728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 07 Juni 2017

    Kepekaan Jokowi, Konvoi Tanpa Polusi Suara

    Sebelum Jokowi menjadi Presiden, setiap kali pejabat negara lewat selalu terdengar kencang suara serene pengawal. Apalagi kalau yang lewat adalah Presiden, konvoi akan selalu beriringan disertai suara serene Paspampres yang kadang kala mengundang emosi di tengah kemacetan jalan. Bagimana tidak, situasi kota Jakarta yang selalu macet harus diisi oleh kebisingan setiap kali Presiden lewat. Tak pelak inipun mengundang rasa tidak simpati dari masyarakat pengguna jalan raya.

    Mengenai serene konvoi  Paspampres, mungkin sudah diatur dalam prosedur tetap (Protap) pengamanan Presiden. Secara aturan ini memang tidal melanggarar. Bahkan diluar itu, pengawalan yang mengeluarkan bunyi serene ini dianggap satu keistimewaan atau kehebatan seorang penguasa. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat menjadi tidak simpati. Sebab situasi jalan yang macet dan memaksa masyarakat harus bersabar, justru harus mendengarkan bunyi bising ini lewat. Belum lagi jalan yang coba dihadang dan disterilkan guna memberikan jalan utama pada VVIP lewat. Disinilah titik pentingnya.

    Bagi orang yang terbiasa dengan pengawalan, mungkin dia merasa biasa-biasa saja. Tidak ada aturaan yang dilanggar, tetapi justru disinilah diuji kepekaan dan keberpihakan seorang pemimpin terhadap kondisi masyarakatnya.

    Sebelum Jokowi, kita melihat tontonan setiap kali Presiden lewat kita harus mendengar serene Paspampres yang menyebabkan kebisingan. Di tengah kemacetan, mendengarkan serene yang bising akan cepat membuat semakin penat. Belum lagi pengguna jalan dipaksa minggir demi bisa lewatnya VVIP padahal jalan lagi macet-macetnya. Di sinilah timbullah gap yang semakin menjauhkan pemimpin dengan rakyatnya.

    Namun di era Jokowi, semua ini berubah. Setiap kali Presiden Jokowi lewat, tak terdengar lagi kebisingan yang biasanya muncul saat rombongan Presiden lewat. Tentu setiap Presiden lewat harus dikawal karena posisi dia dalam negara ini teramat penting, sehingga pengawalan harus tetap dilaksanakan. Di saat bersamaan, Presiden Jokowi tidak ingin membuat dirinya sebagai pemimpin jauh dari rakyatnya.

    Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa Jokowi dapat merasakan kemacetan yang dirasakan rakyatnya. Dengan konvoi  tidak polusi suara dan tidak memaksa pengguna jalan minggir, dapat kita lihat Jokowi merasakan nasib yang sama meskipun bermacet ria.

    Apa arti ini semua?

    Ada kalangan yang tidak memperhatikan perubahan yang ditunjukkan Presiden Jokowi dalam hal konvoi rombongan Presiden. Ada juga yang beranggapan ini hanya pencitraan. Itu sah-sah saja. Tetapi jika coba kita perhatikan lebih jauh, tidak menggunakan serene dalam setiap konvoi rombongan Presiden mengandung banyak makna. Dalam hal ini, ada 3 pesan penting yang ingin ditunjukkan Presiden.

    Pertama, memperlihatkan kepada warga bahwa Presiden ataupun pemimpin adalah rakyat biasa yang diberi kepercayaan untuk memimpin negara ini. Sebagai bagian dari amanah itu, maka Presiden diberi hak istimewa untuk selalu diutamakan. Akan tetapi dalam hal ini, Jokowi tidak ingin sewenang-wenang. Bahkan pesan dia sampaikan lewat perubahan yang dilakukan bahwa seberapa pun pentingnya jabatan yang dia emban, dia tetaplah rakyat biasa yang diberi amanah untuk memimpin dalam periode lima tahun.

    Kedua, Jokowi dapat merasakan dan mengerti kesusuahan yang dialami oleh rakyatnya. Dia tidak ingin menindas karena kekuasaan besar yang telah dia miliki. Dalam hal ini terlihat sikap keberpihakannya tetap pada rakyat Indonesia. Dia tidak ingin superior meski dia memang dijamin konstitusi untuk mendapat semua pengawalan dan keamanan nomor satu.

