728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 19 Juni 2017

    Ketika Kearifan Lokal Ditinggalkan dan Mengimport Budaya Teror dari Timteng

    Setiap daerah di suatu negara, memiliki kebudayaan masing-masing yang menjadi ciri khas tempat tersebut. Semua memiliki kebiasaan yang menjadi watak setiap suku bangsa.

    Orang Indonesia sangat terkenal dengan keramahannya, namun saat ini hal tersebut sudah terkikis akibat virus yang dibawa oleh kaum bumi datar, akibatnya rasionalitas sudah dikesampingkan.

    Indonesia  merupakan negara yang kaya akan banyak hal, dari kekayaan alam yang melimpah sampai kekayaan budaya yang beragam.

    Keberagaman budaya dapat memperkaya kebaikan, karena memiliki sumber-sumber kebaikan yang lebih banyak, dan ini merupakan hal yang sangat istimewa.

    Membid’ahkah kearifan lokal  dan cocoklogi ala bumi datar

    Pada zaman dahulu, para Wali Songo menyebarkan agama Islam dengan tauladan disertai pemaknaan keraifan lokal, dan akhirnya Indonesia menjadi negara mayoritas Islam, mau tidak mau harus diakui, mereka sangat berjasa dalam syiar agama Islam di bumi Nusantara.

    Salah satu wali songo yang menjadi idola saya adalah Sunan Kali Jogo. Walaupun beliau seorang wali yang tidak diragukan lagi keislamannya, tetapi beliau masih mengenakan pakaian khas Jawa. Menggunakan kesenian wayang untuk syiar juga dilakukan beliau. Apakah ada yang berani bilang, bahwa Sunan Kali Jogo bukan Islam karena tidak memakai baju gamis ala Timur Tengah?

    Bisa dibandingkan dengan jaman ini, orang yang baru mengkaji ilmu agama baru sedikit, yang penting menggunakan baju gamis ala Timur tengah sudah dianggap ustadz dan ulama, apa lagi jika seorang itu merupakan mualaf, sudah pasti memiliki peluang pasar yang mencengangkan untuk berkhotbah. Bahkan sampai saat ini, saya bingung, kriterianya apa sih untuk bisa disebut ulama atau Ustadz? Karena akhir-akhir ini banyak ujaran kebencian yang dilakukan oleh oknum ustadz yang entah dari mana asalnya.

    Kegiatan keagamaan Islam khas Indonesia pada saat ini juga ingin digerus dengan membid’ahkan hal tersebut. Tidak itu saja, karena tidak bisa menghancurkan peninggalan sejarah dengan bukti yang valid, para kaum bumi datar mulai melakukan cocoklogi, seperti yang dilakukan kepada candi Borobudur dan patih Gajah Mada.

    Lebih ekstrim lagi, bahkan terakhir kali tari gending Sriwijaya pernah ada wacana akan dimusnahkan, karena tidak sesuai dengan syariat Islam, seperti yang pernah saya tulis di sini (https://seword.com/umum/palembang-akan-musnahkan-tari-gending-sriwijaya/).

    Yang ramah diganti marah

    Islam  rahmatan lil’alamin, dengan artian membawa rahmat bagi semua, saat ini dicoreng oleh beberapa oknum Islam garis keras dengan propaganda yang begitu masive. Di dunia maya, dengan begitu mudahnya beberapa oknum yang mengaku ustadz dan ulama mengatakan bunuh dan penggal, Cuma lantaran berbeda pendapat juga keyakinan. Kearifan lokal yang terkenal dengan keramahannya, saat ini berusaha dirubah menjadi kemarahan.

    Belajar Jauh-jauh ke Mesir pulang-pulang membawa teroris

    Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, salah satu ungkapan yang dianggap hadist dan juga masih banyak dipertentangkan. Terlepas dari pertentangan tersebut, meskinya hal tersebut diambil hikmahnya, bahwa pengetahuan dapat dituntut dari mana saja, tentu saja hal-hal baik yang diharapkan.

    Jika baik, dari cina dan dari manapun juga harusnya kita ambil, tetapi jika buruk, meskipun dari tanah yang dianggap suci, meskinya tidak perlu diambil.

    Kabar sudah beredar luas, bahwa pimpinan kelompok maute yang menyerang marawi pernah tinggal di Bekasi Indonesia, dan ternyata istrinya adalah seorang WNI.

    Kejadian seorang wanita WNI  yang menikah dengan pimpinan teroris kelompok maute di Filipina, seharusnya menjadi perhatian, perlunya pendidikan yang mengajarkan akal budi, supaya mampu berfikir kritis dan rasional.

    Pemimpin kelompok Maute yang dimaksud adalah Omarkhayam Maute atau Omar Maute. Dia menikah dengan WNI asal  Desa Buni Bakti, Babelan, Kabupaten Bekasi, bernama  Minhati Madrais.

    Omar dan Minhati menikah pada tahun 2003 di mesir. Mereka berdua sempat tinggal selama 6 bulan di bekasi pada tahun 2010 – 2011, setelah itu mereka pergi ke Filipina, dan tinggal di sana.

    “Selama enam bulan Omar dan Minhati tinggal di rumah Pak Haji (KH Madrais). Terus akhirnya gabung (tinggal) ke dalam pesantrennya. Ada rumah ustaz (di dalam pesantren), seperti rumah guru-guru, jadi Mpok Mimin (Minhati) jadi pembina di situ,” ujar suami dari sepupu Minhati, Dadang (50), seperti dilansir kompas .com


    Penulis  :  Cak Anton    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ketika Kearifan Lokal Ditinggalkan dan Mengimport Budaya Teror dari Timteng Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top