728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 11 Juni 2017

    Jokowi Bangkitkan Kedigdayaan Pancasila

    Selama tiga tahun memimpin, capaian Presiden Jokowi telah membuat banyak perubahan yang kasat mata di negeri ini. Pembangunan jaringan tol, jembatan, waduk dan jalan layang, menunjukkan bahwa saat ini pemerintah betul-betul membuat perencanaan dan mewujudkannya demi meningkatkan harkat dan martabat negara.

    Dengan pembangunan infrastruktur yang visioner itu, Indonesia jelas telah menaikkan bargaining position di mata dunia, pun di hadapan para investor. Berdasarkan survei United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD), Indonesia naik ke peringkat empat sebagai negara tujuan investasi yang prospektif 2017-2019. (infopresiden.com, 08/06/2017)



    Jika skenario pembangunan itu berjalan sesuai harapan, maka predikat negara berkembang segera akan dilalui. Kiranya, target mensejajarkan diri bersama negara maju lainnya akan dicapai pada 2045 nanti, seperti yang diimpikan oleh Sang Presiden. Tentu saja, pembangunan fisik tidak boleh berjalan sendiri. Ia harus disandingkan dengan pembangunan jiwa dan karakter kebangsaan. Indonesia maju dengan tetap berdiri di atas nilai kearifan, warisan para leluhur, sebuah visi yang telah dirumuskan oleh pendiri bangsa ini dalam konsep Pancasila.

    Karenanya, menemukan kembali semangat kebangsaan menjadi instrumen utama untuk menguatkan simpul-simpul komunitas yang plural. Pada situasi ini, rasanya kita perlu kembali merenungi pesan Benedict Anderson dalam bukunya Imagined Community, bahwa nasionalisme harus dikonstruksi dalam kehidupan sosial. Semua orang harus melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas besar, komunitas yang terbayang, sebagai sebuah bangsa.

    Dalam interaksi sehari-hari, semua orang bergerak bersama dalam visi besar yang saling menguatkan. Ikatan-ikatan primordial, suku dan agama, mutlak direkonstruksi agar terkonsolidasi menuju komunitas yang terbayang. Tentu visi ini perlu diterjemahkan dalam pola perilaku dan interaksi setiap anggota masyarakat. Presiden Jokowi sangat memahami pentingnya membangun mental bangsa lewat gerakan Revolusi Mental, yang untuk mewujudkannya, Pancasila perlu kembali dikenalkan, dipahami, diindoktrinasi, sebagai nilai luhur bangsa.

    Hari Lahir Pancasila

    Jika pembangunan fisik, pembuktiannya dengan kasat mata, maka pembangunan psikis pembuktiannya dengan mental, lewat sikap dan perilaku. Dimensi ini memang agak rumit, terutama karena aspek-aspek yang terkait dengannya memiliki ukuran yang immaterial, dan menjadi sangat rentan untuk memecah semangat persatuan dan kesatuan.

    Adalah gerakan radikalisme yang akhir-akhir ini telah menghadirkan kekuatiran dalam hubungan kebhinekaan termasuk dalam ranah ancaman kedaulatan bernegara. Jokowi sepertinya menyadari hal itu, yang ditunjukkan dengan reaksi mengambil langkah-langkah taktis sekaligus kebijakan strategis untuk mengembalikan kewibawaan negara dan menguatkan kembali ideologi negara, Pancasila.

    Setelah membubarkan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) pada 8 Mei lalu, dan pada sejumlah pidatonya menegaskan akan ‘menggebuk’ PKI dan kelompok yang berkeinginan mereduksi ideologi negara dan yang sehaluan dengannya. Jokowi seperti membangkitkan kembali wibawa Pancasila dengan mencanangkan pekan Nasional Pancasila sebagai wujud khidmat bangsa dalam memperingati hari lahir ideologi negara.

    Pemilihan tanggal 1 Juni dianggap sebagai terobosan penting terutama dalam upaya mengideologisasi kembali nilai-nilai Pancasila ke ruang-ruang publik. Bahwa Pancasila, tidak lagi sekadar simbol bernegara yang sila-nya dibacakan setiap upacara hari senin. Namun, Pancasila adalah nilai yang seharusnya hidup pada setiap lingkungan, di setiap tempat, di dalam rumah, dan tersemat dalam pribadi-pribadi bangsa Indonesia. Demi mengukuhkan peringatan hari Pancasila, pemerintah sejak tahun lalu menetapkan 1 Juni sebagai hari libur nasional.



