728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 09 Juni 2017

    Jangan Biarkan RI Seperti Qatar!

    Menyikapi dan mencermati  perkembangan domestik serta internasional yang terjadi belakangan ini, maka saya berani mengambil tesis bahwa Indonesia yang kita cintai ini berpotensi untk menjadi negara seperti Qatar yang dalam waktu seketika dikucilkan dari pergaulan internasional serta kawasan

    Hal itu terjadi karena Qatar ditengarai menjadi negara yang sangat permisif terhadap persemaian paham radikal yang berbalut persaudaraan agama.  Inginkah negeri yang kita cintai ini menjadi seperti Qatar? seluruh warga masyarakat Indonesia tentu serempak akan menjawab, “tidak, kami ingin damai, saling menghormati dan saling menyayangi seperti yang selama ini terjadi.”

    Oleh karena itu hanya ada satu pandangan dan pendapat yang patut dilakukan oleh masyarakat yang mengaku Warga Negara Indonesia (WNI) yaitu dengan menghargai perbedaan suku, agama dan ras (SARA), bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa serta  menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa. Hal itu mewujud dalam paham negara Pancasila.

    Tanpa memahami Pancasila secara utuh, maka disorientasi kebangsaan dan friksi yang seharusnya tidak mudah terjadi akan terus berlangsung seperti yang terjadi saat ini. Dimana kita sebagai anak bangsa harus saling hujat dan saling bermusuhan satu sama lainnya, baik secara praktis maupun bermedia sosial.

    Bibit destintegrasi bangsa ini sebenarnya telah ada semenjak negara Indonesia didirikan, namun dengan semangat untuk merdeka dan bebas dari penjajahan, seluruh warga dan masyarakat Indonesia dari beragam suku bangsa, ras dan agama berkohesi menjadi satu untuk mengedepankan Indonesia yang berbeda tapi satu.

    Keutuhan bangsa ini menjadi terkoyak dan makin mengemuka, ketika Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI-Jakarta berlangsung. Dua pasang kandidat yang lolos pada putaran kedua saling adu program dan strategi  agar dapat memenangkan kontestasi pilkada tersebut.

    Sayangnya, salah satu kandidat dengan sengaja mencuatkan isu agama yang seharusnya (secara etika) tidak boleh dimunculkan, dengan sengaja dan terstruktur isu ini kemudian dimunculkan dan menjadi viral di media sosial. Bahkan, hal ini pun dijadikan kendaraan politik dengan aksi turun ke jalan menentang keberadaan petahana Kepala Daerah DKI-Jakarta.

    Bagi kalangan yang mahfum terhadap dunia politik, maka hal ini dianggap sebagai sebuah lelucon atau dagelan biasa saja. Akan tetapi, bagi masyarakat awam politik hal ini menjadi suatu ancaman yang harus disikapi dengan tindakan reaktif.

    Bagi pengguna isu agama, lihatlah kerusakan moril di masyarakat yang telah kalian lakukan, masyarakat menjadi terbelah saling curiga satu dengan lainnya, merasa lebih unggul satu dengan lainnya. Hingga pemerintah Presiden Jokowi pun perlu membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) guna kembali merangkul semua elemen dan masyarakat bangsa untuk fokus pada pembangunan bangsa.

    Dunia internasional pun menyayangkan kondisi ini terjadi di Indonesia, negara lain menyayangkan keretakan yang terjadi di bumi nusantara ini. Haruskah kita tercerai-berai seperti mantan negar Uni Soviet yang kini menjadi beberapa negara federal? Tentu saja hal ini tidak boleh terjadi.

    Friksi yang terjadi di masyarakat —meskipun sebagian orang berpendapat hanya dalam media sosial—dapat memberikan akses leluasa bagi berbagai paham dan gerakan primordial atau separatis untuk tumbuh dan berkembang. Hal itu yang terjadi di Qatar, dimana para pemimpin negara itu memberikan kemudahan terhadap berkembangnya paham agama bermahzab  Salafi yang kemudian berkembang menjadi gerakan persahabatan muslim (Ikhwanul Muslimin), Islamic State on Iraq and Syiria (ISIS) dan paham lainnya.

    Terlepas dari pembentukan beberapa organisasi radikal tersebut diprakarsasi oleh satu negeri adidaya, hendaknya kita kembali pada persatuan dan kesatuan yang terjalin baik di negeri yang kita cintai ini.  Sebab, lihatlah kerusakan yang terjadi, para tokoh politik yang selama ini bermain untuk mendapatkan posisi dan jabatan di berbagai tingkatan dengan memainkan isu agama, malah tertawa terbahak-bahak, merayakan kemenangan dengan memberikan upah umroh, dimana  salah satu pimpinan tertingginya hingga saat ini masih belum kembali ke tanah air.

    Penggunaan isu agama jelas merusak dan memberikan efek yang sangat destruktif bagi keutuhan bangsa.  Bom bunuh diri di kampung Melayu, Jakarta merupakan bukti dari kerusakan penggunaan strategi tersebut. Betapa negeri yang terkenal sebagai untaian zamrud  khatulistiwa ini sangat menarik bagi aktor politik penebar isu desintegrasi, baik dalam skala nasional maupun internasional.

    Lihatlah, Indonesia kini menjadi sasaran paham radikal yang tengah menyusun kekuatan di Maute, Filipina. Tanpa resistensi yang mumpuni untuk menangkal paham radikal serta sikap permisif terhadap berbagai gerakan agama berbalut persaudaraan bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi seperti Qatar!



    Penulis    :    Kentos Artoko Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jangan Biarkan RI Seperti Qatar! Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top