728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 09 Juni 2017

    Jokowi, Sang Guru Humoris Mahir Bersimbolisme

    Pakde… Kertas menu berbuka puasa itu, ‘Humoris dan Simbolis’ atau  ‘Humoris saja’? Apa maksudnya Pakde?

    Beberapa waktu lalu, beredar video lucu. Video saat Presiden bersama Pak Wiranto dan kawan-kawan, berbuka puasa di kediaman ketua MPR RI, Pak Zulkifli Hasan. Sebelum meninggalkan rumah Pak Zulkifli, Jokowi membuat acting sangat kocak. Ia membawakan kertas, yang dikira berisi pernyataan-pernyataan penting sang Presiden. Ternyata itu hanya daftar menu makanan. Saya bertanya-tanya: “Apa makna tingkah kocak Pak Presiden ini?” “Mengapa beliau menggunakan kertas menu makanan?”

        Sekedar humor?

    Humor RI 1 agar para awak media makin bersemangat di bulan puasa ini? Sekaligus ajakan agar para awak media ‘memilih menu sama seperti menu buka puasa Pak Presiden’? Sekedar kerjain wartawan?

    Sepintas, begitu… Sekedar humor. Humor yang membuat saya tertawa geli sendiri saat membuka videonya berulang-ulang. Berulang-ulang juga tersenyum sendiri. Tingkah kocak RI 1 yang hebat. Mantap!

    Teringat ‘Stand Up Comedy’ saat Munaslub Golkar di Bali, pertengahan Mei 2016. Saya mencari lagi rekaman moment lucu itu. Dapatlah berita pada merdeka.com (14 Mei 2016), di mana untuk pertanyaan ‘Pak berarti istana di mana?’,  Jokowi berkata: “Ini jawaban terus terang saya, ya di Jalan Merdeka Utara. Karena saya mau jawab juga saya jawab apa”.

    Hhaaa… haa…. ngakak dulu gan! Benar kan? Jokowi di Utara Merdeka kan? Eh…. di (jalan Medan) Merdeka Utara maksudnya, alamat kantor Presiden!

    Ini jawaban lucu. Makna (pertanyaan) sebenarnya adalah ‘Istana memihak siapa?’ dari 8 calon ketua umum Golkar dalam Munaslub Golkar 14 Mei 2016 itu? Jokowi, dengan brilian menempatkan diri di tengah sengitnya persaingan antar kubu kandidat Ketum Golkar saat itu. Intrik dan insting lucu yang sangat bermanfaat. Sederhana tapi berguna bagi situasi negara.

    Di sini, Jokowi seperti sedang memberi kuliah umum. Ia memberi contoh penggunaan hal sederhana dalam menghadapi  perkara besar. Ia memberi contoh kepiawaian seorang pemimpin dalam membaca situasi, kemudian bereaksi secara sederhana, murah, tapi dampaknya luar biasa. Telah banyak yang tahu, bagaimana tensi politik saat stand up comedy ala Jokowi itu dilontarkan di Bali Convention Center, Denpasar. Dengan lelucon, Jokowi sejukkan situasi!

        Simbolis?

    Daftar menu pada secarik kertas itu adalah sajian yang ‘siap dilahap’. Menu makanan tak pernah bisa lari dari ‘pelahapnya’. Kecuali jika ‘calon pemakan’ memang tidak mau memakannya. Kurang selera, ya dilewati saja menunya. Berselera, ya…. ludes makanannya.

    Pada beberapa kesempatan Jokowi tunjukkan acting simbolis dalam langkah-langkah politiknya. Maka, secarik kertas ini kayaknya mengandung unsur politik juga. Bukan sekedar humor!

    Pembaca silahkan search: ‘meme tour de Hambalang’. Ini kocak tapi syarat kepentingan politik. Jokowi, secara tidak langsung mengingatkan bahwa ada yang tidak beres. Istilah di daerah Manggarai Timur, Flores: peke nggere sale, hena awo (melempar ke Barat, kena yang di Timur). Kira-kira seperti itu makna simbolisnya.

