728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 10 Juni 2017

    Kebangkitan Komunis adalah ISU Busuk, yang Digebuk Itu Ekstrimis Agama

    Presiden Jokowi heran terhadap pihak yang mengembuskan isu kebangkitan PKI. Padahal, menurutnya, ideologi komunis di negara Rusia dan China saja kini sudah tak laku.

    “Yang namanya komunis itu di Rusia, di China, sudah nggak laku. Di negara mbahnya wong sudah nggak laku, mereka lebih kapitalis dari kapitalis. La kok kita sudah ada payung hukum TAP MPRS jelas (disebut ada PKI),” kata Jokowi dalam acara silaturahmi bersama pimpinan, alumni, dan santri Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (10/6/2017).

    PKI atau Partai Komunis Indonesia sudah dijadikan organisasi terlarang melalui TAP MPRS XXV tahun 1966. Sehingga tak mungkin partai berideologi serupa bisa hidup kembali.

    “Organisasi ini sudah dilarang di negara kita. Payung hukumnya jelas. TAP MPRS jelas ada. Komunisme dan PKI dilarang di negara kita. Kok masih ada yang menyampaikan PKI bangkit, bergerak, di mana?” imbuhnya.

    Jokowi juga heran mengapa ada pihak yang mengaitkan PKI dengan dirinya. Saat PKI dibubarkan saja dia masih balita.

    “Kemudian isunya didorong-dorong ke saya, (disebut) melindungi. Melindungi yang mana? Orang didorong ke saya lagi, Pak Jokowi PKI. La wong PKI dibubarkan saya baru umur 3,5 tahun. Logikanya seperti apa,” ujar Jokowi.

    Dia lalu bercerita sampai ada orang yang mendatangi rumah ibunya di Solo. Ketika itu ibunya baru pulang acara pengajian.

    Orang tersebut bermaksud memastikan apakah keluarga Jokowi berkaitan dengan PKI. Namun, bukannya mengklarifikasi, orang itu langsung pulang.

    “Karena misal NU, NU kan di Solo ada cabang NU, dicek saja dari ortu, kakek, nenek, buyut, desanya di mana, jelas. Kenapa masih dipakai isu-isu seperti ini?” tutur Jokowi.

    Menurut Jokowi, isu ini muncul karena ekses politik semata. Ada lawan politik yang mengembuskan isu dengan maksud tertentu. (Sumber)

    Doktrin isu kebangkitan komunis dan ketakutan terhadap komunis itu sejak perang dingin berlangsung yang di dalangi oleh Amerika dan imperial barat. Isu tersebut merupakan strategi yang memang telah dirancang dan diterapkan oleh Amerika Serikat sejak di bawah kepemimpinan Ronald Reagan untuk menentang pengaruh global Uni Soviet pada saat tahun-tahun terakhir Perang Dingin.

    Yang kemudian isu dan doktrin ini langgeng dan menjadi dasar kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat dan imperial barat sampai akhir Perang Dingin pada tahun 1991. Dan ini kembali dilakukan lewat para boneka (wahabi dan kelompok ektrimis).

    Isu kebangkitan komunis memang senjata paling ampuh oleh kelompok fundamental, dan hal ini sudah sejak rezimnya Soeharto.

    Fathimah Fildzah: bahwa kebencian tersebut merupakan hasil konstruksi rezim militer otoritarian Orde Baru Soeharto selama puluhan tahun. Oleh Orde Baru, kekerasan terhadap kaum komunis dilegitimasi dengan cara yang subtil melalui produk-produk budaya, sebagaimana dijelaskan Wijaya Herlambang dalam buku ini. Akibatnya, segala macam kekerasan yang menimpa kaum komunis dianggap sebagai hal yang sah, normal dan wajar, bahkan hingga saat ini.

    Pembentukan rasa benci dan anti terhadap komunisme dilakukan Orde Baru Soeharto berkaitan dengan kepentingan ekonomi politik pada masa itu. Seperti diketahui, kekayaan alam Indonesia pada masa itu sangatlah melimpah dan menjadi perhatian utama dari negara kapitalis besar seperti Amerika Serikat. Sebagai contoh, pada saat itu Indonesia berpotensi memproduksi minyak hingga 20 miliar barel. Tumbuhnya PKI sebagai kekuatan yang besar di Indonesia dan merupakan salah satu partai komunis terbesar di dunia setelah China pada tahun 1950 merupakan ancaman bagi kepentingan ekonomi politik Amerika Serikat. PKI dengan ideologi komunismenya merupakan hambatan terbesar bagi AS yang hendak menguasai kekayaan alam Indonesia. Terlebih, pada saat itu, Soekarno juga cenderung lebih dekat dengan blok Timur (Rusia) dan elemen-elemen Kiri termasuk PKI. Kepentingan ekonomi politik AS yang begitu besar atas Indonesia inilah yang membuat perang anti komunisme dilancarkan.

