728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 12 Juni 2017

    Anies yang Minder dan Terkepung

    Saya tidak mengerti kenapa Anies terus mengungkap soal “beras, beras, dan beras” lagi. Seolah-olah hal tersebut begitu teramat-sangat penting, apalagi diucapkan berulang-ulang oleh seorang PhD, seorang mantan Menteri. Apakah hanya untuk sekadar meluapkan rasa sakit hatinya? Saya tidak tahu. Saya pikir alasan seperti itu terlalu rendah bagi seorang terpelajar dan “negarawan” seperti Anies, bukan?

    Kalau melihat rekam jejak pola komunikasinya selama ini, Anies itu tipe komunikator pesan politik yang culas. Saya menarik kesimpulan semacam demikian bukan tanpa pertimbangan. Saya mengikuti betul perjalan kampanye Anies Baswedan pada masa pilkada DKI Jakarta, dan sudah banyak saya bahas. Dengan melihat semua yang terbuka di dalam rekam sejarah, saya lebih percaya bahwa ungkapan-ungkapannya ini lebih bertujuan untuk menarik pemberitaan publik.

    Seorang Anies bisa jualan apa lagi selain pernyataan-pernyataan semacam demikian? Sepi pemberitaan selalu menjadi mimpi buruk dari seorang politikus. Tanpa pemberitaan dan sorotan, dirinya akan segera tenggelam lenyap dan dilupakan. Apalagi kalau tidak punya catatan kinerja yang dapat dibanggakan, susah memang. Tapi ya mau bagaimana lagi? Kalau kita ternyata memang punya lebih banyak kekurangan ketimbang mantannya pacar kita, satu-satunya jalan “terbaik” ya rendahkan saja dia. Sikap seperti ini murahan dan rendah sebenarnya. Suatu reaksi yang muncul dari orang-orang yang pongah sekaligus minderan.

    Ahok sudah jadi mantan, ya sudah. Apa lagi untungnya bagi Anies untuk memanaskan suasana? Bawa-bawa nama “Allah” lagi. Kursi kekuasaan yang begitu kebelet diinginkan sudah didapatkan. Ya sudah, silahkan duduki dengan bertanggung jawab karena itu amanah. Hanya saja yang menjadi pertanyaan saat ini adalah, sanggupkah Anies memajukan kota dan masyarakat Jakarta ketika kelompok di sekelilingnya adalah serigala-serigala yang lapar akan kekayaan Ibu kota?

    “Bagaimana kita bisa membicarakan upaya memajukan kalau pada masa kampanye saja yang dikedepankan adalah politik identitas dan kebohongan, Bang?”, betul sekali Cep, tumben lu pinter. “Ah bisa aja Abang, jadi malu #TutupMukaPakeEmpang.”

    Bapak Politisasi SARA?

    Apakah kita bisa menyematkan gelar “Bapak Politisasi SARA” kepada seorang Anies karena sepak terjangnya? Saya tidak tahu, silahkan masyarakat yang menilai. Tetapi setidaknya sebagian masyarakat memahami apa yang terjadi. Hal ini tergambar melalui satir-satir yang sering beredar di media sosial. Salah satunya berbicara soal keterpilihan Anies. Bahwa, nanti bila Anies tidak memunculkan kinerja, dan bahkan ingkar janji (yang mana sudah dia lakukan), maka para pemilihnya tidak berhak marah. Kenapa? Karena memang mereka memilih Anies bukan atas dasar kinerja, melainkan karena kesamaan agama. Kalau begitu ya jangan tuntut program kerjanya, tetapi tuntut saja kunci emasnya untuk membuka pintu surga.

    Kalau saya renungkan, sebenarnya apa sih yang dimenangkan oleh Anies? Kursi DKI? Silahkan ambil. Tetapi ingat bahwa dia memenangkannya melalui janji-janji segudang yang mengawang-ngawang. Dan tidak jarang mustahil untuk direalisasikan. Contohnya KJP plus yang dirangkap dengan KIP, sudah batal karena menyalahi aturan.

    Bodoh sekali kalau seorang mantan Menteri tidak mengetahui hal tersebut pada masa kampanye. PhD masa nda ngerti? Tidak mungkin. Maka kemungkinannya yang kedua adalah, dia sudah tahu. “Jadi apa kita bisa katakan bahwa kampanye kemarin merupakan kampanye pembodohan masyarakat yang paling terbuka dan masif, Bang?”, Cep, terkadang seseorang harus menjalani dulu untuk dapat mengerti. Kalau sudah diberitahu tapi tetap tidak mau tahu, mau bagaimana lagi? Penyesalan itu bagian dari pembelajaran yang paling mendalam pada hidup manusia. Soal mungkinkah akan ada kesempatan untuk kedua kalinya, itu lain hal. Kalaupun masih ada, itu hanyalah anugerah.

    Minder dan Terkepung

    Karena itulah saya katakan Anies itu minderan dan terkepung. Minderan karena dia hanya sibuk membicarakan orang lain secara negatif, sambil tidak mampu membicarakan apa-apa soal prestasi kinerjanya yang positif.

    Sebenarnya tidak ada yang salah soal status “seorang pecatan”. Itu memang bagian dari hidup yang jatuh-bangun kok, yang harus kita terima dan hadapi sebagai fakta. Yang penting adalah apa yang harus kita lakukan setelahnya. Maukah kita mengevaluasi diri dan lalu bangkit kembali untuk berdiri? Bangun kembali hidup kita dengan memberikan sumbangsih yang positif bagi banyak orang, bukan malah sibuk menyindir pihak lain. Apalagi kalau ternyata apa yang dia sindir juga dilakukan oleh kelompoknya sendiri. Misalnya politik sembako. Kedua kubu melakukan hal yang sama kok. Ini kan konyol, meludah ke muka orang lain, tapi muka sendiri juga kena.

    Sedangkan soal terkepung, Anies berada di dalam himpitan antara tuntutan janji dari masyarakat dan kelompok pendukungnya. Mau sebesar apapun APBD DKI Jakarta, Anies tidak akan bisa memenuhi tuntutan dari keduanya. Apalagi bila para elit kelompok pendukungnya adalah orang-orang yang serakah. Kalau sudah begini, yang terdepan untuk dikorbankan ya masyarakat. Orang-orang kecil yang dulu mereka “bela” di dalam narasi kampanye mereka.

    Akhir kata dari saya bagi para pembaca (Seword). Jadi, apa yang sebenarnya didapat Anies? Predikat sebagai Bapak politisasi SARA? Bapak “pagi tempe, sore kedele”? Bapak “kampanye tipu-tipu”? Bapak “OmDo”? Atau apa? Dan pertanyaan terakhir saya. Apakah sebegitu berharganya kah kursi DKI Jakarta sampai-sampai martabatnya rela digadai untuk mendapatkanya?




    Penulis  :  Nikki Tirta   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Anies yang Minder dan Terkepung Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top