728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 18 Juni 2017

    Demokrasi Jalanan ala Jokowi

    Satu tulisan yang dibuat teman saya yang membahas soal Presiden Jokowi mengusik pikiran saya. Tepatnya 1 paragraf yang dinarasikannya menggelitik nalar saya. Analoginya tentang Presiden Jokowi sebagai Bapak Negara.

        Jawabannya, beliau menjadi seorang BAPAK BAGI NEGARA ini.
        Seorang bapak yang tidak rela anaknya jatuh miskin dan punya mental tempe.
        Seorang bapak yang membangun infrastruktur supaya bisa lebih berkembang dan mengejar ketertinggalan.
        Seorang bapak yang tidak rela anaknya dalam bahaya radikalisme.
        Seorang bapak yang tidak rela jatah ikan anaknya dimakan tetangga yang tidak bertanggungjawab.
        Seorang bapak yang mengelola uang keluarga Indonesia dan dikembalikan lagi untuk rakyatnya.
        Seorang bapak yang kurus mau-maunya keliling ke semua provinsi mengunjungi satu persatu anaknya yang kesulitan.
        Bahkan bapak ini rela berhutang supaya anaknya Indonesia bisa lebih mendapat kenikmatan.
        ~Apriadi Rizal Simangunsong

    Bahkan ada teman lain yang ikutan bertanya apa boleh mengubah sebutan panggilan Pakde menjadi Bapak/Ayah? Saya spontan menjawab, kenapa tidak? Bukankah Ibu Iriana pun dipanggil Ibu Negara. Jadi memang sudah selayaknya Jokowi adalah Bapak Negara Indonesia. Kita selama ini cenderung menyapa beliau dengan panggilan sayang Pakde. Kita memposisikan diri kita sendiri seperti keponakannya.

    Padahal beliau menyayangi semua warganya, selayaknya anak kandungnya sendiri, melebihi kasih sayang seorang paman kepada kemenakannya. Warga Indonesia sama disapa, didengar, dan diperhatikannya secara adil dan merata. Silakan ditelusuri artikel-artikel tentang pencapaian dan kinerja Jokowi di internet, jumlahnya mencapai ribuan. Tidak terhitung ungkapan dan apresiasi untuk Jokowi yang bertebaran di media sosial, dalam status facebook, dalam ratusan blog dan web pribadi, dan di semua aplikasi yang berfungsi memuat dan menyebarkan informasi selalu ada pujian untuknya. Termasuk di media-media mainstream.

    Kenapa bisa demikian? Saya termasuk orang yang beruntung yang hidup di era sekarang. Menjadi  saksi sejarah dan merasakan pemerintahan di bawah kepemimpinan Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, dan Jokowi. Meskipun saya masih kecil di saat rezim Orba berkuasa, tapi saya banyak mendengar dari cerita-cerita orang tua, dan saya cukup banyak membaca berita-berita yang menggambarkan situasi politik di masa itu.

    Dari 6 Presiden yang saya rasakan dan nikmati sendiri kepemimpinannya, sangat jelas terlihat bahwa Presiden Republik Indonesia ke-7 ini memang yang paling fenomenal. Beliau sangat dicintai rakyatnya, dan rasa cinta itu tidak bisa dibeli, diminta atau dipaksa. Jokowi telah menyentuh hati rakyatnya dengan ketulusannya melayani dan mengabdi untuk Indonesia. Rasa kagum, hormat, respek dan cinta (yang tertinggi diantara semuanya) tulus dari warga adalah sesuatu yang mahal, tidak ternilai, dan menjadi modal utama para politikus, negarawan, pemuka agama, budayawan, dan sebagainya.

    Apapun yang dikenakan di tubuhnya kerap menjadi trend-setter, dari jaket bomber hijau yang laris diborong, hingga payung biru, sandal jepit biru, jas dan sarung, dan yang terbaru sepatu kets bertali yang biasa digunakan untuk olahraga lari maraton. “Biar blusukannya makin kencang”, kata beliau sambil tersenyum khas.

    Gaya bicaranya yang kalem dan selalu tenang, sejuk dan tersenyum dalam menjawab pertanyaan wartawan dan jurnalis, dan statemen pernyataannya kerap menjadi viral. Celetukan dan guyonan khas Jokowi ini bila dikaji lebih mendalam selalu memiliki arti dan makna tersendiri. Berbagai ucapannya menjadi quote yang abadi dan menyebar di bumi pertiwi.

        Bangsa Indonesia butuh Revolusi Mental.
        Jokowi adalah Kita.
        Pemimpin adalah ketegasan tanpa ragu.
        Kerja, kerja, kerja.
        Pemimpin harusnya menderita, bukan menikmati.
        Saya Indonesia. Saya Pancasila.

    Jokowi terus kerja, kerja dan kerja tanpa lelah blusukan dan menyambangi sudut-sudut terpencil di Indonesia. Desa Tapaleo, Halmahera Tengah yang tidak pernah didatangi presiden selama 60 tahun (satu-satunya yang pernah berkunjung hanya Presiden Soekarno di tahun 1957), Kabupaten Yahukimo di Papua (seluruh warga Yahukimo menangis terharu dan berdatangan dari lembah-lembah dan gunung-gunung untuk melihat Pemimpinnya), Pulau Miangas di Sulawesi Utara (presiden pertama yang berkunjung), dan banyak lagi contoh-contoh dimana Jokowi hadir dan menyapa langsung warganya. Semua suku sama di mata Jokowi. Suku Anak Dalam di Jambi yang tidak lancar berbahasa Indonesia pun disapa dan didengarkan keluhannya.

