728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 16 Juni 2017

    Kasus Novel Mandek, Apa yang Membuat Pak Tito Ragu?

    Dua bulan berlalu, kasus penyerangan terhadap penyidik utama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan masih belum menemukan titik terang. Oleh Kapolri, Novel telah dijanji untuk mengusut tuntas kasusnya. Kasus ini seperti drama, di awal kisah semua terdengar jelas dan terang, lalu kemudian terlihat kabur dan mengambang.

    Padahal kita bisa berharap kasus penyerangan Novel bisa menjadi kotak Pandora untuk aneka kejahatan lainnya. Kuat dugaan, kasus ini ada korelasinya dengan skandal megakorupsi E-KTP yang melibatkan pengusaha dan para petinggi negara. Sehari sebelumnya, kasus E-KTP mengungkap sejumlah nama elit DPR.

    Sementara, Novel masih terbaring di salah satu ruangan Singapore General Hospital. Sejak matanya dipasangi membran untuk merangsang pertumbuhan kornea, Novel tak bisa melihat sama sekali. Penyerangan terhadapnya, telah membuat kelompok pro-rasuah menjadi besar kepala.

    Banyak keganjalan yang diungkapkan oleh Novel, yang membuat kasusnya bisa mandek hingga dua bulan. Sebagai seorang penyidik utama, ia menyadari seringkali dikuntit oleh pengintai, termasuk motor yang digunakan pelaku pengintai, hingga tiba hari naas dia diserang oleh dua orang dengan menggunakan air keras.

    Kompilasi keganjalan kasus penyerangan Novel dirangkum di bawah ini:

        1. Sidik jari hilang

        Dari lokasi, ada barang bukti cangkir kaleng blirik hijau yang digunakan pelaku untuk menyiram muka Novel dengan air keras. Namun polisi menyatakan tak ada sidik jari yang ditemukan di gagang cangkir, karena bentuknya kecil. Ini janggal, karena pelaku secara khusus dan terarah menyiram muka Novel sehingga memerlukan konsentrasi, tenaga, dan genggaman tangan kuat pada gagang cangkir.

        2. Rekaman kamera

        Lazimnya, polisi mempublikasikan rekaman kamera pengawas yang berkaitan dengan tindak pidana untuk mendapatkan informasi dari masyarakat. Beda dengan kasus Novel, rekaman kamera pengawas disimpan.

        3. Ahmad Lestaluhu dilepas

        Polisi membebaskan empat orang terduga pelaku dengan dalih tak ada bukti kuat. Mereka adalah Mukhlis, Hasan, Muhammad Lestaluhu, dan Niko Panji Tirtayasa. Alasan pembebasan Mukhlis, Hasan, dan Lestaluhu adalah, berdasarkan pengecekan lokasi ponsel pintar (GPS), mereka tak berada di lokasi kejadian pada saat penyerangan. Lestaluhu mendatangi rumah Novel sepekan sebelum kejadian, menanyakan perihal gamis laki-laki ke butik rumahan milik istri Novel.

        4. Inkonsistensi pernyataan polisi

        Mabes Polri dan Polda Metro Jaya mengeluarkan keterangan yang berbeda tentang kasus Novel Baswedan ini. Mabes Polri, misalnya, pernah menyebutkan telah mengetahui pelaku dan menangkapnya. Polda Metro Jaya meralat keterangan Mabes Polri dengan menyatakan yang ditangkap bukan pelaku.

        5. Pengintai Novel

        Sebelum kejadian, Novel dan rumahnya memang telah diintai oleh beberapa orang. Sebuah motor perwira polisi berpangkat Brigadir juga digunakan menguntit Novel. Namun, Menurut Iriawan, Kapolda Metro Jaya, polisi telah memeriksa Yusmin, Hasan, dan Mukhlis terkait dengan peristiwa penyerangan terhadap Novel Baswedan, dan hasilnya clear. Tapi, Tempo menemukan fakta bahwa ketiganya berasal daerah yang sama, juga telah dikonfirmasi ke beberapa tetangga. Source

    Mengenai Lestaluhu, Novel mengaku mendapatkan foto dari Densus (Detasemen Khusus 88 Antiteror), sekitar sepekan setelah kejadian. Menurut Novel, kerja Densus 88 itu adalah perintah langsung dari Kapolri. Saat Novel mengonfirmasi foto tersebut ke tetangga, dan mereka membenarkan foto tersebut.

    Komnas HAM telah membentuk tim pencari fakta (TPF) gabungan bersama dengan LBH Jakarta dan PP Muhammadiyah untuk memantau kinerja pihak kepolisian. Semenara, di luar ruang para pejabat negara, sekelompok aktivis, penggiat seni dan budayawan, telah menggalang kekuatan untuk bersama mendukung KPK. Mereka adalah kelompok yang tak terpengaruh dengan sekelumit kepentingan partai politik, mereka tak terhubung dengan orang-orang di DPR, juga tak memiliki hubungan khusus dengan pihak keamanan. Mereka adalah suara keprihatinan bangsa, yang seharusnya menyadarkan semua pihak untuk berhenti mempertontonkan perilaku kotor

    Pak Tito, Jangan Ragu

    Melihat mandeknya kasus Novel, KPK tampaknya masih harus berjuang untuk melawan ragam serangan dari berbagai arah. Kasus Novel masih kabur, sementara serangan dari DPR terutama yang paling menyita perhatian karena mereka telah menggulirkan Hak Angket.

    Ragam polemik yang berkembang di masyarakat terkait gamangnya hukum di Indonesia. Tapi, kinerja KPK nyatanya membuat kita terkagum-kagum, menyadarkan kita bahwa perilaku korupsi memang menyasar hingga jaringan elit pejabat tertinggi negara.

    Pak Tito, sejak menjabat, Bapak telah mengangkat citra polisi dengan kinerja yang layak diapresiasi. Masyarakat berharap banyak pada Bapak dan lembaga yang bapak pimpin. Kami masih yakin, bahwa di atas segalanya, pertaruhan terbesar kita adalah kewibawaan negara. Pak Tito, jangan ragu, kami mendukumu…




    Penulis :  Subarman Salim    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Kasus Novel Mandek, Apa yang Membuat Pak Tito Ragu? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top