728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 15 Juni 2017

    Benarkah Ada Oknum Kepolisian Di Balik Kasus Novel Baswedan?

    Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan jurnalis TIME bernama Jonathan Emont di Singapura, Novel Baswedan yang tengah menjalani perawatan mengatakan bahwa saat ini KPK sedang menangani banyak sekali kasus korupsi. Wawancara Novel dengan Emont di tanggal 10 Juni 2017 ini adalah yang pertama kalinya Novel berbicara khusus dengan wartawan pasca insiden penyerangan dengan air keras usai salat Subuh di lingkungan rumahnya.

    Yang mengejutkan adalah dalam salah satu bagiannya, Novel menyebut soal keterlibatan seorang ‘penting’ di Kepolisian.

        “I’ve actually received information that a police general — a high level police official — was involved. At first I said the information was false. But now that it’s been two months and the case hasn’t been resolved, I said [to the person who made the allegation]the feeling is that the information is correct,”

        Source: http://time.com/4815928/indonesia-corruption-novel-baswedan-graft-kpk/?utm_campaign=time&utm_source=twitter.com&utm_medium=social&xid=time_socialflow_twitter

    Novel mendapatkan info mengenai keterlibatan salah satu pejabat di Kepolisian. Awalnya Ia ragu akan kebenaran informasi tersebut. Tapi setelah dua bulan dan masalahnya tak kunjung terungkap, Ia punya feeling kalau itu benar.

    Tunggu, jangan dulu langsung menuding kalau ada penyebutan petinggi maka itu artinya adalah Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian. Saya rasa tidak seperti itu.

    Dalam artikel yang sama, TIME juga menuliskan pernyataan Tito bahwa polisi sudah sangat bekerja keras untuk menyelesaikan kasus ini. Lima orang pernah ditangkap, masalahnya saat polisi mengecek alibi yang mereka buat alibi itu benar sehingga tidak bisa diproses lanjut. Bahkan Kepolisian menurunkan anggota Densus 88 untuk membantu menyelesaikan kasus ini.

    Saya cenderung setuju dengan pernyataan pengamat hukum Indonesia dari University of Sydney Law School, Simon Butt.

        “Really it could be anyone who feels threatened by one of the investigations [Novel] leads“

    Siapapun bisa menjadi otak di belakang kejadian Novel ini. Bisa jadi pejabat yang dimaksud bukanlah Tito melainkan polisi-polisi lain di bawah Tito yang mungkin diam-diam punya ‘proyekan’ dengan mereka yang masuk daftar KPK.Mengapa saya duga demikian? Perencana kejahatan ini sudah memikirkan secara matang bagaimana caranya agar penyelidikan polisi buntu. Ujung-ujungnya akan memunculkan tudingan Polri tidak serius menangani, ada keterlibatan negara, bahkan mungkin tudingan ini permainan rezim Jokowi.

    Selentingan bahwa salah satu Ketua Lembaga Tinggi Negara terlibat karena namanya disebut-sebut juga bisa jadi tidak benar sebab berbagai kasus korupsi yang ditangani KPK ini terlalu banyak nama terlibat. Dalam kondisi terancam siapapun bisa nekat dan berkonspirasi dengan orang lain bahkan yang biasanya berlawanan.

    Dalam perkembangannya kasus e-KTP misalnya melibatkan banyak sekali nama. Dari berbagai partai termasuk juga partai penguasa terdahulu. Banyak nama-nama penting yang disebut. baik yang saat ini masih berkuasa maupun tidak. Tentu itu menimbulkan suatu ketidaknyamanan. Belum lagi skandal KPK lainnya seperti kasus Alkes mantan Menkes yang akhirnya menyeret nama Amien Rais hingga KPK yang makin rajin menyokok pejabat di daerah maupun petinggi BUMN. Nama-nama yang dulu mencitrakan dirinya bersih, alim, dan duduk di berbagai struktur eksekutif, legislatif hingga yudikatif juga banyak yang kasusnya terungkap. Terlalu banyak pihak yang merasa terusik dengan sepak terjang KPK. Dan mereka berusaha melemahkan KPK apapun caranya.

    Presiden Jokowi sendiri sudah menyatakan bahwa Ia tak menginginkan ada pelemahan KPK.

        “Ya kalau saya tidak ingin KPK itu lemah. KPK harus kuat dan upaya pemberantasan korupsi tidak boleh kendor karena negara kita masih membutuhkan upaya-upaya yang luar biasa dalam pemberantasan korupsi. Jadi kita perlu KPK yang kuat, KPK yang independen, dan pemikiran tersebut harus menjadi sebuah landasan dalam rangka upaya kita bersama untuk pemberantasan korupsi. Dan pemikiran ini harus menjadi landasan kita bersama dalam semua langkah, dalam setiap pembuatan keputusan. Jangan ada pikiran-pikiran melemahkan KPK, tidak boleh”

        Sumber: https://news.detik.com/berita/d-3528815/soal-pansus-angket-kpk-jokowi-saya-tak-ingin-kpk-lemah

    Terus kenapa Jokowi tidak mencegah pansus hak angket?

    Karena itu adalah ranah kerja DPR. Seperti Presiden tak bisa ikut campur dalam urusan hukum, begitu juga dalam legislatif. Presiden tidak bisa mendikte DPR, DPR tidak bisa mendikte Presiden. Memang terasa tidak enak namun Presiden Jokowi hanya berusaha mengikuti aturan yang ada. Jika Presiden ikut campur dan kemudian DPR menerima, bukan tidak mungkin suatu hari ganti DPR yang meminta balas budi ke Presiden.

    Justru kitalah sebagai rakyat yang bisa melawan. Siapapun yang berupaya melemahkan KPK harus ‘ditandai’. Nanti jangan pilih lagi mereka baik sebagai anggota dewan atau jika ada yang hendak mencalonkan diri untuk suatu jabatan Kepala Daerah.

    Selama masih banyak yang benci Jokowi saya masih tenang dan percaya pada Pemerintahan ini. Lho kok bisa? Tidak tahukah Anda bahwa salah satu tipe pembenci Jokowi adalah PNS, pejabat, ataupun masyarakat yang merasa sumber rejekinya hilang setelah Jokowi jadi Presiden. Mereka tak bisa lagi menerima ceperan dari pungli, suap. Mau tak mau semua harus sesuai prosedur yang bisa jadi sedikit makan waktu, pengawasan ketat, dan metode cashless serta e-procurement juga dianggap sebagai momok. Belum lagi KPK siap mencaplok mereka sewaktu-waktu.

    Meski kita tidak bisa menutup mata bahwa yang namanya oknum nakal di mana-mana masih ada. Baik itu di Pemerintahan Jokowi, Kepolisian, dan bahkan mungkin KPK sekalipun. Kepalanya mungkin baik, ekor-ekornya yang seringkali diam-diam menjadi musuh dalam selimut. Oknum-oknum nakal ini yang akan selalu kepanasan jika geraknya diusik dan serentetan kejadian belakangan ini saya yakin cepat atau lambat akan membuat kedok mereka terbongkar.



    Penulis : Rahmatika    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Benarkah Ada Oknum Kepolisian Di Balik Kasus Novel Baswedan? Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top