728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 03 Juni 2017

    Fenomena Ancaman Permintaan Maaf dan Pembungkaman Kebebasan Berpendapat

    Kebebasan berpendapat merupakan asas yang penting dari tonggak demokrasi ini, apalagi sudah tercantum dalam pasal 28 UUD 45. Indonesia sudah melewati masa suram soal pembatasan kebebasan berpendapat, hak masyarakat mengemukakan pendapatnya tanpa paksaan, ancaman atau intimidasi lainnya sudah mulai berjalan hampir baik di negri ini, walau terkadang menemui berbagai hambatan. Namun beberapa aksi yang dinilai buruk kembali hadir untuk menghantui kebebasan berpendapat tersebut. Misalnya saja ketika ada acara pameran seni di Yogyakarta yang dibubarkan oleh ormas tertentu, atau pembubaran diskusi feminisme dan liberalisme yang diidentikan dengan komunisme padahal beda jauh.

    Dan yang lagi fenomenal saat ini ialah ketika mengemukakan pendapat berbeda atau kontra baik dalam bentuk tulisan kritikan atau cuma pendapat biasa yang dinilai menistakan hal tertentu. Parahnya lagi ketika mereka menuliskan itu ada ancaman baik dari dunia maya ataupun nyata, salah satunya adalah rumah mereka yang didatangi oleh ormas untuk menandatangani surat permintaan maaf bermaterai dengan intimidasi agar tak melakukan hal serupa.

    Dengan adanya hal ini semakin menunjukkan bahwa, adanya kemunduran dalam menyikapi kebebasan berpendapat. Mereka yang berbeda pendapat tidak ditanggapi dengan pendapat pula namun dengan ancaman fisik dan nyata ataupun mental seperti hinaan, caci maki, tuduhan tak berdasar dan sebagainya.

    Beberapa kasus misalnya yang dialami oleh Afi yang mendapat kecaman atau ancaman melalui media sosialnya karena tulisannya yang berani dan frontal dalam mengkritik intoleransi, atau postingan berupa pendapat terhadap ulama yang diduga tidak memenuhi panggilan polisi bahkan dengan kalimat yang tidak kasar dan provokatif sekalipun.


    Hal seperti diatas tentu sering kita temui di dalam sosial media. Orang seperti Ade Armando, Sumanto Al Qurtuby atau Denny Siregar sering kali mendapatkan komentar yang kontra bahkan dengan nada yang kasar, penuh cacian dan sarat akan dendam. Bahkan dengan tulisan yang tidak provokatif saja hanya karena mengkritik dan berbeda pandangan diserbu dengan cacian dan umpatan yang menjijikan.

    Atau jangan – jangan mereka tak bisa bedakan mana itu provokasi mana itu persuasif, semua yang dianggap berbeda dan berlawan dengan mereka dan berbentuk kritikan tajam akan selalu dihantam oleh mereka yang tidak bisa bersikap dewasa itu dengan hinaan dan cacian saja. Bahkan yang parah mungkin sedikit koersif atau ancaman dan intimidasi dalam bentuk komentar atau pesan/message.

    Misalnya seperti yang dialami oleh dokter Fiera dimana setelah melakukan permintaan maaf kepada sekelompok orang, ia merasa malah tertekan karena intimidasi secara mental melalui sosial media karena postingan terkait permintaan maafnya yang disebar oleh oknum tertntu ditambahi dengan kalimat provokatif yang mengidentikan ia sebagai sosok yang kurang baik. Lalu ada Indrie Soraya yang juga rumahnya didatangi oleh sekelompok orang dalam waktu lama sehingga membuatnya harus untuk memanggil polisi agar sekelompok orang itu tidak lagi meresahkan keluarganya dan masyarakat sekitar.

    Baik dari keduanya sebenarnya tulisan yang mereka posting masih tahap wajar dalam batasan Free Speech bukan Hate Speech karena tidak berunsur ujaran kebencian, provkatif dan diskriminatif terkait suku, ras, agama dan sejenisnya. Tentu sangat sulit untuk menilai sebuah tulisan itu hate speech atau nggak secara obyektif melalui investigasi pihak berwenang.

    Namun yang jelas hate speech itu adalah ujaran kebencian yang didasari ras, etnis, agama dan lain – lain yang berkaitan dengan latar belakang atau identitas orang. Kalimat ujarannya sendiri berunsur provokatif dan koersif, bahasa kasar dan intimidatif serta penuh ancaman. Contohnya seperti “penggal umat agama x,”, “ganyang etnis y,” dan kalimat kasar provokatif berunsur ancaman lainnya yang didasari kebencian atas identitas manusia seperti suku, ras dan lain sejenisnya.

