728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 03 Juni 2017

    FPI Giat Melakukan Persekusi. Benarkah Ini Reaksi Dari Gebuk Jokowi?

    Kemaren buka bersama dengan teman yang kerja di Kementerian Dalam Negeri. Ngobrol punya ngobrol akhirnya kita sampai pada isu tentang persekusi yang sedang marak dilakukan anggota Front Pembela Islam atau FPI.

    Kita tahu , makin kesini makin brutal saja kelakuan FPI ini. Kepolisian menyebarkan berita untuk melaporkan setiap kali kita menemukan postingan yang memiliki unsur kebencian atau provokasi. Namun seperti yang dilansir oleh detik.com FPI tidak melakukan pelaporan itu, mereka malah memilih untuk melakukan persekusi. Ketua Bantuan Hukum FPI mengatakan,”Kan tahu sendiri, kalau Ahok melapor langsung diproses, Kalau kita yang melapor harus berjuang dulu baru diproses. Kalau mereka fair dan mereka profesional terkait masalah, ya kita sepakat sekali kita akan melakukan (pelaporan),” ungkap Sugito saat berbincang, Jumat (2/6/2017). Menurut dia, laporan FPI sering diabaikan polisi.

    Saya jadi bertanya, memang Ahok pernah melaporkan apa ke kantor polisi? Sejauh yang saya tahu Ahok pribadi tidak pernah melakukan lapor melapor apapun ke pihak kepolisian. Bahkan untuk kasus kabel yang ditemukan di dalam gorong-gorong didepan Istana saja, Ahok minta anak buahnya yang melapor ke polisi. Selama persidangan, yang melaporkan Saksi-Saksi error yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum, itu Kuasa hukum Ahok yang melapor. Jadi as far as I know... Ahok pribadi tidak pernah melaporkan apa-apa ke polisi. Lalu yang dibicarakan Sugito ini apa?

    Ini awal muasal kenapa aksi persekusi mulai ramai terjadi. Saya mengakui, kalau kelompok FPI ini, entah kompak entah menjadi kerbau yang disusuk hidungnya. Kebanyakan dari mereka tidak pernah berpikir apakah seruan itu benar atau salah, legal atau ilegal, melanggar atau tidak melanggar aturan. Sepertinya begitu ada ajakan yang disebarkan lewat media sosial, serta merta mereka lakukan. Sampai-sampai ajakan dari anak-anak seperti Lesmana pun mereka ikuti.

    Teman saya berseloroh, FPI ini juga sepertinya menangkap “dengan baik” perintah Presiden Jokowi untuk menggebuk dan menendang mereka yang disinyalir radikal dan intoleran. Namun radikal dan intoleran disini tentu saja menurut pemahaman mereka sendiri yang kita tahu selalu bertolak belakang dengan pemahaman kita yang waras. Tapi kalau kita telaah lagi, ada benarnya juga selorohan teman saya tadi karena kasus persekusi yang di Solok ataupun di Jakarta terjadi setelah seruan Presiden Jokowi untuk menggebuk dan menendang kaum radikal dan intoleran.

    Sugito lalu menyinggung soal kasus yang menimpa Rizieq Syihab dan Firza Husein. Hanya Rizieq dan Firza yang dicari polisi, pihak yang mereka laporkan atau yang memviralkan konten pornografi sama sekali tak diproses polisi, “Kalau yang terkait dengan penghinaan ulama, yang sekarang ini, yang terakhir ini lah, jarang lah, jarang diproses. Jadi kita melakukan ya melaporkan saja. Kita kan melaporkan juga yang memviralkan itu siapa, nggak dicari, malah yang dicari Habib Rizieq sama Firza terus,” ujar Sugito.

