728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 13 Juni 2017

    Ketika Pansus DPR tentang KPK Tak Luput dari Kicauan Bang Ruhut

    Munculnya Panitia Khusus DPR untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ternyata tak luput dari pantauan Bang Ruhut Sitompul. Dari akun twitternya @ruhutsitompul dikicaukanlah tentang koruptor yang berdalih jadi korban politik.

            “KPK lahir thn 2002 di era Ibu Megawati Soekarno Putri Presiden RI utk Mencegah & Memberantas Korupsi, eh KORUPTOR berdalih Korban POLITIK,” tulis Ruhut di akun twitternya, Kamis (8/6/2017).


    Jleb. Tentu saja. Mantan petinggi Partai Demokrat ini memberi kisi-kisi tentang kebusukan DPR. Ketika banyak dari mereka yang terindikasi korupsi secara tergesa mencitrakan diri sebagai korban politik. Ini kan 11-12 dengan gaya Amien Rais.

    Ketika namanya mulai disebut di ruang sidang karena kasus korupsi lalu berteriak. Dikatakanlah kalau KPK mengalami pembusukan. Padahal yang bau busuk itu mulut Amien Rais sendiri, bukan?

    Maklum tokoh Reformasi, pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) ini antara mulut dan dengkulnya sudah tidak sinkron lagi. Anies-Sandi perlu membantu untuk program sinkronisasi mulut dan dengkul Amien Rais begitu dilantik nanti. Semoga Tim Sinkronisasi Anies Sandi mencatat.

    Gara-garanya kita tahu semua. Politisi renta itu belum juga merealisasi nazarnya jalan kaki Jogja-Jakarta kalau Jokowi Presiden. Padahal dalam Islam, nazar yang tidak dipenuhi bisa berakibat menistakan atau menodai keyakinan terhadap hukum nazar.

    Tentang nazar, hukum penunaiannya adalah wajib. Baik nazar tersebut nazar mu’allaq atau nazar muthlaq. Dalil yang menunjukkan wajibnya adalah,

    ﻣَﻦْ ﻧَﺬَﺭَ ﺃَﻥْ ﻳُﻄِﻴﻊَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﻠْﻴُﻄِﻌْﻪُ

    “Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut.” (HR. Bukhari no. 6696)

    Lagipula, Amien Rais jelas bukan orang kafir yang bisa membuat nazarnya tidak sah dalam Islam. Mengingat kalau namanya kafir jelas bukan termasuk dalam ahli bagi kerja ibadat kepada Allah. Amien Rais juga bukan golongan kanak-kanak dan orang gila yang bagi mereka ini tidak termasuk ahli untuk mewajibkan sesuatu ke atas mereka.

    Sekali lagi, semoga setelah Anies-Sandi dilantik tidak melupakan pentingnya program sinkronisasi mulut dan dengkul Amien Rais ini. Mengingat, Amien Rais masih menjadi sumber inspirasi DPR ketika membuat panitia angket tentang KPK. Sampai-sampai PAN harus plin-plan gara-gara Amien Rais diduga tersangkut kasus korupsi.

    Karena mulut dan dengkul Amien belum sinkron, layaklah dipertanyakan mengapa DPR seolah malah berguru kepada tokoh seperti Amien Rais ini? Mendorong panitia angket untuk KPK. Apakah DPR dengan dalil mlakukan proses politik sengaja hendak mengacaukan KPK? Dalam hal ini apakah DPR terus-terusan berkehendak bikin muak rakyat?

    Opini M Subhan SD, dalam kompas.com yang secara deskriptif mecandra DPR layak disimak supaya kita tidak lupa dengan kinerja dewan yang mendapat legitimasi sebagai wakil rakyat ini.

    “Di zaman Orde Baru sepanjang lebih dari tiga dekade, publik muak menyaksikan Dewan Perwakilan Rakyat yang melempem, tidak berani, “bisu”, yes man, selalu bersuara sama. Interupsi hampir tidak ada dalam sidang-sidang di DPR/MPR. Maka, ketika ada anggota Fraksi ABRI, Brigadir Jenderal TNI Ibrahim Saleh, melakukan interupsi pada sidang MPR/DPR 1988 yang menolak pencalonan Wakil Presiden Sudharmono, insiden interupsi itu menjadi legenda sepanjang sejarah DPR semasa Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.

        Di zaman reformasi sekarang ini, sebaliknya publik sama muaknya ketika menyaksikan DPR yang berani, bersuara keras, vokal, ngotot, tampak powerfull. Interupsi tidak terhitung, berlomba paling keras suara. Bahkan, saling adu jotos dan banting meja sudah masuk “sejarah baru” DPR saat ini. Ketika era demokrasi semakin terbuka, transparan, dinamis, dan bebas, suara keras justru membuat telinga pekak. Apalagi, perilaku anggota DPR sudah terlalu minor di mata publik: banyak terjerat korupsi, ada yang berurusan dengan persoalan etika dan moral, manuver politik, hingga kinerja yang jeblok.”

    Tidak heran bila Panitia Angket DPR untuk Komisi Pemberantasan Korupsi ditengarai sengaja dibuat untuk mengacaukan kerja KPK yang sudah berjalan sesuai jalurnya. Obyektivitas dari Panitia Angket DPR juga diragukan karena ada konflik kepentingan anggota DPR dengan KPK.

    Emerson Yuntho dari Indonesia Corruption Watch, dalam diskusi Menyelamatkan KPK, di Jakarta, Senin (12/6), mengatakan bahwa ada 16 upaya pelemahan terhadap KPK dan 8 di antaranya dilakukan DPR. Benar-benar memuakkan kinerja dan sikap mental oknum DPR hingga institusi yang menyetujui panitia angket untuk KPK. Edian njaran tenan DPR kuwi Cak… Apalagi kalau tiba-tiba terbayang raine Fadli Zon dan Fahri Hamzah…

    Mau tidak mau, kicauan Bung Luhut lewat akun twitternya di atas pantas dicamkan. Ternyata DPR itu sarang KORUPTOR, Cak… Sekarang mereka berdalih jadi Korban POLITIK. Druhun tenan!




    Penulis  :  Setiyadi RXZ   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ketika Pansus DPR tentang KPK Tak Luput dari Kicauan Bang Ruhut Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top