728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 14 Juni 2017

    Karena Jokowi Bukan Penikmat Kekuasaan…

    Seseorang mengirimkan tulisan ini digroup whatsup dan dibawahnya ada kalimat berbunyi, “Silahkan share jika berkenan”. Saya membacanya dengan hati-hati opini dia. Lalu saya renungkan. Apa yang dia bilang, memang benar. Saya suka pandangan dia. Sipemilik opini namanya Mimi Abdurrahman, catatan ini adalah status atau postingan di facebooknya dia.
    Ayo kita simak bersama opini dia paragraf demi paragraf:

        Kericuhan yg terjadi bukan tentang pribumi, agama, kebangkitan PKI atau disintegrasi. Ini cuma tentang sekelompok orang yg berjibaku untuk menjaga dan menguasai warisan hasil merampok selama 32 tahun. Mereka harus menjaga warisan itu dari penguasa baru, yg ingin mengambil hasil rampokan dan mengembalikan kepada rakyat Indonesia. Mereka tidak perduli siapa yg jadi pemimpin, selama bisa dikendalikan, pemimpin itu akan didukung, bila tidak, harus secepatnya dilengserkan. Kuda boleh berganti, sais harus tetap.

    Walaupun tidak disebutkan namanya, sejarah Indonesia hanya mencatat 1 nama yang memiliki hubungan dengan angka 32 tahun. Opini saya tertuang pada tulisan saya yang lain (baca: https://seword.com/politik/isis-itu-cuma-mafia-perang-khilafah-cuma-alasan-siapa-boss-isis-di-indonesia/)  disana saya mempertanyakan, “Jadi siapa musuh Indonesia sebenarnya?” dan jawabanya adalah seperti apa yang ditulis di opininya Mimi.

        Abdurrahman Wahid atw Gus Dur, tidak mungkin berpihak kepada mereka, sebab itu kekuasaan Gus Dur harus dilengserkan, meski beliau adalah seorang Ulama dan Tokoh NU. Organisasi Islam terbesar Indonesia. Gus Dur adalah musuh Soeharto. Dalam acara Kick Andy pada 15 Nopember 2007, Gus Dur secara frontal mengatakan “Pemimpin di Indonesia ini yang pantas jadi musuh saya cuma satu, Pak Harto”. Pada Muktamar PBNU tahun 1994 di Cipasung, Suharto memecah NU dengan melakukan Muktamar Tandingan. Namun krn kuat dan solidnya warga NU, Muktamar tandingan tersebut gagal untuk menyingkirkan Gus Dur. Lengkap sudah ketidaksukaan Soeharto terhadap Gus Dur.

    Sekarang saya jadi bisa melihat sambungan rantai ditahun 2001 dan sekarang. Masa kepemimpinan Gis Dur adalah masa yang paling carut marut. Banyak isu digelembungkan. Bulogate, Bruneigate, skandal pencopotan menteri, darurat militer di Maluku. Amien Rais yang asalnya mendukung balik kanan menjadi oposisi Gus Dur. Amien Rais tiba-tiba memajukan tanggal sidang dan melalui Sidang Istimewa MPR yang diketuai oleh Amien Rais, kekuasaan Gus dur dihentikan. Disini kita bisa melihat bagaimana kejamnya politik dan politisi Indonesia.
    (Baca : http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2012/11/29/22056/sejarah-mencatat-bagaimana-gus-dur-dilengserkan-rakyat-indonesia/;#sthash.jiX0kzWu.dpbs)
    Amien Rais, apa sebenarnya obsesimu? Dimanakah wahai Rakyat Indonesia saat itu?

        Megawati juga bukan tokoh yg bisa diharapkan bagi mereka. Trah Soekarno dianggap duri dalam daging bagi Soeharto. Tahun 1996, Megawati dipaksa lengser oleh Soeharto dari ketua PDI yg akhirnya menimbulkan perpecahan ditubuh PDI dan berakhir dengan peristiwa 27 Juli 1996. Pada pilpres tahun 2004, mereka menggelontorkan isu bahwa dalam Islam, wanita tidak boleh dipilih sebagai pemimpin dan dalam PDI-P, terdapat org2 PKI.
        Bambang Yudhoyono bisa menyelesaikan dua periode kepemimpinan. Tapi harus diingat,meskipun diakhir era Orde Baru SBY bukan penentu komando dalam Militer, tapi jabatan Beliau adalah Kassospol ABRI. Jabatan strategis dalam pembinaan perpolitakan diwaktu itu. SBY pun menaruh hormat terhadap penguasa Orde Baru itu. SBY tidak responsif ketika adanya tuntutan penyelidikan dan pemeriksaan harta kekayaan Soeharto.

    Saya masih ingat, pada Pilpres 2004, pasangan SBY-JK dan Megawati-Hasyim melenggang ke putaran kedua. Saat itu SBY-JK hanya didukung oleh 4 partai kecil (Demokrat, PBB, PKPI dan menyusul PKS), sementara Megawati didukung oleh partai besar. Pasangan SBY-JK yang hanya berkekuatan 17 persen bisa memenangkan 60 persen suara dengan taktik kampanye mengambil hati rakyat Indonesia dan menposisikan dirinya sebagai korban yang didzolimi Megawati. Dia menang menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia untuk periode 2004 – 2014! Sejak saat itu SBY selalau melakukan taktik politik yang sama yaitu menjadi korban pendzoliman, sasaran teroris dan lain sebagainya. Tapi dibalik itu semua, kekuatan SBY adalah adanya dukungan dibelakang layar. Tidak mengherankan kalau dia menang, bukan? Bagaimana mereka bermain dan mengatur perpolitikan Indonesia dibelakang layar. (baca : http://satu1qq.blogspot.com/2016/11/sby-presiden-terlicik-yang-pernah.html)
    Rakyat Indonesia masih diam!