    Sugito ini goblok apa bodoh ya? saya yakin dia membandingkan 3 kasus sekaligus, Kasus Ahok dan Buni Yani sebagai mencetus huru hara, Kasus Ariel dimana penyebar juga dipenjara dan kasus mesum Rizieq Shihab dimana polisi tidak memproses si penyebar. Sementara kita tahu bahwa adanya sex chat antara Rizieq Shihab dan Firza Husein itu datang dari seseorang yang mengaku Annonymous. Lalu FPI menuntut polisi untuk mengejar seorang Annonymous. Apa mungkin? Kenapa tidak pihak FPI yang membongkar identitas si Annonymous? Setelah ketemu baru laporkan ke polisi dengan detail data orang dibalik topeng annonymous ini. Gampang kan? Kalau pihak FPI memang benar-benar ingin kasus ini diusut tuntas. Tapi saya merasa, pihak FPI pun ragu karena hasilnya akan seperti buah simalakama. Anyway….

    Kembali ke masalah persekusi, rupanya mereka juga melakukan “gebuk dan tendang” terhadap siapapun yang menghina ulama mereka. Siapa lagi kalau bukan Ulama yang sedang terjerat kasus cabul. Mungkin untuk mereka aksi yang dilakukan anggotanya bukanlah sebuah aksi persekusi. Dan lucunya, setelah terjadi penangkapan, dengan enteng pihak FPI mengatakan bahwa orang-orang itu bukanlah anggota FPI. Kalau saya yang jadi “mereka”, saya akan berpikir lagi, semua pembelaan yang saya lakukan terhadap ulama saya, kemudian keanggotaan saya tidak diakui ketika saya ditangkap polisi, saya akan merasa kecewa dan serta-merta akan menghentikan semua jenis pembelaan yang selama ini FPI dapatkan dari saya sebagai pendukungnya.

    Sekilas ini seperti sebuah kebodohan. Tapi jangan salah, ini adalah kepandaian yang mereka perlihatkan dengan pura-pura bodoh. Setelah itu jubir FPI, Slamet Ma’arif bilang bahwa kehadiran FPI dilokasi adalah untuk memastikan bahwa tidak terjadi aksi main hakim sendiri, “Itu anak menghina ulama terutama Habib Rizieq lewat postingan dan menantang umat Islam, masyarakat tidak terima cari tuh anak untuk dinasihati dan janji untuk tidak mengulangi, anak FPI hadir untuk memastikan tidak ada main hakim sendiri,” kata Slamet melalui pesan singkat.

    Mau jadi pahlawan kesiangan. Tetap saja akhirnya Banser NU and Ansor yang melindungi korban persekusi.

    Benar-benar hebat para pentolan FPI ini bermain kata. Dulu mungkin masih banyak yang percaya dalih mereka. Tapi berbagai kejadian dengan modus operandi yang sama, akhirnya kita mengerti juga bahwa semua ini hanya permainan kata dan akal-akal mereka. Anehnya pendukung FPI kok masih tidak sadar ya? Apakah mereka benar-benar bodoh atau mereka juga paham apa yang didokrinkan?

    Bagaimanapun juga, seruan Presiden Jokowi untuk menggebuk dan menendang kaum radikal dan intoleran adalah seruan yang legal untuk kepolisian. Jika masyarakat menemukan ada kejadian yang dimaksudkan Bapak Presiden, masyarakat dilarang bertindak sendiri tapi harus melaporkan dan polisi yang bertindak.

    In any case, FPI hanyanya sebuah ORMAS, tidak lebih dan mungkin kurang. Ketika mereka bertindak diluar aturan negara, jelas mereka akan berurusan dengan aparat negara. Termasuk Rizieq Shihab. Gelar Ulama, gelar Imam Besar bahkan gelar Habib yang disandangnya, tidak memberikan hak istimewa apapun kepadanya untuk bertindak seenak udelnya dia.

    Saya ingatkan lagi, hanya Presiden dan Wakil Presiden yang memiliki status Warga Negara Istimewa yang tidak bisa diseret ke sidang pengadilan. Dan ini ada Undang-Undang nya.

    Penulis :   Erika Ebener   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: FPI Giat Melakukan Persekusi. Benarkah Ini Reaksi Dari Gebuk Jokowi? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top