728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 13 Juni 2017

    Kolaborasi Kelompok Koruptor Radikal & Agama Radikal: Indonesia Gawat Darurat

    Masih ingat pertanyaan klasik berikut: “Mana lebih dulu ada di dunia, ayam atau telur?” Pertanyaan yang tampaknya sepele tapi dapat menciptakan debat kusir berkepanjangan untuk kaum awam. Pertanyaan ini lebih cocok untuk para ilmuwan yang berkutat dengan penelitian tentang ayam dan telur. Untuk kita-kita yang awam? Daripada menguras enerji sia-sia karena berdebat “andong,” mending begitu ketemu ayam atau telur, siapa tahu bisa dua-duanya sekaligus di meja makan, langsung saja sikat tanpa banyak “cincong.”  Hitung-hitung nambah gizi, khusus untuk anak kost-kost an. Pisss!

    Pertanyaan klasik ini baru relevan kalau sudah mendapat sentuhan modifikasi. Utamanya terkait dengan konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Berikut hasil modifikasinya: “Mana yang lebih dulu hadir dan berbahaya: Kelompok koruptor radikal atau kelompok agama radikal?” Sebelum menjawab, ada baiknya terlebih dulu untuk sepakat tentang definisi operasional 2 variabel ini.  Dengan catatan, tentu saja syarat dan ketentuan berlaku sesuai dengan persepsi penulis. Hehehe, pisss lagi ya.

        Kelompok Koruptor Radikal
        Individu-individu yang saling berkerja sama untuk melestarikan perilaku dan budaya korupsi dengan segala cara meski harga yang harus dibayar adalah kehancuran NKRI tercinta.

        Kelompok Agama Radikal
        Sekelompok orang yang berpikir secara sempit, kaku, dan bersikap eksklusif terhadap agama-agama lain, seraya berupaya menjadikan  Indonesia menjadi negara berbasis agama tertentu dengan menghalalkan segala cara.

    Mari Kembali Ke Pertanyaan

    Guna menjawab pertanyaan hasil modifikasi di atas, ada baiknya untuk me-review secara ringkas kiprah para presiden Indonesia. Mulai dari Soekarno, sebagai presiden pertama, sampai presiden ke-7 yang masih menjabat sampai saat ini, yaitu Jokowi.

    Soekarno

    Jujur, relatif sulit untuk mendeteksi apakah kelompok koruptor radikal pada masa Soekarno sudah hadir di bumi Indonesia. Maklum, euforia kemerdekaan masih melanda hebat masyarakat Indonesia pada masa itu. Di mana-mana yang terdengar hanya dan selalu pekik kemerdekaan sambil mengacungkan tangan ke udara: Merdeka, merdeka, merdeka! Jadi, pada masa Soekarno, masyarakat belum “melek” sehingga relatif tidak peduli dengan masalah korupsi. “Boro-boro” mikir korupsi, masih bisa survive pasca perang kemerdekaan saja, puji TUHAN. Ditambah lagi, teknologi informasi pada masa itu belum secanggih saat ini. Semua masih serba manual dan mengandalkan kertas. Kalaupun terjadi kasus korupsi, dengan mudah dapat “dihilangkan.” Berbeda dengan era internet sekarang. Semua terekam jelas dan dapat terlacak.

    Bagaimana dengan kelompok agama radikal? Tidak bisa dipungkiri, bibit-bibit nya sudah muncul jelang dan pasca kemerdekaan. Kristalisasi dari bibit-bibit kelompok agama radikal ini berwujud  DI/TII di beberapa daerah Indonesia. Dengan berbendera agama, kelompok ini mencoba memberontak guna memerdekakan diri dari Indonesia. Beruntung Soekarno sigap dan tegas. Meski butuh waktu dan bahkan jatuh korban jiwa yang tidak sedikit, pemberontakan kelompok agama radikal ini akhirnya terpatahkan.

        Kesimpulan:

            Kelompok koruptor radikal pada masa Soekarno relatif belum hadir;
            Kelompok agama radikal memang berhasil Soekarno patahkan. Namun patut menduga, ideologi kelompok ini masih tumbuh subur walau bersifat “gerarkan bawah tanah.”

    Soeharto

    Selaku pengganti, Soeharto tampaknya menerapkan pendekatan yang relatif sama dengan Soekarno. Bahkan lebih represif. Nasib kelompok agama radikal  sangat miris. Berani “macem-macem,” GEBUK, TENDANG, atau PETRUS-in alias no mercy! Akibatnya, kelompok ini tiarap setiarap tiarapnya.  Walau demikian, ada indikasi bahwa kelompok agama radikal ini ini terus  “membiakkan” ideologi mereka tanpa henti. Tentu dengan cara yang sama dengan masa Soekarno. Sembunyi-sembunyi alias “gerilya bawah tanah.”  Berbeda dengan “gerilya masjid” ala  Eep yang terkesan mendapat dukungan penuh dari Ketua Dewan Masjid, khususnya saat Pilkada DKI Jakarta 2017. Tidak heran, selama Soeharto memerintah ± 32 tahun, Indonesia relatif aman dari rongrongan dan gangguan kelompok agama radikal.

