728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 06 Juni 2017

    Jokowi Obat Anti Stres

    Masing-masing pemimpin mempunyai prestasinya yang khas dan monumental. Soekarno-Hatta dan kabinet mereka adalah pelopor kemerdekaan, Soeharto dan kabinetnya, dengan segala kontroversinya, adalah pelopor pembangunan, Habibie beserta kabinetnya adalah pelopor keterbukaan pikiran, Gus Dur dan semua staffnya adalah pelopor persatuan, Megawati dan pemerintahannya adalah pelopor demokrasi kerakyatan, SBY adalah pelopor…, apa ya? Nanti silahkan pembaca yang menilai lah.

    Jokowi dan semua staffnya, menurut penulis, adalah pelopor anti stres. Lho kok? Begini analisisnya:

    Stres dan Penawarnya
    Mari kita mulai dengan memahami “stres” sebelum beranjak ke diksi “penawar stres”. Philip Dewe dan Croper (dalam buku Stress A Brief History, 2004) berpendapat bahwa stres berasal dari kata stingere, bahasa Latin, yang berarti keras atau ketat. Kata ini memang mempunyai transformasi makna dari generasi ke generasi. Sebagai contoh, Di abad ke-17, kata stres diartikan sebagai unsur pesimisme, sebuah kesukaran, kesusahan, kesulitan dan atau penderitaan. Akan tetapi, menariknya pada abad ke-18, setelah Revolusi Prancis, kata stres beralih pada pemaknaan yang lebih optimis seperti tekanan yang menguatkan, ketegangan yang menimbulkan pencerahan, ujian kekuatan mental manusia.

    Di abad dua puluh satu ini, stres dipahami sebagai kombinasi antara dua paham tersebut. Dua paham di atas adalah pilihan sama kuat bagi orang masa kini. Ketika stres, orang bisa memilih untuk secara instant minum pil-pil penenang, atau di sisi lain, orang bisa saja memilih berkontemplasi sejenak, menenangkan diri, setelah itu maju mengalahkan sumber stres lama dan bangkit dengan kekuatan baru.

    Sejarah mengajarkan bahwa manusia mempunyai dua perspektif terhadap stres. Pertama, stres adalah penyakit mental yang mampu membawa manusia mengalami penurunan energi kehidupan. Kedua, sebaliknya, stres adalah tahap sebelum “energy recharge” dimana manusia akan memperoleh energi tambahan kehidupan.

    Sementara, di sisi lain, Jokowi mengajarkan penulis bahwa stres adalah tantangan untuk ditaklukkan yang membuat manusia berubah lebih baik. Pembahasannya ada di bawah ini:

    Apa Hubungan Stres dan Pencapaian Jokowi?
    Jokowi menjadi presiden NKRI dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Indonesia, meskipun amat sangat kaya dengan SDA dan SDM, adalah negara berkembang yang masih jauh tertinggal, apalagi ditambah budaya korupsi dan feodalis yang masih kental melekat di tubuh pemerintah. Keadaan ini ditambah dengan nuansa perpolitikan yang berorientasi transaksional (proyek dan jabatan) serta masih kuatnya kekuatan lama bercokol di segala lapisan.

    Potensi konflik horisontal dengan “kambing hitam” bernama SARA selalu mampu dimainkan oleh lawan. Salah satu contoh, kasus nasional “Al Maidah Ahok” yang berakhir dengan vonis Ahok dipenjara meskipun Ahok jelas-jelas tidak bersalah. Hal tersebut adalah bukti bahwa SARA merupakan barang laris untuk dipermainkan lawan politik dari Sabang sampai Merauke.

    Jokowi sudah dituduh sebagai antek PKI dan anti Islam. Menarik bahwa meskipun sampai detik ini Presiden RI ini diolok-olok dan difitnah oleh kekuatan lama dan para lawan politiknya, Jokowi selalu berhasil menumbangkan strategi lawan politiknya dengan ketenangan dan selera humor yang tinggi.

    Penulis selalu tersenyum melihat vlog-vlog pak Jokowi dan anaknya Kaesang ketika canda mereka selalu kontekstual mengkritisi masalah-masalah sosial yang ada.

    Jokowi tetap sabar melayani ejekan dan fitnahan dan bahkan dibalas dengan bukti kerja nyata untuk bangsa dan negaranya. Strategi politiknya sangat berbeda dengan Duerte atau Trump yang melawan keras dengan keras, stres dibalas stres.

