728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 09 Juni 2017

    Jaksa Cabut Banding, Ahok Sudah Tamat?

    Jaksa penuntut umum (JPU) dalam kasus penodaan agama yang dilakukan Ahok akhirnya secara resmi mencabut banding atas putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang telah menjatuhkan vonis dua tahun penjara kepada Ahok. Baca Di Sini

    Setelah sebelumnya, ketika vonis dijatuhkan yaitu dua tahun penjara, Ahok dan pengacaranya langsung mengambil sikap untuk banding atas keputusan majelis hakim yang kotroversial itu. Harapan bagi para pendukung Ahok seakan kembali muncul ke permukaan. Naik banding lalu diyakini sebagai salah satu cara terbaik.

    Gaung dan gema betapa percayanya mereka bahwa Ahok sama sekali tidak melakukan tindak pidana dan oleh karenanya tak pantas untuk dipenjara layaknya seorang penjahat atau koruptor, secara bertubi-tubi datang dari berbagai pelosok negeri.

    Bunga dan lilin adalah jawaban atas kerinduan mereka mengungkapkan perasaan sayang dan rasa kehilangan mendalam. Selain Jokowi, Ahok adalah salah satu icon sosok pejabat yang dicintai dengan amat sangat.

    Anda perhatikan dan nilai saja sendiri secara jujur, mana ada pejabat seperti Ahok ini. Sudah tidak menjabat namun dikirimin bunga begitu rupa. Ia tetap dicintai dan dipuja bak pahlawan rakyat. Dimasukin penjara, seluruh negeri pun tergerak dan bergerak. Mereka memasang lilin keprihatinan dan menyatakan kegundahan atas rapuhnya keadilan di negeri ini. Belum pernah ada fenomena seperti ini, padahal ia ‘hanya’ Gubernur Jakarta, tetapi dukungan datang dari seantero negeri.

    Lalu, apa lacur, Ahok dengan penuh kerelaan mencabut bandingnya secara tak terduga. Pendukungnya tersentak kaget. Sontak mereka ribut di media sosial. Sehari sesudahnya, Ahok mengirim surat yang dibacakan istrinya dengan derai air mata. Surat yang membuat wanita tegar itupun mesti menangis. Tangisan yang sungguh membuat orang lainpun ikut menangis pedih.

    Ahok dengan kerendahan hati menyatakan siap menjalani apapun yang sudah diputuskan majelis hakim. Sikap yang belum tentu dimiliki kita semua. Bahkan ia meminta semua pendukungnya untuk bersikap dewasa dan tidak melakukan demo dan aksi pasang lilin lagi. Bayangkan kemacetan dan gangguan yang bisa muncul oleh karena aksi-aksi seperti itu, demikian menurut Ahok.

    Apakah para pendukung Ahok lalu pupus harapan setelah itu? Belum. Masih ada secercah harapan. Apa harapan itu? Bandingnya jaksa. Mereka masih menaruh harapan pada bandingnya jaksa. Meskipun kecil, namun harapan itu masih terasa. “There’s a light at the end of the tunnel”. Masih ada cahaya terang di ujung lorong.

    Hari ini kita menyaksikan harapan kecil itu kelihatannya pupus sudah. Jaksa rupanya dengan pertimbangan tertentu mencabut memori banding mereka. Apa artinya ini? Itu artinya bahwa keputusan majelis hakim sudah inkracht atau berkekuatan hukum tetap. Ahok dinyatakan resmi bersalah, legal standingnya sudah jelas. Menerima dan menjalani hukuman dua tahun penjara.

    Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap adalah putusan pengadilan tingkat pertama yang tidak diajukan banding setelah waktu tujuh hari sesudah putusan dijatuhkan atau setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir, sebagaimana diatur dalam Pasal 233 ayat (2) jo. Pasal 234 ayat (1) UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (“KUHAP”).

