728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 05 Juni 2017

    Kontroversi “Saya Indonesia, Saya Pancasila”, Keberhasilan Jokowi

    Bertahun-tahun mengenal Pancasila, menghafal kelima silanya, menghafal lagunya sejak SD, mengikuti penataran P4-nya saat kuliah, baru kali ini merasakan euforia Pancasila di mana-mana, bersama-sama. Kalau dulu waktu kecil bergembira menyanyikan lagu “Garuda Pancasila”, kini menyebut Pancasila dengan bangga dan perasaan berbeda.

    Ini semua awalnya karena Presiden RI yang bersahaja ini menegaskan dalam kalimat yang mudah dicerna dan diingat, “Pancasila itu jiwa dan raga kita. Ada di aliran darah dan detak jantung kita, perekat keutuhan bangsa dan negara. Saya Jokowi, Saya Indonesia, Saya Pancasila.”

    Sontak, kurang dari sehari publik netizen ramai-ramai ikut mendeklarasikan “Saya Indonesia Saya Pancasila” (SISP). Mereke menuliskan status di medsos-medsos, mengupload meme yang bertuliskan dua kalimat tersebut. Tidak sedikit pula yang menyebutkan namanya sebelum dua kalimat tadi. Ada juga yang memvideokannya. Inilah euforia kedua publik yang bersifat verbal atau kata-kata. Kurang lebih setahun lalu mereka ramai menyatakan “Kami Tidak Takut” (terhadap teror). Dan kini berulang, dengan kalimat, konteks, dan muatan makna mendalam yang berbeda.

    Baik yang pertama (Kami Tidak Takut) maupun yang kedua (Saya Indonesia Saya Pancasila) sama-sama diinisiasi oleh Presiden kita, Joko Widodo. Yang pertama karena dipicu oleh aksi teror di Thamrin Jakarta, dan yang kedua dipicu oleh semangat kebangsaan yang kini sedang digelorakan kembali oleh Presiden. Dan publik menyambut ajakan Presiden dengan senang hati dan gembira. Bahkan pekan ini disebut sebagai Pekan Pancasila.

    Maka, dalam hari-hari ini media sosial ramai dengan tulisan dan meme SISP. Tidak ketinggalan, wacana dan diskusi mengenai Pancasila turut meramaikan. Dulu, setiap 1 Juni terasa biasa-biasa saja, bahkan tidak terasa ada, berlalu begitu saja seperti hari-hari lainnya. Namun tahun ini, setelah pada tahun 2016 lalu Presiden menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila, maka publik seolah disadarkan kembali dengan Pancasila yang sekian lama tidak menggugah kesadaran. Siapa yang memulai ini? Jokowi, yang sekarang Presiden RI.

    Dulu memang kita sering mendengar Hari Kesaktian Pancasila pada tanggal 1 Oktober. Namun sudah belasan tahun berselang, kita tidak begitu ngeh lagi dengan Pancasila. Seingat saya, bahkan peringatan tentang Hari Kesaktian Pancasila sudah lama tidak diadakan. Barulah sekarang, pada 1 Juni yang ditetapkan oleh Presiden Jokowi sebagai Hari Lahir Pancasila, tanggal di mana Soekarno mengenalkan di depan sidang BPUPKI istilah Pancasila, bangsa Indonesia secara massal membicarakan lagi Pancasila.

    Seperti biasa, pro kontra beterbangan. Kita mencatat, apa saja yang keluar dari Jokowi selalu menimbulkan pro dan kontra di kalangan publik, selalu memicu diskusi dan wacana, bahkan “perang opini”. Di sini kita tidak perlu membicarakan yang pro. Cukuplah untuk membicarakan mereka dengan menyebut bagaimana mereka begitu antusias turut mendeklarasikan dua kalimat bernas di atas, “Saya Indonesia Saya Pancasila.” Dan rupanya, kelak dua kalimat ini akan terus dikenang, dan bisa jadi akan terus disuarakan setiap tanggal 1 Juni pada tahun-tahun berikutnya. Kecuali jika “kondisi Indonesia berubah”.

    Tulisan ini lebih mengulas kalangan yang kontra, atau kalangan yang menyorot kalimat SISP dengan suara kritis bahkan nyinyir. Setidaknya ada empat hal yang bisa kita catat dari kalangan yang kontra.

