728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 17 Juni 2017

    Isu PKI: Isu Busuk Buatan para Penghianat Bangsa

    Masih lekat mengiang di ingatan saya bahwa PKI itu terlarang. Saya lahir di era Soeharto, yang sangat membenci PKI dan para eks anggotanya (atau yang sengaja dicap PKI). Kesimpulan saya waktu itu bahwa menjadi PKI berarti menjadi penghianat bangsa, pembunuh berdarah dingin yang kejamnya luar biasa. Katanya, waktu saya kecil, bahwa pemerintah mengenali dan memberi tanda eks PKI. Mereka dan keturunannya tidak akan pernah menikmati hidup damai di Indonesia sebagai konsekuensi perbuatan para pendahulu mereka.

    Padahal orang yang katanya PKI itu hidup damai bersama masyarakat pada umumnya. Mereka sekolah seperti biasa. Mereka bergaul laiknya kami bergaul. Mereka dan orang tuanya tidak pernah menunjukkan sikap seorang yang kejam. Mereka tidak pula hidup menyendiri. Tentu kami pun tidak pernah secara verbal memanggil mereka PKI, sekalipun dalam benak mereka tetap PKI. Tetapi memang harus diakui bahwa selalu saja muncul rasa waswas ketika bergaul dengan mereka.

    Label PKI itu mengerikan

    Coba bayangkan ketika dosa orang tuamu atau leluhurmu ditimpakan ke pundakmu. Apakah tidak akan seperti hidup di neraka sebelum meninggal? Label PKI pada eks anggota PKI dan keturunannya pada era Orde Baru itu sangat kejam. Menjadikan anak yang tidak tahu apa-apa mengemban dosa orang tua dan leluhurnya. Hidup mereka dipaksa tidak tenteram sekalipun mereka tidak mengerti apa itu PKI. Kehidupan mereka dicabut dari akar-akarnya.

    Pelabelan PKI sangat mengerikan. Ketika kamu dilabeli PKI maka tidak ada lagi ruang di Indonesia ini yang akan mampu membuatmu nyaman kecuali liang kubur. Bahkan ketika kamu bersembunyi di ruang gelap rumahmu sekalipun label PKI itu akan terus menghantuimu. Tidak ada lagi hak apa pun yang kamu dapatkan dari NKRI ini kecuali hak hidup. Hidup terancam, diasingkan dan disingkirkan, dibenci dan dimaki, dihina dan dicaci.

    Sebegitu mengerikannya, sampai mendengar sebutan PKI pun orang seperti bermimpi berada di neraka. Jadi ingat serial novel Harry Potter, nama Lord Voldemort saja sudah membuat orang serasa mengecap kegelapan yang mengerikan. Padahal PKI hanya sekelompok orang yang hidup mengikuti paham komunisme saja.

    Apa salah PKI?

    Yang saya mengerti PKI itu adalah Partai Komunis Indonesia. Partai yang menganut ideologi politik komunisme. Komunisme itu sendiri, secara sederhana, adalah bentuk perlawanan terhadap kapitalisme pada masanya. Komunisme dikenal sebagai paham yang meyakini persamaan hak seluruh warga negara terutama di bidang ekonomi.

    Sejarah versi Orde Baru memang menuduh PKI sebagai musuh negara karena beberapa peristiwa berdarah di beberapa tempat. Tetapi jangan lalu menuduh PKI sebagai musuh bangsa karena tuduhan kekejaman masa lalu. Ada konteks dan masanya. Pada masa lalu menentang pemerintah dianggap sebagai musuh yang harus dimusnahkan, padahal belum tentulah mereka ingin menghancurkan bangsa.

    Bila menuduh PKI sebagai penghianat bangsa pada masanya karena tuduhan pembantaian, apakah lalu negara pada masa Orde Baru, yang membantai PKI sebagaimana membantai tikus di sawah, tidak lebih kejam dari PKI?

