728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 05 Juni 2017

    Jokowi dan Amin Rais, Sesama Solo yang Perbedaannya Bak Langit Dan Bumi

    Semua pasti sudah tahu dari mana presiden Indonesia saat ini, Jokowi. Beliau berasal dari Jawa Tengah, tepatnya Surakarta atau Solo. Berasal dari keluarga sederhana namun giat bekerja. Ketika masa kecil selalu menikmati semuanya dengan riang gembira. Dan tokoh berikutnya, yang sebenarnya lebih senior (sebenarnya penulis mau mengatakan lebih tua secara langsung, namun lebih mantab dan menarik jika di dalam kurung), bergelar doktor, sering berlaku seperti orang suci. Siapakah dia? Dialah mbah Amin Rais.

    Tulisan ini tidak bermaksut menyanjung salah satu dan kemudian meneggelamkan yang lain. Tulisan ini sebisa mungkin netral karena memotret tokoh yang sesama seperti penulis yang juga dari Solo, meskipun sangat pinggir, Wonogiri. Meskipun begitu, untuk pembaca seword yang terhormat silakan memberi penilaian juga. Juga untuk seworder penyusup dari “alam lain” silakan berkomentar sesuka panjenengan, kami akan senyam-senyum saja kok. Kagak ngaruh tuh gerakan terorisasi kalian dengan masuk menjadi pembaca yang ikut coment dan mencoba mengacau kami..hehehe. Wong orang lain pasti sudah amat sangat paham tentang cara kalian berkomentar dan mengomentari sesuatu. Kalian kan yang biasanya cepet marah, tersulut lalu terbakar emosinya sehingga banyak yang menamaimu, kaum sumbu pendek. Kalian berhak lho mengadukan mereka, kan mereka mengganti namamu tanpa kendurenan? Penistaan itu bro..sisi..ayo…laporkan, bahwa ada kelompok penulis dan pembaca seworder yang dinista namanya karena mengganti tanpa slametan.

    Lho, kok malah nglantur ta? Oke, saya akan melanjutkan nulis saya tentang perbandingan Pakde Jokowi dan Simbah Amin Rais. Tidak mungkin semua hal saya bandingkan, saya akan membandingkan beberapa hal, yang di dalamnya ditemukan persamaan dan perbedaan.

    Saya akan memulai dengan hal pertaman tentang perbandingan itu. Mereka berdua itu banyak kesamaannya lho, sama-sama orang Solo, sama-sama muslim, sama-sama laki-laki dan seterusnya. Karena sesama orang Solo pastilah ada kesamaan juga terkait budaya serta adat istiadatnya. Sebagai wong Solo secara umum pastilah diajari kesopanan dan kesantunan dengan ciri khasnya . Karena dididik dalam lingkungan sosial dan keluarga yang santun, maka baik mbah Amin dan Dhe Jokowi pastilah memiliki kesantunan itu, meskipun “kadarnya” bukanlah “24 karat” seperti simbah Amin.

    Nah, dari sisi persamaan ini juga bisa dilihat sisi bedanya. Pakde Jokowi nampaknya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dengan bangunan komunikasi keluargaan pinggiran yang terbuka, sehingga dalam segala hal, khususnya berkomunikasi,selalu akan jujur dan tanpa ditutup-tutupi serta mengutamakan anggah-ungguh khas pinggiran, yang jauh dari keraton.

    Bisa jadi untuk pakde Jokowi   ada batas jelas antara dunia akting dan dunia nyata. Namun beliau sulit berakting sehingga enggan menjadi pemain drama. Bagi Pakde, semuanya hal, baik relasi, cara beragama dan berkomunikasi adalah kenyataan, bukan sandiwara atau drama Apa yang dilakukan dan dikerjakan adalah fakta kehidupan, bukan akting.

    Ini yang berbeda dengan mbah Rais. Mungkin bagi simbah, antara dunia nyata dan drama itu tidak ada batasnya. Sehingga kadang lupa bahwa dirinya harus berakting atau bersikap nyata. Masih ingatkan dengan gejolak reformasi di sekitar 98nan? Siapa yang berdarah-dara dan berkorban?Mahasiswa kan?Namun simbah Rais kok ya senang dan bangga dinyatakan sebagai tokoh reformasi ya? Jangan-jangan simbah sedang merasa bahwa itu hanyalah acting drama ya?

