728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 05 Juni 2017

    Harapan Itu (Masih) Bernama Jokowi

    Masih terkenang dalam ingatan, foto Pakde di cover majalah prestisius Time pada tahun 2014 ketika Pakde terpilih menjadi Presiden. Foto Pakde didampingi dengan kalimat “A New Hope” yang menggambarkan bahwa beliau adalah harapan baru bagi Indonesia.[1] Jika direfleksikan ke masa lalu (nostalgia sedikit), kemenangan Pakde merupakan sebuah milestone bagi sejarah Indonesia, dimana seorang warga sipil, wirausahawan yang ulet dapat menapaki perjalanan karir di sektor publik hingga terpilih menjadi pemimpin tertinggi di negeri ini.

    Kemenangan Pakde memberikan contoh empiris bahwa masyarakat sipil memiliki kesempatan untuk mengabdikan diri, melayani publik, mengikuti pemilu dan menjadi Presiden di Indonesia. Terpilihnya Pakde memberikan harapan baru dan angin segar bentuk kepemimpinan yang berbeda dibandingkan dengan Presiden-presiden sebelumnya.

    Pakde muncul menawarkan kerja keras, kesederhanaan (kesederhanaan yang membuat orang jatuh hati, pribadinya yang membumi dan tidak neko-neko) dan integritas. Hal-hal ini memberikan pemahaman baru tentang konsep kepemimpinan bagi Indonesia. Sebuah kepemimpinan dimana sang pemimpin benar-benar hadir di tengah-tengah masyarakat. Pakde menekankan pada pentingnya kerja keras, tidak hanya sekedar retorika dan janji semu yang manis didengar melainkan pekerjaan-pekerjaan dengan standar terukur dan dapat dinilai pencapaiannya.

    Program-program yang dijanjikan oleh Pakde dalam Nawa Cita, perlahan-lahan namun pasti, mulai dirasakan oleh segenap rakyat Indonesia dalam kurun waktu hampir tiga tahun Pakde memegang kepemimpinan.[2] Upaya Pakde terlihat dalam mengubah ekonomi berbasis konsumsi menjadi ekonomi berbasis produksi, kebijakan-kebijakan sosial ekonomi seperti Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar, reformasi sektor migas untuk independensi energi (menjadikan mandat Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945, “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”[3] Bukan hanya pasal namun kenyataan yang dapat dicapai), swasembada pangan, pembangunan yang merata dan tidak Jawa-sentris, contohnya di pembangunan jalan Trans Papua, serta masih banyak upaya-upaya lainnya.[4]

    Pakde rutin mengunjungi wilayah-wilayah di Indonesia yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan, hal ini membuktikan bahwa Pakde ingin agar negara benar-benar hadir dan dapat dirasakan kehadirannya di seluruh wilayah Indonesia. Pakde berani mengambil langkah untuk standardisasi harga BBM di seluruh wilayah Indonesia, hal ini sangat membantu wilayah-wilayah yang sebelumnya memiliki kesenjangan harga BBM yang tinggi.

    Program-program pembangunan infrastruktur sangat diperlukan karena dengan infrastruktur yang baik dan memadai, kinerja dan produktivitas dapat ditingkatkan. Dengan banyaknya sarana dan prasarana transportasi, proses distribusi barang dan jasa dapat dimaksimalkan, produksi dapat ditingkatkan dan perlahan pemerataan pembangunan itu terjadi. Pakde adalah sosok pemimpin yang bisa melihat masalah langsung ke sumber masalahnya dan tidak lari dari permasalahan itu sendiri, dibantu dengan para Menterinya yang memiliki kualifikasi dalam menjalankan tugasnya masing-masing seperti Bu Sri Mulyani dan Bu Susi Pudjiastuti, Pakde optimis dapat benar-benar membawa Indonesia ke masa depan.

    Dengan program-program jaminan sosial seperti jaminan kesehatan dan jaminan pendidikan, Pakde menjadikan lirik lagu Indonesia Raya “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” sedikit demi sedikit namun pasti menjadi kenyataan. Generasi muda Indonesia yang secara kuantitas menjanjikan, mendapatkan akses terhadap perlindungan pendidikan dan kesehatan untuk membantu mereka mengakses pendidikan yang berkualitas, adil dan merata sebagai jalan untuk mewujudkan cita-cita.