    Sadarlah, sebagaimana sebuah paham, komunisme tidak henti-henti menyumbangkan kebaikan bagi bangsa ini dan dunia ini. Cina penganut komunis, menjadi negara maju. Rusia juga penganut paham komunis pun menjadi negara maju. Intinya, pada dasarnya suatu paham sejatinya diperuntukkan demi kebaikan, tetapi terkadang digunakan untuk kejahatan. Sesuci-sucinya Al-Quran, ternyata tidak mencegah oknum-oknum untuk mengeruk keuntungan dari pembiayaan pembuatannya, itu Al-Quran loh. Sesuci-sucinya sabda Allah dalam Kitab Suci, ternyata digunakan pihak tertentu untuk membinasakan manusia. Dan setajam-tajamnya pisau, sangat berguna untuk memotong bawang.

    PKI tidak bisa hidup di Indonesia

    Setelah mengalami proses panjang perjuangan bangsa ini, kita menyadari bahwa terjadinya peristiwa-peristiwa kelam bangsa ini sebagai proses pemurnian dasar-dasar negara yang tak bisa kita hindari. Apa pun itu peristiwanya, secara positif, kita maknainya sebagai proses menuju bangsa yang lebih baik.

    Masa pemerintahan Orde Baru kita anggap masa kelam ketika kita hanya melihat dari segi kerugian dan kekejamannya. Tetapi kita mampu memaknainya ketika melihat dari segi perkembangan yang dialaminya. Negara ini mengalami kemajuan pada masa itu, pembangunan di mana-mana dan lambat laun menelurkan generasi-generasi pembaharu. Meskipun kita harus mengorbankan banyak hal untuk itu, baik waktu 32 tahun, maupun sumber daya alam, yang dikeruk asing. Ingat, rezim Orde Baru berakhir karena produksi rezim itu sendiri, bukan produk negara lain.

    Pada era reformasi pun bukannya kita tidak mengorbankan banyak hal. Kerusuhan ’98, krisis moneter ’98-99, dan proses demokrasi yang belum sempurna pula adalah proses menuju bangsa yang lebih baik. Kita tidak lalu berhenti mengutuk kejahatan Orde Baru, padahal kerusuhan ’98 juga terjadi kekejaman yang sama. Tetapi jika peristiwa sejarah ’98 tidak terjadi, kita mungkin tidak akan bisa menikmati demokrasi yang lebih baik seperti sekarang ini.

    Pun saat ini ketika demokrasi kita semakin baik, penghayatan dasar-dasar negara semakin membumi, serta kehidupan semakin maju, bukannya kita tidak merasakan ada hal-hal yang perlu dibenahi di sana-sini. Kita selalu on going formation, belajar terus-menerus untuk semakin lebih baik, sebab setiap jamannya ada keburukannya.

    Ketika PKI di larang di Indonesia, dan keturunan eks anggotanya dilabeli ‘haram’, apakah lalu kita harus mengutuk eks rezim Orde Baru dan keturunannya, serta antek-anteknya sebagaimana mereka dulu melabeli PKI? Saya kira tidak. Saya kira jauh lebih baik memperbaiki yang rusak daripada merusak yang sudah rusak.

    Mungkin kita anti terhadap PKI, tapi saya kira Anda pengikut semangat yang dibawanya, semangat untuk menentang siapa pun yang ingin menguasai sumber daya untuk dirinya sendiri. Mungkin negara melarang PKI, sebagai partai, tetapi bukan berarti semangatnya dilarang, demi kemajuan, yaitu kebaikan dan kemaslahatan bersama. Tetapi Anda harus memahami bahwa paham komunisme itu tidak mewakili seluruh aspek kehidupan, hanya sebagian.