    Namun sayangnya sebagian orang ada yang mudah emosi dan terprovokasi ketika melihat tulisan yang mungkin menusuk hatinya walau tulisan itu tidak kasar. Tulisan itu mungkin berlawanan pandangan dengannya, namun jelas ketika ada sebuah tulisan karena berbeda pandangan walau menohok tidak bisa langsung dijudge hate speech atau ujaran kebencian. Atau mungkin mereka juga sulit bedakan kritik tajam yang berlawanan pandangan dengan ujaran kebencian hanya karena tulisannya menyakiti hati mereka.

    Dalam hal ini adanya tekanan, intimidasi serta ancaman dari sekelompok orang yang ngakunya bernita untuk menyuruh orang yang diduga menista atau melakukan ujaran kebencian menurut mereka untuk minta maaf jika tidak ingin dibawa ke ranah hukum atau semakin ditekan. Ini mengingatkan pada beberapa negara yang mengatur kebebasan berpendapat dengan tangan besi seperti Cina, Rusia, Korea Utara dan Turki dimana orang, wartawan, aktifis atau siapapun itu yang mengkritik hal buruk yang ada di negara mereka akan segera diringkus karena dianggap mengancam.

    Padahal hal seperti inilah yang akan mematikan nalar dan sikap kritis dalam menyikapi suatu hal. Mereka akan dibiasakan berpikir dengan satu sudut pandang sesuai pandangan mayoritas atau pemerintah yang ada. Ketika pola pikir seperti ini terbiasa menemani sehari – hari, maka kita akan sulit untuk menyikapi informasi atau kritik yang berasal dari pandangan berbeda atau narasumber berbeda.

    Ini sudah terjadi di negri ini dimana sebagian orang memilih untuk tidak berpikir kritis namun mengedepankan emosi semata yang ada hanya kemunduran dalam berpikir yang menjadi – jadi, jika parah bahkan mudah terhasut oleh sebuah pesan tulisan yang provokatif dan penuh ujaran kebencian bahkan sampai terjadi kerusakan seperti yang terjadi di Tanjung Balai tahun lalu.

    Mereka yang terbiasa dengan pemikiran satu sudut pandang dan anti kritik ketika menerima sebuah pesan berita, mereka lebih memilih berita dan media sesuai dengan pandangan atau pemahaman mereka atau condong pemikirannya seperti mereka, bahkan tak peduli itu hoax atau provokatif selama membuat mereka nyaman, maka akan ditelan mentah – mentah.

    Sedangkan media atau berita yang berlawanan pemahaman akan selalu tidak dipercaya, di cap buruk, di caci dan diberi perlakuan buruk lainnya karena seolah menghina dan menyudutkan gagasan, pemahaman, agama, partai politik yang sesuai dengan otak dan hati mereka.
    Terkait dengan salah satu persekusi kepada anak berumur lima belas tahun, tentu juga sangat disayangkan kenapa masih ada sekelompok orang yang bermain hakim sendiri. Walau emang mereka marah karena apa yang dilakukan oleh anak itu kelewatan, tentu jika kedua belah pihak bisa berdialog dengan baik dan santun agar tercipta solusi akan lebih baik ketimbang melakukan dialog yang ancaman, intimidasi dan kekerasan (menampar dan mentoyor karena kesal) yang membuat anak itu mungkin saja kena tekanan psikologis yang sangat buruk dan mungkin hanya menambah masalah baru. Dan pengakuan permintaan maaf tanpa paksaan yang disuruh oleh kelompok tersebut justru semakin menguatkan kalau permintaan maaf itu juga penuh tekanan, intimidasi dan ancaman apalagi disekililingnya banyak orang dewasa yang geram dengan anak itu.

    Seperti yang saya tulis sebelumnya, permasalahan yang masih ada di negri ini adalah bagaimana sebagian orang bereaksi terhadap sebuah masalah apalah akan menyikapi secara dewasa dan bijak, dengan cara – cara yang buruk yang mungkin malah menambah masalah baru. Mudah – mudahan sebagian orang bisa belajar terkait kesalahan yang dilakukannya dan mencoba menjadi lebih baik lagi agar bisa berguna bagi bangsa dan negara dalam membangun kehidupan masyarakat yang santun dan damai.

    Penulis :   Dy Pradana   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Fenomena Ancaman Permintaan Maaf dan Pembungkaman Kebebasan Berpendapat Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top