728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 11 Juni 2017

    Bulan Ramadhan Yang Tak Pernah Sepi Dari Fitnah Keji Yang Membuat Orang Terprovokasi Dan Saling Membenci

    Tidak terasa, puasa sudah memasuki hari ke 16, sebentar lagi  akan tiba hari kemenangan, dimana idul fitri akan segera tiba.

    Di bulan yang penuh dengan berkah ini, layaknya seorang muslim yang baik, beriman dan bertawakal seharusnya hari-hari kita sebagai umat muslim, harus di-isi penuh dengan kegiatan beribadah, dan mendekatkan diri ke sang pencipta Allah swt.

    Layaknya tadarus ( mengaji ), terawih, witir, tahajud, bersedekah, zakat fitrah, zakat mal, dan juga menahan hawa nafsu, serta terus berbuat kebaikan antar sesama. Karena dengan seperti itu, maka kita akan mendapatkan berkah yang luar biasa dari sang pencipta, sebagai hadiah nanti di hari akhir.

    Namun, ternyata kebaikan dari ajaran, dan juga makna bulan puasa seperti itu, nyata-nyatanya  tidak dilakukan oleh sebagian umat muslim di Indonesia.

    Mengapa hal seperti itu bisa terjadi di bulan suci ini? Masa politik Pilkada Jakarta sudah berlalu beberapa bulan lalu, event itu masa Pilpres sekalipun semua juga sudah berlalu lama sekali, hampir 3 tahun sudah masanya.

    Tapi mengapa, nuansa, suasana, atau euforia dari Pilkada atau bahkan Pilpres masih saja terjadi hingga saat ini? Ujaran kebencian, fitnah keji, tidak pernah selesai.

    Sepanjang sejarah Indonesia, kita baru saja mengenal istilah Hoax sejak tahun 2014 silam, dimana kala itu Pak  Joko Widodo sedang mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia mendapati sejumlah hoax, seperti tabloit obor rakyat.

    Tidak berhenti sampai disitu, Indonesia era 2014, juga dipopulerkan dengan sebuah media baru, yang bernama media sosial, media ini memiliki peran yang cukup penting, dan mampu membuat kepercayaan masyarakat terhadap media masa sangat menurun.

    Fitnah juga terus berlanjut, karena masa itu, melalui media sosial, banyak muncul meme, atau gambar, status, yang sangat menyimpang dari keadaan yang sebenarnya dilapangan. Media sosial tidak menceritakan fakta, dan orang-orang menyukai ketidakbenaran dari fakta tersebut.

    Orang cenderung percaya terhadap media sosial itu akibat dari, biasanya ada seseorang tokoh terkenal atau aktor politik ternama, yang biasanya mempopulerkan fitnah-fitnah. Kecendrungan membuat fitnah, dan membuat masyarakat percaya, perkembangannya cukup meningkat pesat sejak 3 tahun terakhir.

    Kalau dahulu, seseorang hanya percaya dengan kata atau ucapan dari postingan tokoh-tokoh tertentu, kini orang bisa saja percaya terhadap ucapan masyarakat biasa yang belum tentu dia terkenal. Alasan mereka percaya saat ini adalah karena mereka menyukai semua dari fitnah-fitnah yang ada, dan mereka cenderung malas, untuk melihat kebenaran dengan mencari tau, apakah hal tersebut benar atau tidak.

    Kasus ini, bukanlah pertama kali dalam sejarah Hoax Indonesia, namun ini juga termasuk yang terparah dari sekian banyaknya Hoax yang hanya seperti angin lewat saja.

    Mengapa hal ini bisa dikategorikan sebagai hoax yang terparah? Jawabnya adalah karena, di Bulan Ramadhan, yang harusnya kita selalu berkata yang sebenarnya, berbuat baik antar sesama, namun hal tersebut tidak dilakukan oleh sebagian masyarakat, termasuk orang ini.