    Apakah pembaca pernah lihat foto Pak Jokowi asyik dengan kodok piaraannya? Kompas.com (26 Mei 2017) memberitakan bahwa kodok-kodok piaraan Pak Jokowi mati dimakan biawak. Jokowi menyatakan:

    “(awalnya kodoknya) ada ribuan. Buanyak sekali. Ya, tetapi kodoknya habis dimakan biawak”

    Presiden bicara tentang kodok, memang tidak dipermasalahkan. Tapi… seberapa pentingkah kodok sehingga dibicarakan Presiden? Memang hobby. Ya, hobby tak dapat dipungkiri, itu urgen dalam hidup seorang manusia, termasuk Presiden.

    Jadi, jika Jokowi bicara kodok dalam konteks hoby, ya, wajar-wajar saja. Menyalurkan kesenangan dengan memelihara kodok tentunya berpengaruh positif bagi Presiden Jokowi. Ia bisa relaks. Susana yang dibutuhkan seorang pemimpin untuk ‘mengendurkan’ ketegangan pikiran dan fisik akibat tekanan kerja yang maha besar. Apakah Jokowi relaks dan terhibur saat mendegar suara kodok? Entahlah, hanya beliau yang tahu.

    Tetapi saya pribadi  meneropongnya dari sisi lain, bukan dari sisi hoby sang RI 1. Perhatikan salah satu kalimat isi berita Kompas.com (26 Mei 2017) berikut:

    “Mungkin kodok itu takut diterkam biawak, jika bersuara terlalu lantang”

    Bagi saya, kalimat ini bisa dihubungkan dengan kejadian-kejadian terkini. Ahok yang bersuara lantang di DKI Jakarta, pada akhirnya tuntas ‘diterkam’. Penyidik KPK yang sedang serius menyelidiki kasus korupsi malah disiram cairan keras. Apakah KPK pada akhirnya takut ‘bersuara lantang’ juga?.

    Perhatikan pula kata-kata Ahok yang dikutip Denny Siregar (www.dennysiregar.com, 5 Nov 2016 ) berikut ini:

    “Jokowi ini lebih sadis dari gua. Kalau gua jengkel ama kodok, langsung gua tembak kepalanya. Kalau Jokowi, dia elus dulu kodoknya, dia taruh di panci berisi air dingin biar nyaman, trus dia nyalakan api kecil kompor di bawahnya. Si kodok mati tanpa sadar kalau dia dibunuh perlahan…”

    Saya berpikir, selain menghibur, kodok piaraan Pak Jokowi bisa bermakna simbolis.

    Lantas… apakah kertas menu itu mengandung bahasa simbolis?

    Walaupun tetap bernuansa humoris, bisa saja, Jokowi mengisyaratkan bahwa ada banyak sajian lezat di Nusantara yang siap dilahapnya. Lihat saja, bagaimana Jokowi melahap Papua, melalui proyek raksasa jalan Trans Papua! Jokowi adalah presiden pertama yang membangun jalan Trans Papua.

    Perhatikan juga bahwa banyak ‘menu’ pembangunan yang sudah puluhan tahun mangkrak. Menu-menu itu ditingggalkan begitu saja oleh mereka yang dahulu mulai ‘memasaknya’. Entah karena kurang anggaran, salah adonan, periuknya bolong hingga isinya bocor menyiram komfor… Entahlah. Yang jelas,  fulus belanjaan awal jadi monumen mangkrak begitu saja. Jokowi datang dan ‘melahap’nya!

     JOKOWI, SANTAI TAPI SERIUS DAN TEGAS!

    Bagiku, Jokowi berpenampilan santai, berpikir serius dan bertindak tegas. Gitu bro…

    Apalah artinya kertas menu makanan itu. Itu bukan lembaran resmi yang memuat point-point penting sebuah Ketetapan Presiden. Sederhana: itu hanya daftar menu makanan. Tetapi di tangan Jokowi, benda sederhana itu dijadikan symbol kuat dan humoris.

    Ya, Jokowi, sang guru humoris mahir berbahasa simbolis. Ia seperti sedang menjalankan pendidikan karakter bahwa hal sederhana bisa membawa pesan bermakna besar. Dalam makna lain: melakukan hal-hal besar, tidak harus bermewah-mewah. Pantas saja, mobil kepresidenan belum juga diganti.

