728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 09 Juni 2017

    Antara Jose Mari Chan, Tommy Page dan Ahok

    Beautiful Girl (Jose Mari Chan,  1989) dan A Shoulder To Cry On (Tommy Page, 1988) adalah 2 dari sekian banyak lagu pop yang saya sukai sejak remaja, dengan alasan yang berbeda. Lirik Beautiful Girl begitu romantis, menceritakan bagaimana si penyanyi jatuh cinta pada seorang gadis, setelah sekian lama ia tak memiliki cinta, namun sang gadis pergi sebelum ia sempat menyatakan cintanya. Ia hanya bisa berharap untuk dapat bertemu lagi dengan pujaan hatinya itu. Semua disampaikan dengan kata-kata yang sangat puitis, mari simak sedikit liriknya, “ ..Whenever you are, I fear that I might have lost you forever, like a song in the night. Now that I’ve loved again, after a long long while I’ve loved again. It’s was destiny’s game. For when love finally came on, I rush in line only to find, that you were gone…” sangat romantis kan ?

    Sebaliknya, A Shoulder To Cry On bukanlah sebuah lagu cinta, ia bercerita tentang persahabatan yang tulus. Saat seorang bersedia memberikan bahu sebagai tempat sahabatnya yang sedang sedih dan berputus asa untuk menangis. “ ..It’s so hard to know the way you feel inside. When there’s many thoughts and feelings that you hide. But you might feel better. If you let me walk with you by your side. And when you need a shoulder to cry on. When you need a friend to rely on. When the whole world is gone. You won’t be alone, ‘cause I’ll be there. I’ll be your shoulder to cry on. I’ll be there, I’ll be a friend to rely on…” Dalam kan ? Sangat super sekali.. begitu kira-kira kata mantan motivator kita.

    Bagi saya, lagu ini lebih mendalam dan berbobot, mengajarkan sebuah persahabatan dalam suka dan duka, daripada Beautiful Girl yang “hanya” bercerita tentang cinta. Namun keduanya memiliki lirik indah dan melodi yang memikat. Bertahun-tahun kedua lagu itu menemani saya, saat berkendara sendirian atau sedang mengerjakan sesuatu, saya sering memutarnya.

    Sampai suatu saat, tepatnya di Bulan Januari 2017, saya bersorak kegirangan saat menyaksikan Jose Mari Chan (JMC) hadir di sebuah saluran televisi. Meski sudah berusia 71 tahun, ia menyanyikan lagu Beautiful Girl sama indahnya seperti saat pertama dirilis. Pada acara itu, ia membawa serta istrinya, Mary Ann, dan memperkenalkannya pada penonton. Saat itulah saya mengerti mengapa Beautiful Girl, dengan lirik sederhana, mampu memikat hati banyak orang yang mendengarnya. Melihat JMC memperlakukan istrinya dengan penuh kasih, melihat kebahagiaan dan cinta yang terpancar antara keduanya, saya baru mengerti bahwa JMC memang “menghidupi” apa yang dinyanyikannya! Pantas saja ada kekuatan yang mengalir dari lagu itu, yang ternyata bukan hanya dinyanyikan, tapi juga dihidupinya, betapa ia mencintai, bahkan memuja sang istri jelas terlihat dari tiap kata, tingkah laku dan sorot matanya!

    Kurang lebih 2 bulan kemudian, di Bulan Maret 2017, saya terhenyak oleh kabar kematian Tommy Page (TM). Ia dikabarkan bunuh diri setelah sekian lama depresi… What ??  Bagaimana mungkin seorang yang menyediakan bahunya untuk orang lain, tidak dapat menemukan sebuah bahu, sekedar untuk menangis dan mendapatkan kelegaan ? How could you offer your shoulder to others and you can’t find one ?? Kali ini saya jadi memahami, bahwa lagu ini, yang memiliki makna begitu indah, tidak di”hidupi” oleh penyanyinya! TM tidak meyakini apa yang dikatakannya, dan hidupnya bertolak belakang dari apa yang dinyanyikannya! Bagaikan seorang pelawak yang selalu sukses menghibur penonton, namun menangis di belakang panggung.

    Lalu apa hubungannya dengan Ahok sahabatku ? Yah, saya melihat Ahok adalah spesies yang sama dengan JMC, ia meyakini dan menghidupi apa yang dikatakannya. Bicaranya sederhana, tegas, mungkin kurang indah, namun menjadi realita. Saat ia bicara tentang “Nemo”, saat bersamaan ia juga hidup menentang arus, saat korupsi menjadi sebuah kelaziman, ia menolak semua godaan untuk menjadi korup. Tidak hanya itu, ia juga berani memberantas semua praktek korupsi di wilayah pemerintahannya, “at all cost”. Meski harus masuk bui karena fitnah, ia tidak mengubah keyakinannya,  Ahok tetap menghidupi apa yang dikatakannya. Saat berkata mendahulukan bangsa dan negara, iapun melakukannya dengan mencabut banding dan mengorbankan dirinya. Orang seperti ini, adalah orang yang boleh kita percaya penuh integritasnya, orang yang layak kita dukung terus, meski hanya dalam doa…. Ahok menjadi contoh bagi kita, bagaimana seharusnya menjadikan hidup ini berarti, mungkin kecil, namun seperti lilin, dapat menerangi sekitarnya.

    Bagaimana dengan tokoh-tokoh yang lain ? Ada yang teriak “Ganyang! Bunuh! Lawan!” tapi kabur saat menghadapi pemeriksaan. Ada juga yang berkoar “Tenun Kebangsaan” namun menghalalkan segala cara untuk memenangi pilkada. Menjanjikan banyak hal spektakuler bagi masyarakat Jakarta, dengan kata-kata penuh madu dan bunga.., apakah ia juga meyakini dan menghidupi semuanya ? Waktu yang akan membuktikan temans…

    Denpasar, 07 Juni 2017



    Penulis    :    Timotius Kristiyanto   Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Antara Jose Mari Chan, Tommy Page dan Ahok Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top