    Kita mengalami sendiri pembangunan sarana transportasi besar-besaran, penyelesaian proyek-proyek mangkrak, pemerataan subsidi untuk kesehatan dan pendidikan, kemandirian pangan, perlindungan sumber daya alam, pemerataan pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia, dan lain-lain. Silahkan melihat rencana dan contoh bukti nyata pemerintahan Jokowi di situs resmi ini: http://http://ksp.go.id/pencapaian-1-tahun-pemerintahan-jokowi-jk/.

    Strategi Anti Stres Jokowi: “Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”
    “Nglurug tanpa bala menang tanpa ngasorake” adalah pepatah Jawa yang berarti “menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan”. Mudah diucapkan tetapi di era modern ini sangat sulit dilaksanakan. Hampir tidak ada pemimpin yang menang tanpa merendahkan lawannya atau menyerbu musuh tanpa menggunakan pasukan. Para pemimpin AS, pemimpin ISIS, pemimpin tentara dan pemimpin-pemimpin lainnya pada umumnya menggunakan modal dana dan tentara untuk menanggulangi stres suatu bangsa.

    Penulis belajar dari Jokowi bahwa stres itu justru merupakan modal untuk menambah kawan dan mengurangi lawan. Bagaimana Jokowi memperlakukan lawan-lawan politiknya, yang selalu mencoba menumbuhkan stres bangsa, adalah strategi perang yang anggun. Sebagai contoh, Jokowi naik Kuda bersama Prabowo untuk meredam panas pilkada DKI. Jokowi minum teh bareng para petinggi DPR (yang terkesan anti KPK) untuk soliditas kerja lembaga-lembaga negara, Jokowi ngobrol bareng SBY, pemimpin partai oposisi, di istana, sebagai sarana rekonsiliasi rakyat para pendukung partai masing-masing.

    Jokowi bahkan berani sholat Jumat bareng para jutaan pendemo “212” yang ingin membuat aksi makar terhadap pemerintahannya untuk meredam perang antar saudara baik yang seagama maupun sebangsa.

    Mana ada pemimpin begitu? Berdoa bersama mereka yang hendak mengkudetanya?

    Strategi Jokowi ini menurut penulis memberikan keteduhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah situasi penuh haters dan lovers, secure-insecure, bumi bulat – bumi datar yang sering bergesekan.

    Penulis belajar stress management dari seorang Jokowi. Penulis semula memahami ada dua kemungkinan akibat dari stres. Pertama, seperti kata Dahrendorf yang pernah sungguh optimis mengatakan, “tujuan stres dan konflik sosial adalah peradaban baru yang lebih baik”. Kedua, juga seperti kata Dahrendorf yang tidak menutup kemungkinan bahwa stres maupun konflik bisa berakibat “padamnya kehidupan”.(link: http://http://www.csun.edu/~snk1966/Ralph%20Dahrendorf%20Toward%20a%20Theory%20of%20Social%20Conflict.pdf)

    Kini, penulis belajar dari Jokowi hanya satu kemungkinan akibat stres dan konflik politis, “peradaban baru lebih baik”. Syaratnya, seperti kata beliau dalam vlog ini, “konsentrasi, fokus, tembak!”

    Penulis belajar dari langkah-langkah politis Jokowi dan memahami bahwa stres, seperti halnya konflik sosial adalah bagian dari takdir. Seluruh sejarah kehidupan adalah sejarah konflik dan stres. Stres dan konflik hidup pernah, sedang, dan akan terus terjadi. Stres dan konflik adalah kebenaran mutlak. Oleh karenanya, hadapi stres dengan tenang, tembak dengan tepat sumber stres ketika ada kesempatan, sambut kemenangan seperti Jokowi mengalahkan Kaesang dalam lomba panah “Bapak- anak” di video di atas.

    Sejak dari konflik inter-lokal antara Jokowi dan Bibit Waluyo, sampai dengan cara beliau menangani konflik-konflik skala nasional maupun internasional, penulis belajar dari Jokowi suatu hikmah dari stres. Jokowi mengajarkan bahwa stres dan konflik adalah sumber, arah, pola, dan konsekuensi dari perubahan kehidupan. Tanpa konflik-konflik dan tanpa kumpulan stres-stres, manusia tidak bisa merubah dirinya untuk menjadi pribadi lebih baik. Stres adalah sumber, arah serta konsekuensi dari apa yang disebut kedewasaan.

    “Hidup ini hanya sekali prennn, mau stres kek, mau senyum kek, mau patah hati kek, mau kaya kek, mau miskin kek, yang penting happy ayaaaaa….(tapi dengan cara yang sesuai nilai-nilai Pancasila ya…)”



    Penulis   :   G.D Wijoyoko    Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jokowi Obat Anti Stres Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top