728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 18 Juni 2017

    Belajar Berpikir Kritis Dan Logis Terkait WNI Yang Tertipu Dengan Propaganda ISIS

    Saya sungguh, setidaknya lumayan terkejut membaca berita yang mengatakan ada beberapa WNI yang hijrah ke Raqqa, sebuah kota di negara Suriah yang diklaim kelompok ISIS sebagai ibukota negara Islam bentukan mereka. Diketahui mereka memutuskan pindah ke sana dengan harapan dapat hidup dengan sejahtera di bawah kekuasaan yang namanya Daulah Islamiyah. Jujur saya sampai bengong membaca ini?

    Seperti yang dialami Nur yang masih berusia 19 tahun. Awalnya Nur ingin pindah ke Suriah setelah melihat foto dan video tentang negara Islam yang diunggah ISIS ke internet. Bayangan dan harapan Nur tentang tinggal di Raqqa kemudian pudar dan menghilang. Dia adalah salah satu dari beberapa yang berniat menuju ke sana. Tapi harapan manis berbuah jadi pahit tatkala mereka menginjakkan kaki di Raqqa. Apa yang menjadi impian dan harapan mereka pupus. Mereka pun berusaha untuk lari dari kota yang digambarkan seperti neraka tersebut. Sejumlah kebohongan dari iming-iming militan ISIS telah membuat warga Indonesia terbuai dan kebelet untuk datang ke Raqqa. Nur mengatakan semua itu hanyalah kebohongan, tidak seperti yang diharapkan, apa yang dilihatnya sama sekali bertolak belakang dengan apa yang dilihat di internet.

    Begitu sampai, apa yang dialami Nur sekeluarga ternyata berbeda. Bahkan Nur dikejar oleh para tentara ISIS untuk dijadikan sebagai istri ISIS. Banyak dari tentara tersebut menikah hanya dua bulan atau dua pekan. Mereka hanya bertanya apakah ada perempuan yang bisa dijadikan sebagai istri.

    Nasib sama juga dialami Leefa. Karena mengalami masalah kesehatan, dia menaruh harapan, tinggal di ISIS akan mudah mendapatkan pengobatan tanpa biaya sepeser pun. Leefa kemudian mengontak anggota ISIS melalui internet dan dikatakan bahwa ISIS akan mengganti uang tiket dan mengiming-imingi Leefa dengan kehidupan yang lebih baik di Raqqa. Rupanya itu hanya kebohongan semata. Operasi yang dijalani Leefa ternyata harus merogoh kocek sendiri.

    Apa yang terjadi pada mereka adalah sedikit dari beberapa contoh, karena pemerintah mengatakan saat ini masih ada 500 hingga 600 WNI di Suriah. Jumlah tersebut dapat bertambah sebab adanya ratusan WNI yang mencoba masuk.

    Oke mari kita bahas fenomena ini. Propaganda yang dilakukan ISIS seperti yang dialami pada korban yang adalah sebuah kebohongan, jadi bisa saja kita katakan bahwa ini mirip-mirip dengan hoax. Berbicara tentang hoax, sekonyol apa pun itu, pasti akan memakan korban. Kita memang tidak terpedaya, tapi tidak bagi sebagian orang. Nah, kembali lagi dengan para korban, justru inilah yang saya sungguh tak mengerti. Berbicara mengenai ISIS, siapa pun tahu siapa mereka dan apa yang telah mereka lakukan selama ini.

    Tentu tak mungkin kita lupa bahwa negara tetangga kita, Filipina, baru-baru ini diserang oleh sekelompok militan ISIS di kota Marawi. Sudah tiga minggu berjalan, dan masih belum ada tanda-tanda selesai. Kalau sudah begini, penduduk mengungsi, karena apa lagi yang bisa diharapkan dari kondisi demikian kecuali bagi yang mungkin sudah bosan hidup dan memilih cari mati? Belum lagi perang-perang lainnya di Timur Tengah yang sudah tak terhitung lagi berapa banyak korban yang berjatuhan. Kota-kota hancur berantakan.

    Seharusnya dengan menggunakan sedikit akal sehat saja (tak perlu logika yang super berat), kita bisa simpulkan apa yang bisa diharapkan dari mereka yang kerjaannya hanya perang. Dengan sedikit pemahaman saja, kita bisa simpulkan kesejahteraan atau kehidupan seperti apa yang bisa ditawarkan oleh ISIS? Apakah berita dari media-media masih tidak cukup? Mungkin, dan saya percaya, pasti akan ada yang bilang, itu kan propaganda media, media sudah dikuasai asing dan aseng. Begitu kan?

    Sejarah sudah buktikan, yang namanya kondisi perang itu tak ada yang nyaman dan nikmat. Boro-boro bicara hidup enak dan kesejahteraan, tidak mati konyol saja sudah boleh tertawa. Lihat saja wilayah yang terdampak konflik, kebanyakan penduduknya mengungsi ke Eropa. Kenapa tidak bertahan saja di sana, itulah logika yang perlu kita sadari. Dan lucunya berharap hidup dengan lebih baik di bawah kepemimpinan Daulah Islamiyah? ISIS pula yang dijadikan patokan? Makanya saya tak habis pikir mengapa bisa ada pemikiran konyol seperti itu. Masih mending mikirnya ke UEA (Dubai atau Abu Dhabi) atau Qatar karena negaranya makmur.

    Mau sampai kapan dibodohi dengan propaganda konyol seperti itu? Bahkan komentar di berita ini juga rata-rata sinis dengan mereka yang memilih meninggalkan Indonesia untuk pergi ke sana. Banyak yang mengatakan mereka seharusnya tak diperbolehkan kembali lagi, karena niat awal sudah jelas, bisa jadi kembali ke negara ini dengan agenda tertentu. Meski masuk akal juga, tapi bukan ranah saya untuk mengomentari hal seperti ini. Biarlah itu urusan pemerintah untuk mengatasi masalah seperti ini.

    Di beberapa artikel saya sudah katakan berkali-kali, hoax dan propaganda itu sangat manis, tapi tak banyak yang bisa melihat isi sebenarnya di balik rasa manis tersebut. Makanya melalui tulisan ini, saya berharap agar setidaknya beberapa orang bisa sadar dan lebih menggunakan logika ketimbang emosi tak karuan dalam bertindak. Dan selebihnya tinggal langkah kepolisian dalam mengantisipasi hoax dan propaganda yang beredar dengan menciduk pelakunya, tanpa pandang bulu. Jangan sampai lengah karena apa yang terjadi pada negara tetangga, tentu tak kita harapkan terjadi di sini.

    Bagaimana menurut Anda?



    Penulis   :  Xhardy    Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Belajar Berpikir Kritis Dan Logis Terkait WNI Yang Tertipu Dengan Propaganda ISIS Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top