    Tragisnya, di saat kelompok agama radikal nyaris tidak terdengar, justru perilaku korupsi mulai tumbuh subur. Memang diawal pemerintahan Soeharto, korupsi belum menjadi “gaya hidup” para elite. Semakin lama berkuasa, baru perilaku korupsi mulai membudaya. Hebatnya, Soeharto mampu me-“manage” dengan baik perilaku korupsi. Peluang korupsi hanya berlaku sebatas para kroni saja. Ditambah ketika anak-anak Soeharto beranjak dewasa dan mulai terjun ke dunia bisnis. Perilaku korupsi semakin membudaya. Lagu Iwan Fals berjudul “Bento” dan “Bongkar” adalah gambaran yang pas terkait hal ini. Bagaimana dengan masyarakat umum? Cukup beri subsidi, baik BBM, berbagai kebutuhan bahan pokok, dan lain sebagainya. Dana untuk subsidi? Ciptakan hutang luar negeri. Hasilnya? Situasi dan kondisi ini terpelihara dengan baik.

        Kesimpulan:

            Kelompok agama radikal sedang tiarap, walau patut menduga tetap menyebarkan ideologi secara terselubung;
            Perilaku korupsi sudah semakin membudaya walau relatif belum bersifat radikal.

    Habibie, Gus Dur, & Megawati

    Secara ringkas, pada masa Habibie, Gus Dur, dan Megawati menjadi presiden ke-3, ke-4, dan ke-5 Indonesia, gerakan kelompok agama radikal relatif masih sama seperti masa Soeharto. Tetap ber-“hibernasi,” walau patut menduga terus melakukan “gerilya bawah tanah” menyebarkan ideologi agama yang bersifat radikal.

    Perilaku korupsi? Di sini uniknya! Hasil REFORMASI 1998 yang mengakibatkan Soeharto lengser rupa-rupanya mendapat makna baru. Bukan pembaharuan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkeadilan dan beradab. Justru, mengalami reformasi pada pola korupsi. Kalau masa Soeharto hanya keluarga dekat dan para kroni yang bisa dengan mudah melakukan korupsi. Sedang di era reformasi, perilaku korupsi melanda di hampir semua level. Termasuk lembaga legislatif yaitu DPR yang katanya “wakil rakyat.’ Tidak aneh kalau DPR menduduki peringkat tinggi sebagai lembaga terkorup di Indonesia. Akibatnya, virus korupsi terus merambah sampai level kelurahan maupun RT/RW. Pembangunan pun menjadi relatif jalan di tempat dan pemerataan pembangunan semakin “jomplang.”

        Kesimpulan:

            Kelompok agama radikal masih ber-hibernasi walau patut menduga tetap melakukan gerilya bawah tanah dalam menyebarkan ideologi;
            Kelompok koruptor radikal juga belum muncul kepermukaan. Lumrah, karena era reformasi membuka peluang lebar untuk melakukan korupsi, baik secara pribadi maupun berjamaah.

    SBY

    Era SBY, relatif sama dengan era Habibie, Gus Dur, dan Megawati. Pada zaman SBY, para koruptor radikal masih belum tampak. Hanya saja perilaku korupsi oleh elite negara dan politik serta sekelompok pengusaha semakin merajalela dan mengganas. Hutang luar negeri semakin menumpuk. Ironisnya, bukan untuk membangun negara yang berkeadilan dan beradab tetapi justru untuk “banca’an.” Tidak heran kalau pembangunan di era SBY relatif jalan di tempat dan bahkan  banyak yang mangkak. Salah satu contoh fenomenal adalah “Proyek Hambalang.”

    Di tengah-tengah perilaku dan budaya korupsi yang semakin merajalela dan mengganas, kelompok agama radikal dengan “label” ormas keagamaan semakin tampak nyata.  Salah satu contoh adalah FPI. Terkesan kelompok agama radikal ini sengaja dibiarkan, bahkan dipelihara. Hanya saja, kehadiran kelompok agama radikal pada era SBY ini tampaknya masih sibuk dengan diri sendiri. Kalaupun melakukan “aksi,” masih bersifat sporadis dengan target kelompok “bawah” (baca: warung-warung saat bulan puasa dan lain sejenisnya). Aksi berskala nasional seperti ingin mendirikan “khilafah,” gaungnya masih belum terdengar keras.

        Kesimpulan:

            Kelompok koruptor semakin merajalela tetapi belum mengarah pada radikalisme. Patut menduga karena di era SBY, mereka mendapat “fasilitas” khusus sehingga merasa masih “nyaman.” Bayarannya, adalah SBY menjadi presiden selama 2 periode berturut-turut;
            Kelompok agama radikal mulai tampak hadir walau gerakannya belum berskala nasional seperti ingin menggulingkan pemerintahan yang sah.

