728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 08 Juni 2017

    Duet Jokowi-Ahok, Mampukah Menohok 2019?

    Duet Jokowi-Ahok pernah menggebrak Jakarta pada Pilkada DKI 2012. Kerja nyata mereka segera mengubah wajah Ibu Kota Republik Indonesia, Jakarta. Predikat kumuh perlahan namun pasti menjadi tertata dan rapi.

    Tak kalah hebat adalah birokrasi dan pelayanan publik. Bila semula mengurus kartu-kartu kependudukan sulit dan rumit kalau tanpa uang pelicin, berkat kebijakan Jokowi-Ahok kemudian mendapatkan kelancaran. Menata birokrasi ternyata menjadi keahlian seorang Ahok.

    Para aparatur sipil negara yang tak becus kerja pun banyak yang dipecat. Birokrasi yang bersih dan melayani benar-benar digenjot Basuki. Kegalakan Basuki Tjahaja Purnama benar-benar menyemangati Jokowi untuk mengubah Jakarta menjadi kota yang tidak salah arah.

    Berkat kinerja duet Jokowi-Ahok di Jakarta yang memberi sentuhan perubahan, kala itu mampu mendongkrak popularitas dan elektabilitas Prabowo Subianto, Ketua Umum Gerindra. Sebagaimana diketahui, Gerindra adalah salah satu partai pengusung Jokowi-Ahok, bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

    Sayang, impian Prabowo menjadi RI 1 pada 2014 kandas karena Jokowi ikut ngegas pada perhelatan Pilihan Presiden tahun itu. Jadilah Jokowi-JK berhasil mengasapi Prabowo-Hatta hingga garis finish dan menjadi juara. Hasil yang membuat Prabowo-Hatta harus rela menunda impiannya karena kalah uliran gas dengan Jokowi-JK.

    Ketika Jokowi jadi Presiden, praktis Basuki Tjahaja Purnama menjadi Gubernur DKI. Dan, ketika jadi Gubernur, Ahok ternyata makin bercahaya bagaikan terang purnama pada malam hari buta. Gubernur tandingan yang dideklarasikan oleh ormas titik-titik pun tak mampu menghalangi kecemerlangan Tjahaja Purnama.

    Dengan ditemani Djarot Saeful Hidayat, kota Jakarta terus berbenah hingga angka kepuasan warga mencapai 70% lebih. Tidak heran karena keseriusan Ahok-Djarot dalam melayani warga memang luar biasa. Tanpa sungkan, Ahok sebagai Gubernur menerima aduan warga tiap hari. Prinsip melayani warga dengan hati bukanlah omong kosong. Melayani warga dengan hati adalah jiwa Basuki.

    Pasukan warna-warni (kuning, oranye, hitam) dibentuk untuk memastikan warga Jakarta menerima pelayanan dan hasil kerja terbaik. Sungai yang kotor dibersihkan. Selokan dan got dipastikan mengalirkan air dan bukan sebagai tempat sampah. Jadilah titik genangan air pun berkurang banyak di wilayah Jakarta.

    Ketika kota-kota lain di luar Jakarta bergulat dengan banjir, Jakarta tampil sebagai kota yang tidak terlalu disukai genangan air. Perubahan penanggulangan banjir jelas nyata. 600 kata rasanya masih kurang untuk melukiskan betapa gigihnya Ahok-Djarot mengemban amanat untuk memastikan keadilan dan kesejahteraan bagi warga Jakarta.

    Prestasi yang mencengangkan tentu saja. Sayang, angka kepuasan warga 70% malah difentung pakai kapak Naga Geni 212 yang berhasil memenangkan Anies-Sandi.

    Kemenangan yang membuat Sandiaga Uno bersemangat mengubah Kalijodo menjadi seperti Las Vegas. Kita tahu, Las Vegas jelas bukan kota Islami tetapi dirujuk oleh Wakil Gubernur Terpilih yang begitu Islami ini.

    Walau Ahok-Djarot kalah bukan berarti kehilangan masa depan cerah. Keceriaan dan hati berbunga malah menghinggapi Balai Kota Jakarta. Tanpa terduga-duga, halaman Balai Kota dan sekitarnya berubah menjadi samudera raya bunga tanda cinta dan ucapan penuh simpati pada kinerja Ahok-Djarot. Kemenangan manis Anies pun menjadi kehilangan gairah.

    Tak kalah mengharukan adalah ketika Ahok diputus bersalah atas tuduhan penodaan agama. Lilin namaskara pun menyala di mana-mana sebagai tanda bela rasa kepada Tjahaja Purnama yang dipenjara. Api kebangkitan nasional seolah dipantik lagi. Mayoritas hening pun disadarkan. Tidak boleh kalau hanya berdiam diri. Tak rela bila Ibu Pertiwi yang memangku Pancasila dihina-hina oleh ormas radikal bebas tanpa anti oksidan.

    Semua aksi simpatik itu ternyata sampai di telinga Ahok. Dari penjara pun dia menuliskan keyakinan imannya. “Gusti ora sare!” Ternyata, pada bulan Ramadhan ini Tjahaja Purnama menampakkan sinarnya. Auditor utama BPK yang begitu bangga dengan kasus Sumber Waras, tidak ketinggalan juga si renta Amien Rais, akhirnya dibuat mengerti bahwa Gusti benar-benar ora sare.

    Namun, bangsa ini rupanya tengah berada dalam perjalanan yang unik. Ketika ada putera bangsa yang jujur, pekerja keras, tidak korupsi, punya hati untuk melayani warga, ternyata belum cukup.

    Propaganda politik dengan panduan angka-angka pun dihembuskan hingga Basuki pun masuk bui.
    Itulah mengapa judul artikel ini pun harus dikemas dalam tanya. “Duet Jokowi-Ahok, Mampukah Menohok 2019?”

    Mungkinkah harapan itu mewujud ketika Ahok keluar dari penjara dengan naik onta? Bagi saya, Jokowi-Ahok oke, Ahok-Prabowo pun oce. Bagaimana dengan pembaca?


    Penulis : Setiyadi RXZ    Sumber :  Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Duet Jokowi-Ahok, Mampukah Menohok 2019? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top