    Dalam laman Facebooknya dari link berikut:

    https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=302418093537866&id=100013090320683

    Orang ini melakukan sebuah provokasi ujaran kebencian, hasutan yang memancing amarah dari masyarakat yang membacanya, dia menggiring opini, seolah-olah semua kejadian itu tertulis seperti apa yang ia gambarkan.

    Berikut perkataannya, dan lampiran bukti screenshot yang sudah di share sebanyak 5.714

    MASJID KAMI BUKAN SARANG TERORIS!
    Apa Pantas Seperti Ini??
    Di Rumah Allah (Masjid Raya Tasikmalaya) berkelakuan seperti ini, Di gereja kalian berani nga kayak gitu?
    #Ingat2019 Tinggalkan Partai Pembenci Islam.


    Hal di atas bukan perkara remeh, atau kecil semata, yang bisa dianggap sepele oleh sebagian kalangan. Perkara diatas adalahs ebuah masalah besar bagi bangsa, bagi rakyat Indonesia.

    Dari 5.714 status, artinya sudah ada 5.714 orang yang tersesat, dan termakan fitnah. Kalau 5.714 orang ini mempunyai sebuah keluarga, katakan ada 4 orang, seorang suami dengan 1 istri 2 anak, maka 5.714 x 4 = 22.856 orang yang sudah postif terikut dengan kebencian yang ada.

    Bagaimana kalau dihitung dengan keluarga besar? Termasuk kakek, nenek, paman, tante, hingga cucu? Akan seberapa banyak orang lagi yang akan terhasut oleh fitnah ini?

    Padahal ucapan tersebut tidaklah benar sama sekali. Apa yang dikatakan hanya memainkan sebuah foto, lalu dibumbui sastra sesuai ‘keingingan’ dari sang penulis, namun sastra yang ia tuliskan dalam postingannya jelas dengan tujuan untuk memecah belah kesatuan masyarakat.

    Hasil dari perkara ini adalah banyaknya kebencian yang muncul dari respon atas postingan tersebut, bisa dilihat dalam lampiran gambar dibawah ini:

     
    :
      

    Berapa banyak orang yang marah, memaki, jumlahnya tak terhitung, lihat ucapan kebun binatang diatas, semua beragam, intinya di bulan suci ini, mereka tidak berubah sama sekali, mereka kerap berkata kasar, mengumpat, dan melakukan fitnah.

    Ada apa dengan kalian wahai saudara sebangsa? Di bulan ini, mengapa kalian kerap senang melakukan fitnah-fitnah seperti itu?

    Seharusnya, mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang, dan apabila ilmu tersebut terus disebarkan, maka jaminannya bagi pengajar adalah amal jariah. Tapi bagaimana dengan mereka yang menyebar fitnah lalu kemudian fitnah tersebut semakin besar jangkauan audiencenya, berapa banyak dosa yang ditumpuk sepanjang sejarah sejak 3 tahun terakhir ini.

    Seseorang berkata:  Bulan puasa setan dibelenggu. Makanya laskar menggantikan perannya…

    Mengapa bisa kalian disebut pengganti setan? Seharusnya benar, bulan puasa setan dibelenggu, tapi mengapa sifat dan perbuatan kalian sangat menyerupai setan?

    Setan bertugas untuk menghasut, memprovokasi, membuat orang berbuat dosa agar semua ikut ke neraka. Perbuatan diatas tidak jauh berbeda dengan perbuatan setan. Tidak salah komentar diatas.

    Berhentilah membuat fitnah keji, saling berbuat kebaikanlah antar sesama, bukan saling hasut dan saling membenci. Sebentar lagi sudah idul fitri, rubahlah sikap yang tak manusiawi seperti ini.


    Penulis   :  BANI   Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Bulan Ramadhan Yang Tak Pernah Sepi Dari Fitnah Keji Yang Membuat Orang Terprovokasi Dan Saling Membenci Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top