    Bahwa paham komunisme, sebagaimana diikuti PKI, dilarang di Indonesia adalah konsekuensi logis dari pilihan kita untuk menjadikan Pancasila dan UUD ’45 sebagai dasar negara. Artinya ketika Indonesia mengakui Pancasila dan UUD ‘45 sebagai dasar negara, maka paham lain yang bertentangan dengan itu, apa pun itu, secara otomatis dilarang sekali pun tidak perlu TAP MPR, apalagi ada. TAP MPR hanya mendasari dan menguatkan pelarangan. Jadi tidak perlu lagi isu-isu busuk seperti itu dimunculkan di negeri ini, Pancasila dan UUD ’45 itu sudah final.

    Sejalan dan sepakat dengan NKRI, penulis menolak PKI. Bukan karena menolak kebaikan yang ada dalam pahamnya, melainkan sudah lebih menikmati hidup sesuai Pancasila dan UUD ’45. Tidak perlu paham-paham yang akan memecah-belah bangsa ini, termasuk paham khilafah.

    Isu PKI adalah isu busuk buatan para penghianat bangsa

    Nah kalau sekarang isu PKI beredar, apakah kita tidak bertanya-tanya. Sementara dasar negara masih Pancasila dan UUD ’45 serta TAP MPR belum dicabut. Jangankan dicabut, sedikit pun tampak tidak ada terbersit niatan untuk mengganggu TAP MPR. Peraturan, larangan jelas, dan sikap pemerintah sangat tegas soal itu.

    Jangan-jangan, ini jangan-jangan loh yah, orang yang membuat isu itu adalah sebenar-benarnya PKI. Ini masuk akal sekali, karena katanya, PKI itu sangat lihai menggunakan taktik adu-domba. Jadi mereka sedang mengadu domba pemerintah dengan rakyat, rakyat dengan rakyat lain yang saling berbeda, dan pemerintah dengan pemerintah yang berbeda tugas dan fungsinya.

    Kalau pemerintah sudah tegas melarang, lalu siapa yang akan membangkitkan PKI kalau bukan penghianat bangsa yang ingin merusak negara ini. Mereka ini hanya bersembunyi dibalik kepedulian terhadap NKRI padahal merekalah penghasutnya.

    Kalau presiden dengan tegas akan menggebuk PKI, kalau masih ada di Indonesia, lalu siapa yang menuduh Jokowi itu anteknya PKI? Apakah bukan tindakan tolol dan bodoh jika Jokowi mau menggebuk dirinya sendiri? Hanya orang sirik dan dengki saja yang menganggap ketegasan Jokowi sebagai pencitraan, bersembunyi di balik ketegasan. Hanya orang gila yang mau memukuli dirinya sendiri.

    Dan hanya orang-orang goblok dan bodoh pula yang mau mencoba-coba membangkitkan PKI di Indonesia. Ingat bahwa label PKI itu, sekalipun sudah dicabut, sangat mengerikan. Lawan mereka bukan hanya pemerintah, melainkan juga tetangga, sahabat, teman, bahkan keluarga mereka sendiri. Kalau Anda masih berani, yah Anda sedang menentukan kehancuran dan menggali kuburan Anda sendiri.

    Berdamai dengan masa lalu

    Terakhir. Sejauh kita masih dihantui sejarah kelam masa lalu, kekejaman PKI, selama itu pula kita tidak akan hidup tenteram apalagi damai dan maju. Jangankan sejarah kelam, sejarah indah sekalipun tidak baik jika masih membelenggu. Kita tidak harus melupakan sejarah kelam itu, pun tidak harus menyangkalnya, karena memang itu tidak mungkin, melainkan kita harus berdamai dengannya. Berdamai dengan masa lalu bukan berarti mengamininya, mengiyakan dan mengikutinya atau mungkin mengulanginya, melainkan mengambil nilai-nilai positifnya sebagai modal kita meniti masa depan. Jadikanlah sejarah menjadi pelajaran berharga untuk menciptakan sejarah yang lebih baik.

    Salam dari rakyat jelata, bukan antek dan pro-PKI


    Penulis    :        Mora Sifudan       Sumber   :   Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Isu PKI: Isu Busuk Buatan para Penghianat Bangsa Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top