    Jokowi

    Keberhasilan Jokowi menjadi presiden ke-7 Indonesia menghadirkan atmosfir baru yang sudah lama diidam-idamkan masyarakat waras dan bernurani. Slogan “Revolusi Mental” tidak hanya sebatas retorika saat pilpres saja. Jokowi sungguh-sungguh membuktikannya lewat konsep KERJA, KERJA, dan KERJA. Tidak heran kalau pembangunan berbagai macam infrastruktur terjadi di mana-mana. Tidak lagi melulu hanya terpusat di pulau Jawa seperti yang sudah-sudah. Berbagai wilayah  terpencil seperti pedalaman Papua atau pulau-pulau terluar mulai merasakan sentuhan pembangunan. Pemerataan pembangunan mulai terwujud. Bayangkan, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan dapat terjadi pada masa sebelum Jokowi, kini terwujud hanya dalam kurun waktu relatif singkat, yaitu ± 3 tahun menjabat.

    Lebih hebat lagi, Jokowi tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur yang sistemik dan masif. “Revolusi Mental” juga merambah ke upaya pemberantasan korupsi beserta turunannya, yaitu kolusi dan nepotisme. Transparansi anggaran terjadi di segala bidang. Penegakan hukum tidak lagi tumpul ke atas, tajam ke bawah. Melainkan mulai berimbang, yaitu tajam baik ke atas maupun ke bawah. Dengan “Revolusi Mental,” Jokowi semakin mempersempit ruang gerak para koruptor untuk terus merajut mimpi indah. Pelan tapi pasti, upaya memberantas korupsi semakin nyata.

    Apa lacur? Dunia para koruptor pun GEGER! Akibatnya terjadi ANOMALI ajaib. Para koruptor tidak hanya bangun dari mimpi buruk.  Mereka dengan segera memainkan jurus maut nan beringas.  Liciknya, bak seorang dalang di belakang layar, mereka memperalat kelompok agama radikal yang selama ini ber-“hibernasi.”  Kucuran dana pun membanjiri kelompok agama radikal untuk melakukan berbagai aksi demo berjilid dengan menggunakan simbol angka keramat togel. Kolaborasi mereka menghasilkan kekalahan Ahok-Djarot di Pilkada DKI Jakarta. Bahkan Ahok pun kini harus mendekam di penjara terkait kasus video editan Buni Yani. Tidak berhenti di Ahok, moncong senjata kini semakin mereka arahkan ke Jokowi.

        Kesimpulan:

            “Revolusi Mental” ala Jokowi sukses membuka kedok kelompok koruptor radikal yang selama ini terkesan santun dan mencintai NKRI;
            Kelompok agama radikal yang selama ini ber-“hibernasi” mulai bangun dan langsung melakukan berbagai aksi demo berjilid dengan dukungan kucuran dana dari kelompok koruptor radikal.

    Jawaban Atas Pertanyaan

    Mengacu era Soekarno maka dapat menyimpulkan kelompok agama radikal yang lebih dulu hadir di Indonesia. Seiring dengan waktu dan penggantian kepala negara, perilaku korupsi semakin membudaya. Era Jokowi membuat para koruptor bertransformarsi menjadi kelompok koruptor radikal. Kelompok ini tidak peduli dengan keutuhan NKRI tercinta. Tujuannya cuma satu, yaitu tetap punya kekuasaan guna bebas melakukan praktek korupsi seperti masa lalu. Untuk itu, segala cara mereka tempuh. Salah satunya dengan  cara memperalat  kelompok agama radikal. Dengan demikian, kelompok koruptor radikal kini menjadi bahaya laten yang harus dibasmi sampai ke akar-akarnya. Dengan  binasanya mereka, kelompok agama radikal relatif akan  kehilangan taji sebab tidak lagi memperoleh sokongan dana.

    Oleh karena itu, di saat Jokowi sedang berusaha maksimal memajukan Indonesia sambil memberantas perilaku dan budaya korupsi, menjadi kewajiban yang waras dan bernurani untuk membantu Jokowi secara maksimal. Caranya antara lain dengan menjaga kewarasan dan nurani agar tidak kalah dengan iming-iming kelompok koruptor radikal yang tanpa sungkan menghalalkan segala cara. Selain itu, juga harus terus menyuarakan kebenaran dan keadilan di tengah-tengah masifnya berita HOAX dari kelompok koruptor radikal maupun patner in crime nya, yaitu kelompok agama radikal. Niscaya, pada waktu TUHAN, mereka akan kalah dan Indonesia pun akan jaya! Selamat berjuang tanpa henti guna  mewujudkan “Indonesia Jaya!”




    Altera manu fert lapidem, panem ostentat altera (Tangan yang satu menggenggam batu, sedang tangan yang lain menunjukkan roti);

    Ever Onward No Retreat. GOD Bless Indonesia Jaya!




    Penulis  :  Rohadi Sutisna   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kolaborasi Kelompok Koruptor Radikal & Agama Radikal: Indonesia Gawat Darurat Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top