    Pertama, di antara mereka ada yang menyebut orang-orang yang mendeklarasikan SISP sebagai muallaf Pancasila, latah, atau lainnya. Penyebutan muallaf dimaksudkan bahwa pengucap SISP dianggap sebagai orang yang baru mengenal Pancasila, atau baru memahaminya, atau sebut saja sebagai orang yang “awam Pancasila”. Kalangan ini seolah lupa bahwa deklarasi ini muncul sebagai respon atas realitas kebangsaan akhir-akhir ini.

    Artinya, bisa sebaliknya, justru para deklarator SISP itu adalah orang-orang yang saat ini sedang memiliki kesadaran baru yang mendalam mengenai Pancasila, dengan pemahaman dan pemaknaan yang lebih baik ketimbang para penyinyirnya. Lagi pula, jika para deklarator disebut muallaf, memangnya mereka sendiri tidak?

    Kedua, di antara mereka ada juga yang menyoal tentang diksi subjeknya, mengapa SAYA, bukan KAMI atau KITA. Masuk dalam kalangan ini, tidak ketinggalan, adalah Anies Baswedan yang mengomentarinya saat acara Buka Puasa di KAHMI Jakarta. Katanya, jika menggunakan kata “Saya Pancasila”, itu seperti memaknakan “Anda siapa” (Anda yang bukan saya). Maksudnya, ini seperti “menuduh” orang yang tidak mengatakannya tidak Pancasila.

    Menurut saya, kalangan ini seolah tidak memperhatikan konteks dan history bagaimana kalimat ini pertama kali muncul dan diucapkan. Seperti kita sama-sama ketahui, dua kalimat SISP yang awalnya diucapkan oleh Presiden itu merupakan kelanjutan dari kalimat sebelumnya yang berbunyi, “Saya Jokowi…” Nah, karena awalnya adalah “Saya…”, maka tentu saja subjek dalam kalimat berikutnya juga Saya. Jika kelanjutannya tiba-tiba menjadi “Kita Indonesia Kita Pancasila”, ya tentu saja tidak menyambung.

    Maka, ketika setiap orang menyatakan SISP ini, tersirat diawali oleh frasa “Saya ….” (nama dirinya). Karena sedang menyebut nama dirinya, tentu saja tidak nyambung jika menggunakan diksi KAMI atau KITA. Oleh karena itu, mesti dipahami sejarah awal bagaimana kalimat SISP itu muncul, dan dalam konteks apa. Jika dipahami di luar konteks historisnya, juga koherensinya dengan kalimat sebelumnya, maka wajar saja terjadi kesalahpahaman tersebut.

    Adapun untuk menjawab keberatan bahwa ini seperti menuduh orang di hadapan sebagai tidak Pancasilais, toh khan maksud Presiden juga untuk mengajak semua warga tanpa kecuali menyuarakan hal yang sama: semua orang bersura sama, menyatakan hal yang sama, Saya Indonesia Saya Pancasila. Semuanya berkata demikian. Jika semua orang berkata sama, itulah kita yang tak terpisahkan. Mengapa menggunakan kata saya, agar pendalaman maknanya lebih masih ke sisi eksistensial dari setiap orang.

    Jadi, kalangan yang menyebut bahwa kata SAYA seperti menuduh ANDA tidak Pancasilais, saya pikir itu terlalu sensitif. Berpikir positif lebih baik. Jangan lupa, terlalu sensitif bisa sakit.

    Ketiga, di kalanan yang kontra itu ada juga yang menyoal bahwa Indonesia dan Pancasila itu bukan kata sifat (ajektif), melainkan kata benda (noun). Kata mereka, seharusnya katakanlah, “Saya Indonesianis (atau warga Indonesia, atau WNI, atau orang Indonesia), Saya Pancasilais”. Saya Orang Indonesia, Saya Pancasilais. Itu baru benar, kata mereka. Nah, tentang soal ini, mereka seolah melupakan bahwa dalam ungkapan sehari-hari kita juga sering menggunakan kata benda untuk kata sifat, atau sebaliknya kata sifat untuk kata benda.

    Contohnya begini: Ungkapan “Itu GUE banget“, misalnya. Kata gue bukan kata sifat, tetapi dalam kalimat tadi ia diposisikan sebagai kata sifat. Atau, ungkapan lainnya, misalnya “Dalam GELAP malam, kutemukan diriku.” Kata gelap adalah kata sifat (ajektif), bukan kata benda (noun). Kalau mau sesuai aturan baku, seharusnya ungkapan itu begini, “Dalam KEGELAPAN malam, …” Nah, ungkapan “Dalam GELAP malam, kutemukan diriku,” kata GELAP adalah kata sifat yang diposisikan sebagai kata benda.

