728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 03 Juni 2017

    Bom Terminal Kampung Melayu dan Intimidasi FPI di Cipinang, Di Mana Sikap Anies,Sandi dan Harry Tanoe?

    Tidak dapat dipunkiri bahwa “Warna Kebhinekaan” Indonesia mulai serius mendapatkan ancaman dalam beberap tahun terakhir. Ancaman serius itu berasal dari banyak sisi, baik ekonomi, politik dan juga agama. Namun jika dibuat klasmen atau rangking seperti dalam sebuah liga sepakbola, nampaknya pemimpin klasmen dan runnerup-nya adalah politik dan agama. Dua kekuatan itu sangat berpengaruh terhadap ancaman retaknya tenunan kebhinekaan di negeri ini.

    Meskipin disinyalir menggunakan isu sara sebagai salah satu cara memenangkan pilkada DKI Jakarta 2017, namun pasangan Baswedan-Uno sesumbar atau berani berkoar untuk menjaga kebhinekaan paska keputusan KPUD DKI Jakarta memenangkan mereka dalam kompetisi pilkada DKI Jakarta ( LINK ). Nah, dari titik inilah penulis akan mencoba menelusuri jejek-jejak tindakan mereka berdua terkait isu-isu ancaman kebhinekaan. Selain mereka berdua, penulis juga akan memasukkan nama Hary Tanoe untuk direkam jejak tindakannya sebagai tokoh yang memiliki pengaruh terhadap kemenagan Baswedan-Uno.

    Pembaca seword yang baik hati dan tidak sombong serta suka menabung, mari kita memulai tamasya untuk menelusuri jejak-jejak Anies Baswedan-Sandiaga Uno untuk menepati janjinya menjaga kebhinekaan NKRI. Paska keputusan KPUD Jakarta yang memenangkan pasangan Baswedan-Uno, ada beberapa kejadian yang di dalamnya bisa dilihat sebagai ancaman rusaknya tenunan kebhinekaan yang terjadi di wilayah DKI Jakarta. Saya hanya akan melihat dua kejadian besar untuk dijadikan rujukan untuk melihat bagaimana sikap Baswedan, Uno dan Hary Tanoe terhadap peristiwa-peristiwa tersebut.

    Yang pertama adalah peristiwa bom di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Ini merupakan tragedi kemanusiaan yang merobek tenunan kabhinekaan nusantara. Di sana ada korban, ada ketakutan, ada trauma, ada nyawa melayang, ada yang terluka dan menderita. Menyikapi peristiwa tersebut, tidak ada sikap tegas dari ketiga tokoh yang saya sebutkan di atas. Jikapun ada yang bersikap, itu hanyalah sikap “biasa-biasa” yang bisa diungkapkan oleh semua orang. Seharusnya sebagai pemimpin terpilih dan orang yang berambisi menjadi RI1 (Harry Tanoe), berani bersikap tegas dan lantang terhadap pelaku dan juga dalang dari semua kejadian tersebut.

    Anies Baswedan  dan Sandiaga Uno hanya bersikap prihatin dengan keluarga korban. Mereka tidak berani dengan tegas,keras dan lantang, melalui media untuk berupaya bekerjasama dengan aparat mengusut tuntas siapa dalang pelaku atas semuanya. Jika mereka berani dan tegas mengutuk tindakan pelaku dan komplotannya, maka hal ini akan menjadi shock terapy bagi para perongrong kewibawaan nusantara dan Jakarta adalah pusat negara juga merupakan simbol negera.

    Yang kedua adalah sikap tiga tokoh diatas terkait arogansi FPI di wilayah Cipinang. Ramai diberitakan bagaimana arogansinya FPI melakukan tindakan perkusi terhadap remaja yang diduga melakukan penghinaan terhadap “ulama sangat besar” junjungan mereka Rizieq Shihab.

    Salah satu yang  diberitakan media itu adalah bagaiman kelakuan biadap anggota FPI terhadap seorang remaja yang mereka anggap menghina ulama mereka. Dan FPI seolah sebagai penghuni tunggal negeri ini sehingga dengan enteng melakukan tindakan sesuai nafsunya sendiri. Di sini mereka melakukan pelecehan terhadap aparat keamanan, khususnya kepolisian karena melampaui wewenang kepolisian dalam hal tangkap menangkap siapa saja yang diduga melakukan tindakan melawan hukum, meskipun remaja itu menurut penulis tidak melanggar hukum.

    Ketika berita media berhamburan seperti Laron ketiga hujan reda, Anies Baswedan, Sandiaga Uno dan Harry Tanoe tidak berani berkomentar. Semestinya Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang terpilih menjadi pemenang “turnamen pilkada” dan hanya tinggal menunggu waktu yang singkat untuk pelantikannya, bersikap tegas dank eras. Dan sikapnya itu bisa dirilis oleh media, baik media cetak maupun media TV, sehingga masyarakat (khususnya Jakarta) paham akan sikap calon pemimipin mereka terkait sikap criminal dan main hakim sendiri di wilayahnya. Namun tidak ada statement apapun dari mereka berdua. Penulis mencoba googling di internet, namun tidak ada berita itu. Lalu, jika tidak bersikap sama sekali, apakah bisa dipahami bahwa mereka berdua justru mendukung tindakan FPI tersebut?

    Hanya juragan MNC grup, si Harry Tanoe yang menyerukan semangat kebhinekaan memalui saluran TV miliknya. Namun tidak ada statement spesifik yang diluncurkan Harry Tanoe, dan sekali lagi, apa yang diucapkan Harry Tanoe itu ungkapan lumrah yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Menurut penulis itu hanyalah tindakan sok-sokan yang bertujuan untuk menipu masyarakat biar terlihat memiliki jiwa kebhinekaan yang kuat.

    Lalu apa artinya teriakan kebhinekaan mereka paska pesta kemenanganya dalam turnamen pilkada DKI Jakarta? Apakah itu semua hanya semua ungkapan klise untuk menipu masyarakat agar mereka dianggap orang-orang yang memiliki jiwa dan semangat kebhinekaan? Entahlah, namun penulis menduga bahwa ungkapan kebinekaan mereka hanyalah basa-basi dan tanpa jiwa.
    Jika mereka benar-benar memiliki jiwa dan semangat kebhinekaan yang kuat dan jujur, mereka pasti akan bersikap tegas dan berani menentang apa yang FPI lakukan di Cipinang serta pelaku dan perancang bom terminal Kampung Melayu. Dan sekali lagi, jika mereka hanya diam saja atau hanya mengungkapkan pernyataan yang biasa-biasa saja, boleh dong masyarakat memiliki dugaan miring terhadap mereka.

    Jangan-jangan mereka malah mendukung tindakan FPI di Cipinang dan juga bom terminal Kampung Melayu?Akh..embuhlah..silakan pembaca berkomentar dengan terbuka dan waras..

    Salam Bhineka Tunggal Ika



    Penulis : Dony setyawan    Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Bom Terminal Kampung Melayu dan Intimidasi FPI di Cipinang, Di Mana Sikap Anies,Sandi dan Harry Tanoe? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top