    Ketiga, ini merupakan upaya revolusi mental. Utamanya untuk para birokrat dan pejabat tanah air. Sudah menjadi budaya yang tidak benar bahwa pejabat kita selalu ingin dilayani. Tidak untuk melayani sehingga budaya aparat pemerintah kita adalah budaya penguasa. Di jalanan pun ingin berkuasa. Ada rasa berhak dan kelas satu sebagai pemerintah. Dalam hal ini, Paspampres menjadi aktor yang pertama kali harus melakukan revolusi mental.

    Tentu ini adalah budaya yang tidak benar. Sebab pejabat dan pegawai pemerintah harus selalu diingatkan bahwa uang dan kekuasaan yang mereka kelola adalah milik rakyat. Untuk itu, lewat konvoi Jokowi tanpa polusi suara yang bising, Jokowi ingin mengajarkan bahwa perlunya revolusi mental. Utamanya inisiatif ini harus dimiliki pemerintah beserta pejabat dan pegawainya.

    Mungkin masih ada alasan lain yang dapat dimaknai lewat perubahan yang Jokowi tunjukkan. Itu sebabnya ada ruang untuk siapa saja untuk mengungkap ini. Sebab ini perlu diungkap untuk tetap mendukung pelaksanaan revolusi mental yang dibutuhkan oleh bangsa ini.

    Perubahan yang terjadi dalam konvoi Presiden Jokowi

    Untuk menunjukkan satu perubahan, maka rakyat perlu bukti. Untuk itu memang perlu memberikan bukti perbandingan yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi dengan pemerintahan sebelumnya dalam menggunakan jalan raya.

    Saksikan video ini https://www.youtube.com/watch?v=TOt0nwsIEuw.

    Iring-iringan Presiden Jokowi https://www.youtube.com/watch?v=5h8wzkqM-1o

    Saya beberapa kali  berpapasan ketika rombongan Presiden Jokowi lewat. Hal yang paling senang adalah kebisingan serene tidak lagi mengganggu. Paspampres yang mengawal pun sangat ramah. Tidak lagi show of power di jalanan karena dapat tugas mengawal Presiden. Suatu kali saat rombongan Presiden Jokowi di belakang saya dan hedak melewati, konvoi dan pengawal pun meminta saya untuk meminggir sedikit dengan sopan. Kesadaran sebagai warga negara membuat saya memberikan jalan dan mereka pun mengalir begitu saja. Justru rasa senang hati melihat Presiden yang dapat peka dengan kondisi yang terjadi di jalan.

    Berikut adalah cerita Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Mayjen (Mar) Bambang Suswantono saat mengawal iring-iringan Presiden dari Istana Bogor menuju Istana Merdeka:

    Presiden akan menegur anggota lewat ajudan dan disampaikan lewat radio penghubung jika ada anggota kawal yang membunyikan klakson atau sirene. Bahkan, kami juga tidak boleh menutup jalan apa pun. Presiden curiga dan selalu minta agar arus lalu lintas dialirkan (dibuka) jika di sisi kiri atau kanan mobil Presiden terjadi kemacetan panjang,” kata Bambang.

    Dalam catatan Kompas, sejak zaman Presiden Soeharto hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, iring-iringan mobil kepresidenan ada kalanya tak hanya menggunakan sirene sebagai penanda kendaraan very-very important person (VVIP) yang akan lewat, tetapi juga membunyikan klakson dan menghentikan arus lalu lintas kendaraan lainnya agar para pejabat bisa melintas cepat dengan aman, tiba tepat waktu.

    Namun, sejak era Jokowi-Jusuf Kalla, terjadi perubahan besar. Keduanya bukan hanya memangkas jumlah rangkaian kendaraan dari sebelumnya 14-15 mobil menjadi 7 mobil saja.

    Jokowi-Kalla juga melarang menggunakan sirene, klakson hingga menghentikan arus kendaraan di setiap persimpangan.

    Meskipun sebagai Presiden dan Kepala Negara, Jokowi tahu diri dengan tidak menambah beban kemacetan warga Bogor dan Jakarta http://nasional.kompas.com/read/2016/10/09/13260501/pengawalan.mobil.presiden.tanpa.sirene.klakson.apalagi.menghentikan.kendaraan?page=all.

    Begitulah perubahan yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi dalam setiap konvoi pengawalannya. Perubahan yang tidak langsung bersinggungan dengan pembangunan fisik, tetapi menjadi didikan revolusi mental yang dilakukan Presiden. Ini adalah pencapaian Presiden dalam mengajarkan bagaiaman seharusnya penguasa tidak menjadi singa di jalanan yang seolah-olah merasa memiliki jalan raya.

    #JokowiUntukIndonesia

    Salam Indonesia Jangan Diam



    Penulis    :  Junaidi Sinaga    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kepekaan Jokowi, Konvoi Tanpa Polusi Suara Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top