    UKP-PIP adalah Perwakilan Kebhinekaan

    Melalui momentum pekan Pancasila, pemerintah juga telah membentuk sebuah lembaga Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Oleh Presiden Jokowi, UKP-PIP adalah bentuk komitmen untuk menjaga wasiat para pendiri negara-bangsa yang telah merumuskan landasan ideologi negara.

    Presiden Joko Widodo melantik tim pengarah UKP-PIP di Istana, Rabu, 7 Juni 2017. Sembilan anggota Dewan Pengarah UKP-PIP yang dilantik Jokowi adalah Presiden Indonesia ke-5, Megawati Sukarnoputri; Wakil Presiden ke-6, Jendral TNI (Purn) Try Sutrisno; mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Muhammad Mahfud Md.; mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif; Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin; Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj; mantan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Pendeta Andreas Anangguru Yewangoe; Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya; dan Ketua Umum Majelis Buddhayana Indonesia sekaligus CEO Garudafood Group, Sudhamek. (tempo.co, 08/06/2017)

    Lembaga bentukan presiden ini diputuskan melalui Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2017, bertugas membantu Presiden dalam merumuskan arah kebijakan umum pembinaan ideologi Pancasila dan melaksanakan koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian pembinaan ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan. (kompas.com, 02/06/2017)

    Pada struktur tim pengarah UKP-PIP tersebut, tergambar dengan jelas komposisi yang mewakili unsur-unsur kebhinekaan Indonesia. Perwakilan kebhinekaan yang tidak ditetapkan berdasarkan porsi komunitas, tapi lebih kepada bagaimana meletakkan setiap unsur diberi ruang yang sama dan setara, sehingga proses ideologisasi Pancasila akan menyentuh ke segenap lapisan masyarakat.

    Memberi ruang yang sama pada setiap kelompok tanpa perlu lagi merujuk pada angka kuantitas dan wilayah, dengan sendirinya menyingkirkan konsep mayoritas-minoritas. Artinya, untuk dapat duduk bersama dan berdiri sejajar, semua unsur mendapatkan kesempatan, hak serta tanggungjawab yang sama.

    Mengajarkan dan Menyegarkan Pemahaman Pancasila

    Melembagakan struktur pemantapan ideologi Pancasila adalah sebuah terobosan monumental, sekaligus mengantisipasi menguatnya kembali sentimen primordial yang berpotensi merusak tatanan kebangsaan.

    Salah satu bentuk konkrit dari kerja lembaga UKP-PIP adalah merancang program dan implementasi konsep penghayatan dan pengamalan nilai Pancasila untuk dilebur ke dalam kurikulum pendidikan, kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy. (kompas.com, 02/06/2017)

    Sebuah gagasan besar memang perlu dikawal dengan langkah-langkah terukur. Pada semua jenjang dan jenis lembaga pendidikan, Pancasila wajib diajarkan, demi menjaga semangat kebangsaan dan cinta tanah air.

    Demi menjaga semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air, maka perlu penegasan dalam kurikulum sekolah bahwa Pendidikan Pancasila memang menjadi prioritas. Karenanya, “Pancasila akan segera menjadi mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah. Program prioritas kedua UKP-PIP adalah memunculkan Pancasila di ruang publik. Untuk mewujudkan hal itu, akan dirangkul komunitas yang memiliki perhatian terhadap pentingnya Pancasila. mengarusutamana Pancasila di ruang publik dan event-event, festival, atau film pendek yang menceritakan berbagai sisi tentang Pancasila,”demikian kata Kepala UKP-PIP Yudi Latif. (kompas.com, 09/06/2017)

    Di era Jokowi, kedigdayaan Pancasila dibangkitkan kembali. Dengan pemahaman idelogi Pancasila, diharapkan sentimen kelompok dapat menguap, digantikan oleh tekad bersama mewujudkan bangsa yang berlandaskan kebhinekaan. Sebuah negara kesatuan yang dihimpun oleh nilai-nilai luhur Pancasila.

    #JokowiUntukIndonesia


    Penulis   :  SUBARMAN SALIM  Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jokowi Bangkitkan Kedigdayaan Pancasila Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top