    Ia seperti sedang mendidik orang bahwa pemimpin itu tidak harus selalu berlangkah tegak, mimik serius, pidato menggelegar tapi ditakuti rakyat. Jokowi santai saja. Menggunakan media yang memang familiar bagi banyak orang: dafar menu makanan. Santai bro…

    Melihat penampilan hariannya, dalam kesederhanaan, Jokowi tetap serius dan tegas. Serius memberi pesan melalui benda sederhana juga, seperi kertas menu makanan itu. Dibaliknya, ia bertindak tegas!

    Pikirkan: bagaimana Jokowi dengan santai, tapi serius dan tegas ‘melahap’ kapal-kapal asing pencuri ikan di lautan Nusantara, melalui menterinya, Susi Pudjiastuti! Klop!

    Jokowi tak mau kompromi terhadap mafia ikan di Nusantara. Diiringi jargon lucu ‘yang tak mau makan ikan, tenggelamkan’, Ia tunjukkan keseriusan dan ketegasan menyelamatkan lautan Nusantara. Ia mendukung penuh menteri Susi Pudjiastuti, menteri nyentrik dan santai itu.

    Penampilan santai, pikiran serius, tindakan tegas! Kira-kira seperti itulah Jokowi. Tak gentar dia lahap semua kapal nakal yang menginjak-injak kedaulatan maritim Nusantara. Jadilah, kapal Viking yang terkenal ganas mencuri ikan, akhirnya ditenggelamkan di Pangandaran, Jawa Barat (bbc.com, 14 Maret 2016).  Kejadian ini mengandung arti: Jokowi berhasil mengamankan berton-ton ikan di lautan Nusantara. Kerja yang hebat. Buah dari ketegasan.

    Pada periode pertama ini, sepertinya Pak Jokowi menunjukkan ‘nafsu’ besarnya membangun Nusantara. Seolah-olah hendak melahap berbagai sajian lezat yang tertulis pada kertas menu makanan itu! Menu yang mungkin oleh orang lain bisa dilewatkan. Jokowi tidak mau melewatkannnya begitu saja.

    Menu-menu pembangunan itu juga dibagikannya hingga ke daerah-daerah terpencil dan tertinggal, daerah yang berkesan pembangunannya ‘didiamkan’ sekian lama. Lihat saja pembangunan bandara di Pulau Miangas yang akhirnya tuntas di era Jokowi (sumber). Padahal sudah lama, pulau terluar yang lebih dekat ke Filipina ini, minim sentuhan pembangunan negeri ini. Datanglah Jokowi, yang lapar dan haus pembangunan itu. Jadilah Miangas manis dengan bandaranya!

    Ini juga sebuah bahasa symbol. Pertama, kepada negara luar, Jokowi tegaskan bahwa negeri ini mampu mempertahankan kedaulatan hingga ke batas terluar wilayahnya. Jokowi mengirim pesan bahwa tidak boleh terjadi lagi sengketa perebutan dengan negara asing, seperti Pulau Sipadan dan Ligitan itu.

    Kedua, ini symbol bahwa pemerintahan Jokowi memperhatikan pembangunan semua wilayah secara adil. Jatah pembangunan bukan hanya untuk kota-kota besar. Pulau terpencil pun berhak atas ‘menu’ pembangunan itu. Ini sekaligus Jokowi memenuhi janji kampanyenya, Nawa Cita ke-3:  membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

    Dari paparan-paparan di atas, Jokowi secara implisit menitip pesan kepada generasi muda. Ia seperti sedang menjadi guru, mendidik anak bangsa tentang metode-metode santai tapi serius dan tegas mempertahankan kedaulatan negeri ini. Sang guru Jokowi, humoris dan mahir berbahasa simbolis. Dalam kekocakan, ia bertindak tegas. Bravo Jokowi!

    #JokowiUntukIndonesia



    Penulis    :    Sebastianus Fedi    Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jokowi, Sang Guru Humoris Mahir Bersimbolisme Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top