    Di Al-Quran juga kita temukan gaya bahasa  yang serupa. Misalnya ayat, “Dan tanyalah DESA/NEGERI tempat kita berada…” (QS Yusuf, 12:82). Di sini Allah menyebut kata Desa atau Negeri. Jika kita memahaminya secara tekstual, apakah mungkin desa bisa menjawab pertanyaan penanya? Tentu saja tidak! Yang bisa berbicara dan menjawab pertanyaan adalah penduduknya. Lalu mengapa Al-Quran mengungkap ungkapan demikian? Ya itulah gaya bahasa. Dalam bahasa Arab ada ilmu bernama balaghah, ada kinayah, ada isti`arah, dan lainnya…

    Begitu pun dalam ungkapan sehari-hari, termasuk ungkapan Jokowi belum lama ini yang trending, “Saya Indonesia, Saya Pancasila.” Ungkapan yang maknanya tidak hanya dimengerti dari kata-katanya, tetapi dari muatan makna yang diangkutnya, apalagi dengan konteks saat ini.

    Keempat, di antara mereka juga ada yang menyoal subtansi maknawi dari ungkapan “Saya Pancasila” ini. Kata mereka, kalimat ini bisa “berbahaya”. Jika seseorang berkata “Saya Pancasila”, itu memaknakan bahwa Pancasila adalah dirinya, atau dirinya adalah Pancasila. Nanti, jika misalnya ada seorang pejabat yang tertangkap korupsi dan ia sebelumnya pernah berkata, ‘Saya Pancasila”, maka seolah-olah Pancasila ditangkap. Masa Pancasila ditangkap, katanya.

    Menurut saya, kalangan yang keempat ini terlalu mengada-ada. Ketika setiap warga negara menyatakan “Saya Pancasila”, itu tentu saja tidak bermakna bahwa dirinya adalah Pancasila, apalagi bahwa Pancasila adalah dirinya. Sama sekali bukan. Ungkapan dan ucapan itu malah sebagai proses dalam upaya internalisasi nilai-nilai Pancasila ke dalam dirinya. ia sedang berusaha memasukkan nilai Pancasila ke dalam kesadaran diri, kemudian diupayakan menyatu dalam ucapan dan tingkah lakunya.

    Jika misalnya suatu saat ada orang yang pernah mengatakannya kemudian ditangkap karena sebuah kejahatan atau tindak pidana, ya tentu saja bukan Pancasilanya yang ditangkap. Itu justru bermakna bahwa orang tadi sedang kehilangan nilai Pancasila dari dirinya. Kurang lebih sama dengan ungkapan di kalangan sufi dahulu, misalnya al-Hallaj yang berkata “Aku adalah Al-Haqq” (Aku adalah Kebenaran), itu tidak dimaknai bahwa ia adalah Tuhan. Itu hanya ungkapan al-Hallaj yang sedang menginternalisasikan al-Haqq ke dalam dirinya, bukan menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Sama sekali bukan.

    Alhasil, begitulah. Pekan Pancasila masih berlangsung. Dan kontroversi tentang Saya Indonesia Saya Pancasila masih terdengar dan terbaca. Sebagai proses pembelajaran nasional, diskusi dan kontroversi ini wajar-wajar saja. Kita semua jadi belajar lebih banyak, sehingga paham juga lebih baik.

    Yang jelas satu hal. Kontroversi ini sekaligus menunjukkan kepada kita semua bahwa sosok Presiden kita ini sangat unik dan hebat. Bayangkan, banyak ucapan dan tindakannya yang selalu direspon secara luas oleh masyarakat banyak, sering menjadi tema bahasan, diskusi, dan perbincangan cukup lama.

    Jadi jelas, percaya atau tidak, suka atau tidak, Jokowi telah berhasil mensetting pikiran dan wacana banyak orang. Baik bagi yang menyukainya, maupun yang membencinya. Ini salah satu bukti, bahwa Jokowi yang sederhana ini berhasil mendidik bangsa untuk belajar: belajar kembali Pancasila. Jokowi memang seorang trendsetter yang efektif. Diakui atau tidak..!.

    Saya Indonesia, Saya Pancasila…!



    Penulis :  Mahya Lengka   SUmber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kontroversi “Saya Indonesia, Saya Pancasila”, Keberhasilan Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top