    Setiap kunjungan resmi Jokowi ke luar negeri, pasti ia disambut dengan gembira oleh para WNI atau mantan WNI yang tinggal di sana. Tak jarang barisan pendukungnya sudah memadati bandara saat ia mendarat, dan sebagian bahkan sudah menanti di kedubes ataupun gedung yang menjadi lokasi acara yang akan dihadiri Jokowi. Seperti kunjungannya ke Belanda pada tanggal 22 April 2016, dijadwalkan tiba tengah malam tidak mengurangi antusiasme warganya, mereka berjejer di depan Grand Hotel Amrath Kurhaus, Den Haag, tempat Sang Pemimpin menginap.

    Itu adalah kunjungan yang pertama seorang Kepala Negara Republik Indonesia ke Belanda, sejak 16 tahun terakhir. Tepatnya, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berkunjung ke Belanda pada tahun 2000 silam. Pada bulan Oktober tahun 2000 sebenarnya SBY pernah akan berkunjung tapi dibatalkan pada detik-detik terakhir pesawat akan lepas landas, padahal semua wartawan sudah duduk manis dalam pesawat dan standby sambil menyeruput jus kacang hijau dan snack yang sudah dibagikan pramugari Garuda.  Kabarnya, Presiden SBY merasa tidak nyaman menghadapi aksi demo kelompok RMS (Republik Maluku Selatan) yang bermukim di Belanda. Jadwal kunjungan Presiden SBY bertepatan digelarnya persidangan kilat di Pengadilan Den Haag, mereka menuntut Presiden SBY ditahan saat berkunjung ke Belanda. Kelompok RMS menuduh SBY terlibat pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Maluku.

    Kembali ke kunjungan Jokowi di Belanda, pada tengah malam itu berjalan dengan sangat aman, tanpa insiden, bahkan menjadi ajang lepas kangen antara pemimpin dan rakyatnya. Seperti yang dilaporkan Tim Komunikasi Presiden (TKP) Ari Dwipayana, Mereka terdengar menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan membentangkan spanduk bertuliskan “Selamat Datang Bapak Presiden Jokowi,” tutur Ari. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan berulang kali. Terlebih lagi, saat Presiden Jokowi keluar dari kendaraan, dan langsung berkumandang teriakan “Jokowi, Jokowi, Jokowi.”

    Presiden Jokowi menjawab antusiasme itu dengan menghampiri kerumunan massa yang telah menantikan kedatangannya sejak siang. (Bayangkan mereka sabar menunggu sejak siang lho..) Mereka pun berebut bersalaman dan berusaha mengambil gambar bersama Presiden Jokowi dari dekat. “Presiden berjalan menyusuri kerumunan masyarakat sambil menyalami mereka satu per satu. Tidak sedikit yang meminta berfoto selfie dengan Presiden,” katanya. Usai bersalaman dengan Presiden, mereka pun mengecek hasil fotonya bersama Presiden Jokowi. “Mereka tertawa bahagia saat melihat hasil foto selfie dan kembali mengeluk-elukkan nama Presiden Jokowi saat melangkah memasuki hotel,” kata Ari. (sumber)

    Demikian juga kalau kita menelusuri berita soal kunjungan Jokowi ke negara-negara lain, dipastikan di manapun beliau mendarat disambut dengan meriah oleh warga Indonesia yang tinggal disana ataupun oleh masyarakat lokal yang kagum dan mengidolakannya. Pencitraan? Hahaha.. pikirkan saja secara logis apa mungkin mengumpulkan massa terus-menerus dan konsisten di seluruh pelosok dalam negeri dan luar negeri yang akan dikunjungi Jokowi? Antusiasme, tawa kegembiraan, dan airmata keharuan yang sering tertangkap kamera itu nyata, dan apa adanya.

    Gaya kepemimpinan Jokowi yang biasa dijuluki Demokrasi Jalanan sudah dilakukannya sejak 2005 ketika ia menjabat sebagai Wali Kota Solo. Kemampuan komunikasi politik Jokowi berbeda dengan kebanyakan gaya komunikasi politik pemimpin lain pada masa itu. Strategi blusukannya membuatnya dapat menyerap aspirasi masyarakat langsung dalam kondisi real-nya, ia mendatangi dan menemui rakyat, mendengar dan memberi solusi langsung atau segera. Pendekatan humanisnya dalam merelokasi pedagang kaki lima di Solo yang “memanusiakan manusia” dengan cara menjamu para pedagang untuk makan bersama sampai setidaknya 54 kali adalah bukti kesabaran dan penghayatannya akan nilai-nilai kemanusiaan. Juga kesederhanaan, kejujuran, dan kerja kerasnya sebagai pemimpin yang melayani warganya menjadi pembicaraan bahkan menjadi kajian di universitas dalam dan luar negeri.

    Media luar negeri The New York Times pun mengulas tentang “Demokrasi Jalanan” ala Jokowi ini, gayanya juga dianggap unik dibandingkan pemimpin lainnya karena tidak sungkan untuk bertanya langsung kepada warga dan mendekati mereka bila akan melancarkan suatu program. Jokowi menciptakan standar baru sebagai Pemimpin dan Presiden, sebuah tolok-ukur yang akan sulit diraih oleh penerusnya kelak. Karena hanya ada satu Joko Widodo di dunia, dan beliau adalah Presiden Republik Indonesia ke-7 yang sekarang menjadi Bapak Negara Kita.

    #StandForJokowi
    #JokowiUntukIndonesia




    Penulis    :       Retha Putri     Sumber   :   Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Demokrasi Jalanan ala Jokowi Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top