    Bersamaan dengan konteks Perang Dingin ketika itu, perang anti komunisme pun dilancarkan Amerika Serikat diberbagai negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, perang anti komunisme dipimpin oleh Jenderal Soeharto yang naik ke kursi Presiden juga dengan memainkan sentiment agama.

    Sudahlah komunis apapun ceritanya di Nusantara sudah menjadi mitos tak akan tumbuh, dan hal ini juga diperkuat oleh TAP MPR.

    Rusia dan China memang bukan murni komunis lagi, kalau China memang sejak dulu kom nya beda dengan Soviet, itulah gunanya “MDH” dalam dunia “sosialis” salah satunya untuk menganalisa sesuai konteks kedaan masyarakat dan wilayahnya. Justru Amerika dan imperial barat lah dalang memunculkan isu kebangkitan komunis, dan itu sejak dulu, yang kemudian isu tersebut disalurkan dengan para bonekanya (ektrimis agama berkedok jihadi dan kelompok fundamental). “Kom” sudah mitos di negeri ini tak akan tumbuh, yang mesti digebuk itu kelompok fundamental yang menjadikan agama sebagai “rudal” dan membuat gaduh dengan tindakan penuh intoleren.

    Di Nusantara, seperti kata Roy Murtodho. “FPI dan PKS, meski secara teologis dan organisasional, sulit bertemu (FPI Aswaja, sedangkan PKS wahabi) tapi keduanya lebih mudah bersimbiosis karena imajinasi politiknya hampir serupa: syari’atisasi Indonesia. Sementara HTI jauh lebih absurd dan rumit. Mereka tak cukup dengan formalisasi Islam di bawah payung negara bangsa. Lebih dari itu, mereka ingin membangun sebuah imperium.”

    ———-

    Hal-hal pemurnian ini justru melahirkan tindakan yang ekstrimis sama halnya seperti di timur tengah. Justru yang terlihat, kelompok fundamental di Nusantara tak jauh beda dengan otak wahabi salafi yang berkedok “jihadi” dengan agenda yang terselubung dan juga menjalin konsesus dibelakang tirai.

    Agenda pemurnian yang dimunculkan kepermukaan dengan begitu massive dalam politik identitas seolah-olah untuk melawan kezaliman terhadap umat, sementara yang diinginkan adalah tahta dominasi dan hal ini juga diperkuat adanya beking imperium barat. Bedanya di Timur Tengah menyerang langsung ke fisik dengan dar der dor senjata, tetapi di Nusantara lebih mengerikan karena yang diserang adalah syaraf otak hingga hilang “kewarasan” dalam melihat realita dengan dikemas dan disusupi kata “jihadi” untuk mencapai syurga Tuhan. Sementara menuntut ilmu yang juga merupakan jihad bukan lagi menjadi arti yang penting.

    Gerakan extrimis agama tidak akan lemah begitu saja meski dilawan, namun dia akan lebih lemah jika minimnya generasi untuk diajak ikut bergabung, atau tidak mudahnya generasi untuk dihegemoni dikepala, yang biasa dikenal dengan doktrinis. Maka tidak usah heran “mereka” (ektrimis agama) melakukan gerilya sampai masuk dalam ruang pendidikan hingga ke titik usia dini untuk disusupi doktrin yang berkedok “jihadi”. Nusantara tentu berbeda dengan Timur Tengah dan berbeda pula cara “mereka” mewujudkan agenda seperti yang mereka yakini. Termasuk memunculkan isu kebangkitan komunis yang sudah menjadi cerita usang.

    Sebelumnya saya menuliskan di India sudah sibuk meluncurkan roket, negara lain sudah menciptakan satelit quantum, penemuan-penemuan, karya, sains, untuk memajukan bangsa dan mengharumkan nama bangsa. Jokowi sudah mulai untuk bangkit dan bersaing dan juga pernah menyatakan orang luar sudah sibuk ke luar angkasa. Dan juga kita dalam perbaikan di semua bidang termasuk soal agraris dan pangan. Eh si ekstrimis agama dan kelompok fundamental masih sibuk memunculkan isu kebangkitan komunis, itu ISU busuk.

    Maka yang patut dilawan bersama dan digebuk sekarang ini adalah kelompok fundamental dan radikalis yang selain telah membuat gaduh juga merusak tatanan kehidupan di negara yang sudah final dengan Pancasila.

    Penulis  :   Losa Terjal   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kebangkitan Komunis adalah ISU Busuk, yang Digebuk Itu Ekstrimis Agama Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top