    Dengan program jaminan kesehatan dan pendidikan, Generasi Indonesia Emas dapat diwujudkan, selangkah demi selangkah. Jika anak-anak sehat, gizinya tercukupi dan fokus dalam mengenyam pendidikan, niscaya mereka bisa menjadi apapun yang mereka mau. Untuk dapat keluar dari cycle of poverty, dibutuhkan sebuah jalan untuk mobilitas sosial yaitu pendidikan dan kesehatan.

    Dengan program-program jaminan kesehatan dan pendidikan, generasi muda Indonesia bisa bangga menjawab pertanyaan “mau jadi apa, dik, kalau besar nanti?” dengan jawaban-jawaban yang optimis dan percaya diri bahwa suatu hari nanti mereka akan berkesempatan untuk menjadi dokter yang menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa orang, astronot pertama dari Indonesia yang terbang ke luar angkasa, wirausahawan yang sukses membuka lapangan kerja bagi banyak orang atau bahkan, Pakde memberikan contoh bahwa siapapun berkesempatan untuk menjadi Presiden di negara ini.

    Program jaminan kesehatan dan pendidikan ini dijaga pula dengan fokus dan perhatian Pakde yang besar dalam pemberantasan korupsi. Selama masa kepemimpinannya, Pakde memberikan dukungan penuh kepada KPK untuk dapat menjalankan fungsinya dengan maksimal. Pakde menekankan pentingnya pengawasan, penindakan dan pencegahan tindak pidana korupsi. Selain itu, Pakde juga mengajarkan pentingnya pendidikan integritas sejak dini sebagai upaya untuk membentuk moral masyarakat yang anti korupsi.

    Dari seluruh tindakan nyata yang dilakukan oleh Pak De, dapat dilihat bahwa Pakde mengarahkan Indonesia untuk bertransformasi dari negara berkembang menjadi negara maju, dari negara yang konsumtif menjadi negara yang produktif, dari negara yang mengimpor menjadi negara yang mengekspor. Hal ini yang (masih) menjadikan Pakde berbeda dari kepemimpinan presiden-presiden sebelumnya, orientasinya untuk mengubah jalan suatu bangsa dengan mendayagunakan potensi bangsa yang besar semaksimal mungkin. Indonesia merupakan negara dengan wilayah terluas dan penduduk terbesar di ASEAN, namun secara ranking GDP, Indonesia masih kalah dibandingkan dengan Singapura.[5]

    Prestasi Pakde diakui secara internasional, dapat dilihat dari analisis oleh Bloomberg yang menilai kinerja para pemimpin di Asia pada tahun 2016 dan Pakde dinilai positif mampu menguatkan rupiah, meningkatkan GDP Indonesia dan mendapatkan approval rating yang tinggi dari konstituennya.[6] Di kala perekonomian negara-negara Asia lainnya pada tahun 2016 mengalami penurunan, Pakde berhasil menguatkan perekonomian Indonesia, menjaga agar rupiah bisa tetap stabil dan hal-hal tersebut berkorelasi dengan tingginya approval rating masyarakat atas kinerja beliau.[7]

    Sudah lama rakyat Indonesia mengharapkan munculnya seorang pemimpin yang tidak hanya memberikan janji namun memberikan aksi yang dapat diukur secara nyata melalui bukti. Semua yang dilakukan oleh Pakde dapat dilihat secara nyata dan dapat dirasakan dengan hati. Pakde dan Nawa Citanya berupaya untuk menjadi pemimpin yang diharap-harapkan oleh rakyat Indonesia. Namun Pakde tidak bisa sendiri dalam mewujudkan Nawa Cita, beliau membutuhkan bantuan, kepercayaan, komitmen dan dukungan dari rakyatnya.

    Dengan membantu Pakde mewujudkan janji-janji politiknya, segenap rakyat Indonesia juga membantu dirinya sendiri untuk bertransformasi menjadi individu-individu yang bermoral, berkualitas dan berdaya saing internasional. Oleh karenanya, Pakde Jokowi, sejak tahun 2014 hingga sekarang (masih) merupakan harapan baru bagi Indonesia.

    #JokowiUntukIndonesia



    Penulis :   R.Juwita    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Harapan Itu (Masih) Bernama Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top