    Masih ingat juga kan pembaca seword, tentang janjinya simbah Rais bahwa kalau pakde menang pilpres akan jalan kaki dari Jogja sampai Jakarta?Dan sampai saat ini belum terealisasi? Bisa jadi saat ngendika itu, simbah Rais merasa sedang tampil di panggung drama atau dalam shooting sinetron, sehingga ketika di tagih akan ngeles. “Lho, itu aku sedang acting dan di bayar, masak akting diminta diwujudkan?”..

    Masih ingat juga kan ketika simbah menuduh Ahok terjerat korupsi,khususnya Sumber Waras?Bagaimana wajah penuh emosi saat simbah mengungkapkan tuduhan?Seolah tokoh paling lurus sedunia, namun ternyata malah simbah yang plengah-plengeh saat ada aliran dana ke rekeningnya secara bertubi-tubi dan itu uang negara namun simbah diam saja?

    Dan tahukan pembaca bahwa salah satu anak simbah Rais juga ikut menceburkan diri ke ranah politik, menjadi anggota DPR melalui jalur PAN?Mungkin saja ada katebelece dari simbah sehingga si anak lancar-lancar saja melenggang ke DPT karena mungkin bagi simbah, PAN kan miliknya.

    Setelah ngrasani mbah Amin kini saatnya ngrasani Pakde Jokowi. Pakde itu tipikal orang desa yang suka bekerja. Orang desa itu kalau bekerja diam dan tidak suka terlalu banyak bicara, selain itu tipikal orang desa yang sederhana adalah enggan dipuji atau disanjung-anjung. Lihatlah prestasi pakde Joko selama menjabat presiden, meski belum selama Presiden yang juga penyanyi itu?

    Namun meskipun prestasinya sangat luat biasa, pakde enggan disanjung-sanjung. Pakde tetap fokus bekerja dan bekerja. Persis seperti petani desa yang panen besar dan tidak mau disanjung karena konsepnya ya sederhana. Petani menanam dan panen itu kemestian, bukan prestasi. Bagi pakde nampaknya juga begitu, kalau ada pembangunan merata itu bukanlah prestasi, itu memang tugasnya presiden yang benar, bukan malah nyanyi dan medsosan.

    Pakde Joko juga bukanlah tipi orang yang suka menuduh apalagi menyalahkan orang lain. Beliau lebih suka terkait kesalahan itu hukum yang mengatasinya. Pakde juga tidak baperan menyikapi sesuatu serta tidak sembrono menanggapi sesuatu. Bahkan dalam “kesembronoannya” pakde Joko sebenarnya sedang melakukan keseriusan. Ingat saat kemarin ditanya tentang ormas radikal, saat buka bersama itu? Saat ditanya wartawan bukannya menjawab dengan penuh ekspresi dan banyak mikrofoon yang diliput puluhan media. Eee..malah menulis dalam secarik kertas dan menyerahakan ke wartawan. Isinya ingatkan?Daftar menu makanan..haha..

    Terakhir, sebelum tulisan ini terlalu panjang, yaitu soal anak-anak atau keluarga dalam “gurita jabatan”. Kalau dahulu tokoh politik yang berjabatan sering membawa anak,istri,ponakan, tetangga, kenalan, dan yang lain masuk dalam lingkaran bisnis serta kekuasaanya, Pakde Joko tidak. Anak-anaknya tidak ada yang memanfaatkan jabtan presiden bapaknya, semuanya hidup dalam pilihannya yang mandiri dan tidak memnafaatkan kepresidenan bapaknya. Beda kan dengan anak-anaknya simbah Amin?

    Salam Sesama Cah Solo Mbah, Pakde..



    Penulis :  Dony setyawan       SUmber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jokowi dan Amin Rais, Sesama Solo yang Perbedaannya Bak Langit Dan Bumi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top