    Tetapi secara fakta hukum, apakah Ahok memang sudah benar-benar tamat? Ternyata belum. Masih ada satu kesempatan lain yaitu dengan Peninjauan Kembali (PK). Sebetulnya, justru sekarang syarat untuk PK sudah terpenuhi. Syarat untuk bisa PK adalah keputusan pengadilan sudah harus berkekuatan hukum tetap. Dengan kata lain, bila masih ada proses banding, kasasi, dan sebagainya, maka PK belum bisa diajukan.

    Permintaan untuk dilakukan peninjauan kembali justru karena putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan sudah tidak dapat lagi dilakukan banding atau kasasi. Bahkan, permintaan peninjauan kembali atas suatu putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap, tidak menangguhkan maupun menghentikan pelaksanaan dari putusan tersebut (Pasal 268 ayat [1] KUHAP).

    Pengaturan secara umum upaya hukum peninjauan kembali sudah diatur secara lengkap dalam Pasal 263 s.d. Pasal 269 KUHAP. Putusan perkara pidana yang dapat diajukan peninjauan kembali adalah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum (Pasal 263 ayat [1] KUHAP).

        Permintaan peninjauan kembali dilakukan atas dasar antara lain (Pasal 263 ayat [2] KUHAP): 1) apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat, bahwa jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas atau putusan lepas dari segala tuntutan hukum atau tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkara itu diterapkan ketentuan pidana yang lebih ringan; 2) apabila dalam pelbagai putusan terdapat pernyataan bahwa sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah bertentangan satu dengan yang lain; 3) apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata.

    Apakah pada kasus Ahok ini ada peluang untuk dilakukan PK, silakan saja Anda baca poin 1 – 3 di atas pelan-pelan dan hati-hati lalu renungkan dalam-dalam, kalau mau jujur PK yang diajukan sangat memungkinkan untuk diterima, bahkan bisa menang dengan satu syarat khusus. Apa syarat itu? Pengadilan tidak ditekan. Jalanan tidak dipenuhi orang-orang demo atas nama apapun. Biarkan hukum berbicara seadil-adilnya.

    Cari kebenaran itu. Buktikan keabsahan keputusan majelis hakim kontra bukti-bukti dan kesaksian baru. Benarkah Ahok telah menodai agama, terbukti sah dan meyakinkan kah seperti kata para majelis hakim? Apakah Ahok pantas dihukum 2 tahun penjara? Kita tunggu saja akhir cerita drama berseri penodaan agama ini.

    Anda sendiri setidaknya sudah bisa mengira-ngira. Carilah jawaban dengan memakai hati nurani dan akal budi. Jangan jawab pakai hati batu dan akal bulus.

    Ada pepatah Belanda yang mengatakan begini, “Na elke donkere nacht volweer een lichte morgen,” yang artinya kurang lebih adalah, “Malam yang gelap selalu diikuti dengan pagi yang terang.” Itu kenyataannya. Ada gelap pasti ada terang. Ada pahit ada manis. Ada hitam ada putih, ada baik ada buruk, dan sebagainya. Ternyata, Ahok belum benar-benar tamat. Habis gelap, selalu akan terbit cahaya terang.

    Bilapun kelak PK-nya ditolak atau kalah, Ahok tetap belum tamat. Dua tahun penjara bukan masalah. Kurungan jeruji besi tidak menjadi soal bagi Ahok. Ada begitu banyak orang yang mengasihi Ahok dan terus mendoakan dia. Dia juga percaya bahwa memang Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak tidur. Setelah bebas ia akan jadi apa juga pasti sudah ada dalam rancangan Tuhan semesta alam.

    Untuk itu, di akhir surat Ahok pada waktu dibacakan Veronica beberapa waktu yang lalu, Ahok menulis lugas dan tegas: “Dia (Tuhan) akan menyelesaikannya bagiku!” Atau meminjam istilah Ahok sendiri, Tuhan akan mengerjakan rancanganNya atas hidupku.



    Penulis :    Michael Sendow   Sumber :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Jaksa Cabut Banding, Ahok Sudah Tamat? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top