728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 18 Juni 2017

    Benar dan Pintar di Mata Indonesia

    Saya tidak pernah bisa dan tidak pernah mau melupakan peristiwa yang pernah saya alami sekitar tiga belas tahun yang lalu. Saat saya masih duduk di bangku kelas 4 SD. Pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah saya melakukan suatu kesalahan, saya ditegur dan saya justru marah karena teguran itu (sifat kekanak-kanakan).

    Karena begitu marahnya saya terhadap teguran itu, maka saya memutuskan untuk berangkat sekolah tanpa berpamitan dengan kedua orang tua saya pagi itu. Saya mempercepat langkah kaki saya keluar pintu rumah hendak menuju ke sekolah dengan hati kesal (jarak ke sekolah biasa saya tempuh dengan berjalan kaki).

    Tiba-tiba dari arah belakang sepasang tangan menggelandang tasku hingga terlepas dan setelah kutoleh ternyata itu adalah kakakku (yang garang seperti Kak Ros). Ia melepas tasku secara kasar kemudian melemparkannya tinggi hingga terjatuh di tanah halaman rumah. Setelah itu ia memarahiku dengan posisi masih berdiri di halaman depan rumah dengan kalimat-kalimat yang salah satunya tidak akan pernah saya lupakan sampai hari ini.

    “Buat apa kamu sekolah kalau kelakuanmu seperti ini? Jawab! Buat apa? Nggak ada gunanya kamu sekolah kalau kamu nggak tahu sopan santun seperti ini, Yub. Lebih baik nggak usah sekolah saja sekalian kalau seperti ini! Buat apa kamu sekolah? Apa di sekolahmu diajari untuk marah-marah kalau ditegur karena salah?”

    Aku ingat betul saat aku berjalan keluar dari dalam rumah jam dinding di ruang tengah tadi sudah menunjukkan pukul 06:44. Aku mulai berpikir jika aku pasti akan terlambat. Kemudian ibu keluar dari dalam rumah dan berkata dengan kalem,

    “Eh, ini sudah hampir jam tujuh loh!”

    “Biar, Buk. Biar saja ia tidak sekolah. Percuma kamu pintar tapi kalau sikapmu sama orang tua seperti ini. Seperti anak tidak pernah diatur! Biar kamu nggak pinter, yang penting kamu bener dulu baru pinter.” Sahut kakakku.

    (Semua dialog telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tidak baku; bahasa aslinya adalah basa jawa Blitaran)

    Hati saya serasa berhenti beberapa waktu saat mendengar kalimat terakhirnya itu. Kalimat yang menyampaikan pesan cukup tersurat tentang sebuah poin yang berisi kepintaran tidaklah lebih penting daripada kebenaran. Kalau mau memakai kalimat lain, apalah arti dari sebuah kepintaran (penguasaan akan ilmu pengetahuan) jika tanpa didasari dengan kebenaran, kepribadian yang unggul, mental yang jujur, serta ketulusan?

    Jika mau berterus terang, sungguh jika terdapat kepintaran tanpa adanya suatu kebenaran di dalam diri seseorang maka itu adalah suatu kondisi yang sangat berbahaya bagi masa depan orang itu sendiri dan apa-apa yang ada di bawah naungannya. Bukti nyatanya sudah bisa kita saksikan dan cermati di dalam negeri sendiri. Orang-orang yang sudah terbukti melakukan pengkhianatan terhadap bangsa sendiri dengan cara melakukan korupsi. Itulah bukti nyata dampak kepintaran yang tidak berfondasi pada kebenaran di dalam diri seseorang, yang pada akhirnya hanya akan berujung pada sebuah keegoisan yang merugikan. Sekarang ada Komisi Pemberantasan Korupsi yang membuat beberapa kasus korupsi berhasil terungkap. Sayang seribu sayang, hanya beberapa saja.

    Menduduki kursi-kursi pemerintahan mungkin bisa dilakukan oleh siapapun yang lihai membuat janji-janji (meski pada akhirnya diingkari, itu urusan nanti), namun satu hal yang perlu kita sadari bahwa sejujurnya tidak semua orang pantas untuk menduduki kursi-kursi itu. Semestinya hanya orang-orang yang memiliki jiwa pengabdian terhadap Tuhan dan negaralah yang pantas untuk duduk di kursi-kursi itu. Orang-orang yang hanya ingin meraih keuntungan untuk diri sendiri atau kelompoknya sendiri tidaklah pantas untuk memerintah dan menjadi teladan bagi bangsa besar ini. Mereka lebih pantas untuk menjadi pengusaha. Itu lebih halal daripada menjadikan bangsa negara ini sebagai perusahaan mereka. Lebih tepatnya perusahaan ternak manusia.

    Dengan adanya dua jenis manusia (pintar tapi nggak benar dan benar tapi tak begitu pintar) di dalam sistim pemerintahan Indonesia baik dari yang pusat maupun yang terbawah yaitu RT, maka wajar saja kini ada banyak sekali peperangan yang tengah berlangsung di dalam sistim pemerintahan. Saling menjatuhkan satu sama lain, saling mempersalahkan, saling membodohi, saling mengadu, dan seolah-olah persatuan kini hanya menjadi slogan. Burung Garuda Pancasila hanya sebagai pajangan. Kemudian jika sudah seperti ini, bagaimana kita menjawab rakyat yang benar-benar membutuhkan model kepemimpinan yang benar? Apakah semuanya hanya akan berhenti saat masyarakat Indonesia telah kehilangan kepercayaan kepada para politisi?

    Sungguh, Indonesia lebih membutuhkan orang-orang yang benar meski tak begitu pintar daripada orang-orang pintar tapi tidak memiliki fondasi kebenaran.

    Sungguh, Indonesia lebih membutuhkan orang-orang yang memiliki jiwa abdi terhadap Tuhan dam Negara, daripada orang-orang yang menomorsatukan perkara gaji, jabatan, pangkat dan kepopularitasan.

    Sungguh, Indonesia lebih membutuhkan orang-orang yang mampu menjadi model pemimpin yang benar, jujur, tulus, dan layak untuk disebut sebagai manusia yang ber-Tuhan dengan pengimplementasikannya di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegaranya.

    Hal terakhir yang ada di dalam benak saya adalah,

    Apa kata para pahlawan kemerdekaan yang telah mati di dalam perjalanan memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini jika sampai melihat kondisi Indonesia yang seperti ini?

    Mungkin mereka akan mengelus dada,

    Mungkin mereka akan menangis,

    Ataukah mungkin mereka akan murka dan berkata,

    “Hai keturunan ular beludak, sungguh tega kalian menginjak-injak darah perjuangan kami. Dengan cara seperti inikah kalian menghormati jasa kami yang telah mengorbankan diri untuk membayar harga sebuah kemerdekaan yang mahal? Berani sekali kalian meludahi kemerdekaan yang usai kami peroleh dengan darah?”

    Kemudian mereka berkata lagi,

    “Sebagian dari kami bukanlah orang-orang pintar. Sebagian besar dari kami adalah orang-orang yang tak pernah mengenyam pendidikan di sekolah, tetapi kami memliliki kebenaran yang kemudian memerdekakan kami dan anak cucu kami.”

    Wahai para insan yang duduk di kursi kehormatan, sesekali memimpinlah dengan hati. Dengarkan nuranimu yang bersuara. Indonesia lebih memerlukan suara nuranimu daripada isi otakmu.

    – Untukmu para generasi penentu masa depan Indonesia –



    Penulis   :      Ayub Wahyu Setiawan    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Benar dan Pintar di Mata Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top