat kampanye seperti di Pilkada DKI 2017.

    Kekuatan dana, seperti dukungan Aksa Mahmud dan Erwin Aksa akan berpengaruh besar, di samping pendukung lama seperti Muhammad Riza Chalid yang disebut sebagai pendana tabloid fitnah Obor Rakyat, bahkan SBY, Hatta Rajasa, dan juga seperti duo koruptor Muhammad Sanusi, M. Taufik dan para pentolan ormas seperti FPI pun akan mendukung Prabowo, seperti halnya dalam Pilkada DKI 2017.

    Kekuatan lain yang akan sangat menentukan adalah kemampuan Timses Prabowo secara masif dan teratur menguasai jagad dunia maya, medsos, dan publikasi lewat media televisi. MNC Group milik Harry Tanoe, TV One, ANTV, TransTV milik Chaerul Tanjung,  akan mendukung Prabowo. Praktis dari segi media Jokowi hanya mengandalkan Metro TV. Para stasiun TV lain seperti Berita Satu dan Kompas TV cenderung menjadi TV netral di 2019. TVRI akan cenderung ke arah Prabowo.

    Dengan kekuatan media seperti itu, dan dibangunnya organisasi kampanye yang terstruktur, terorganisasikan dengan baik, dan masif, maka kekuatan Prabowo di 2019 bukan main-main. Sementara di sisi lain, Presiden Jokowi bertindak hati-hati terkait dengan pencalonan di 2019. Survei yang menempatkan elektabilitas Jokowi 41 persen dan Prabowo di angka 22 persen. Angka ini menunjukkan popularitas Jokowi sebagai petahana ada pada angka yang sama pada 5 bulan menjelang Juli 2014. Dalam kondisi seperti ini, Timses Prabowo akan bergerak cepat untuk bertindak dengan model seperti Pilkada DKI yang dinilai berhasil.

    Untuk Pilpres 2019, kampanye akan cenderung diisi dengan kampanye dengan strategi (1) mobilisasi massa dengan melemparkan isu-isu yang sekarang bergulir, (2) menggunakan media sosial, (3) mesin partai dan (4) libatan dana kampanye yang luar biasa besar. Isu yang akan bergulir tidak jauh terkait isu yang sangat berbahaya dan merusak  termasuk SARA. Potret itu seperti yang terlihat di Pilkada DKI. Untuk Pilpres 2019 isu tentang PKI akan menjadi hangat dan panas.

    (Tentang isu kampanye ini, Timses Prabowo memiliki kecerdasan untuk mengecoh arah kampanye, mengubah strategi, dsb. maka kubu Jokowi harus bertindak cerdas untuk membuat rencana kontinjensi, contingency plan; rencana A, B, C, D dengan pemetaan yang matang dan cerdas, dengan tenaga ahli dari berbagai bidang seperti komunikasi, strategi kampanye, ahli politik, psikologi massa, sejarah dan sebagainya.)

    Maka, peta kekuatan di atas akan memberikan perhatian dan kesadaran bahwa perjuangan Prabowo tidak pernah berhenti untuk memenuhi ambisi menjadi Presiden RI. Para pendukungnya pun solid. Uang bejibun. Timses telah terbentuk sempurna. Rancangan strategi kampanye tereksekusi dengan organisasi rapi.

    Di sisi lain, tindakan dan strategi Prabowo secara alamiah membuat para pendukung Jokowi tetap bertahan, blessing in disguise. Namun, pembiaran dan pelambatan memulai kampanye dengan strategi menunggu oleh Timses Jokowi yang belum terorganisasikan dan sporadis hanya akan membuat posisi bertahan. Dalam politik, menyerang dengan cerdas dan elegan tetap sebagai salah satu cara kampanye cerdas.

    Itulah gambaran nyata peta kekuatan politik Prabowo dan Jokowi untuk 2019. Tentang riak dan perkembangan tingkah laku politik tentu akan sangat dinamis. Itu modal bagi pendukung Jokowi dan Prabowo untuk bergerak atau diam atau pasrah melihat nasib bangsa 2019-2024.

    (Dan lupakan dua manusia kerdil penakut ngacir Rizieq Shihab dan si manusia mencla-mencle Amien Rais.)

    Salam bahagia ala saya.


    Penulis :   Ninoy Karundeng   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Lupakan Rizieq dan Amien, Tengok Peta Kekuatan Jokowi dan Prabowo 2019 Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top