        Jokowi bukan siapa2 ketika Orba berkuasa. Beliau hanya tukang Mebel. Saat Beliau menjadi walikota Solo, masih banyak pujian yang diberikan. Namun ketika beliau bergerak untuk menjadi DKI 1, menjadi warning bagi penikmat kekuasaan. Apalagi Jokowi berasal dari partai musuh Orba, PDI-P. Ketika PDI-P mengusungnya sebagai RI 1, genderang perangpun mulai ditabuh. Gaya Orba pun dilakukan. Isu PKI, ketidak jelasan keturunan dan agama yang dianut. Semua isu dipaksakan untuk menjegalnya.

    Saya yakin, raykat Indonesia tidak akan pernah lupa nama sebuah koran atau tabloid yang begitu menggaungkan fitnahan terhadap Jokowi. Ya, “Obor Rakyat”. Walaupun beredar hanya di daerah tertentu dengan oplah terbatas dan waktu penyebarannya singkat, tapi kampanye hitam ini sudah ditorehkan oleh lawan politik Jokowi.
    Untungnya Rakyat Indonesia sudah mulai mengeliat untuk bangun dari tidurnya yang lama. Dengan dukungan rakyat dan kemenangan yang sangat tipis, Jokowi berhasil menjadi Presiden Indonesia.

        Saat Jokowi menutup Petral tahun 2015, para penjaga warisan orba semakin yakin bahwa Jokowi adalah orang yg harus disingkirkan. Apapun caranya, berapapun biayanya. Petral adalah wadah para perampok warisan orde baru dalam mengelola hak jual beli minyak ke Pertamina. Dengan ditutupnya Petral, Pertamina bisa menghemat 250 Milyar/hari. Siapa yg selama ini menikmati uang 250 milyar/hari? Untuk diketahui, Tommy Soeharto dan Bob Hasan memiliki saham masing2 sebesar 20%. Dan saat pilpres 2014, Reza Chalid, sebagai pengendali Petral, ikut mendanai pencalonan Prabowo sebagai capres. Menjelang pilpres 2014, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo, menjanjikan untuk tidak akan menaikan pajak PT Freeport saat berpidato di acara The United States-Indonesia (Usindo) Society Washington Special Open Forum Luncheon.

    Menteri ESDM saat itu, Sudirman Said, yang mengatakan, “Cerita mitos Petral itu bertahun lamanya seperti genderuwo. Raksasa yang tidak tampak, tapi begitu mau disentuh yang sentuh mati duluan,” katanya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (26/5/2016). Bertahun-tahun KPK tidak bisa menyentuhnya karena posisi Petral di luar negeri dan seperti yang dikatakan oleh penulis opini diatas, Petral sarat hubungannya dengan para elite politik. Terbayang seberapa besar nyali seorang Jokowi menghabisi seekor mahluk genderewo?
    (baca :  https://ekbis.sindonews.com/read/1111679/34/menteri-esdm-ungkap-cerita-di-balik-penutupan-petral-1464257342)

        Alih2 mendapat keringanan pajak, Jokowi yg terpilih sebagai Presiden justru melakukan divestifikasi saham PT Freeport sebesar 51%. Siapa yang sakit hati dengan kebijakan Jokowi? Ketika Ahok melakukan blunder tentang ayat suci, hal tersebut seperti menjadi bahan bakar bagi mereka untuk melengserkan Jokowi. Ahok yang melakukan blunder kenapa Jokowi juga harus dilengserkan? Jokowi dan Ahok adalah satu paket yang ingin dilengserkan, Jokowi-Ahok bukan penikmat kekuasaan dan tidak bisa dibeli. Tidak ada beban bagi mereka berdua untuk melaksanakan reformasi. Namun para pembenci gerakan reformasi tidak menyukai hal itu. Jadi jelas ya, ini cuma amanat untuk menjaga hasil rampokan. *Silahkan share jika berkenani

    Lain Petral lain lagi dengan Freeport. Mirisnya saya melihat 2 komoditi pokok Indonesia yang apabila dikelola murni untuk kepentingan rakyat, Indonesia tidak akan perlu berhutang untuk membangun infrastruktur.

    Banyak bukti yang bisa dicatat oleh rakyat Indonesia tentang sepak terjang para penguasa di masa ORBA. Selalu ada pihak yang diuntungkan dan pihak yang dirugikan. Namun ketika kita bicara tentang sepak terjang pemimpin negara yang merapok kekayaan Indonesia untuk keluarga dan kalangan terdekatnya, maka rakyat adalah pihak yang dirugikan. Mungkin tidak semua rakyat yang dirugikan. Rakyat yang mendukung aksi rampok mereka dan mendapatkan cipratan remeh kekayaan hasil rampokan, sekarang mereka muncul sebagai pihak penentang Jokowi.

        Coba saja perhatikan, setiap manusia Indonesia yang nyinyir akan hasil kerja Jokowi, SEMUA, saya katakan SEMUA, adalah rakyat yang secara langsung atau tidak langsung merasa terusik kenyamanannya. Karena, bagi manusia Indonesia yang berakal sehat dan berlogika, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mendukung Jokowi. Indonesia maju ditangan Jokowi itu PASTI!!



    Penulis : Erika Ebener     Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Karena Jokowi Bukan Penikmat Kekuasaan… Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top