728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 16 Juni 2017

    Amien dan Rizieq Tertawa Melihat Indonesia Menangis

    Dunia politik adalah dunia yang sangat dinamis, perkembangannya tidak terbatas oleh waktu. Dalam kosmos politik yang menyatukan perjuangan adalah kepentingan, tidak ada teman dan lawan yang abadi (Gibran, 1930). Adigum klasik tersebut, boleh jadi benar untuk menggambarkan sepak terjang para politisi dalam meraih posisi.

    Ternyata syahwat politik itu tidak hanya hinggap kepada para tokoh partai, tapi juga berkohesi erat pada tokoh agama. Kalangan tokoh agama yang seharusnya menjadi sarana tempat bertanya dan meminta pendapat, justru sebaliknya menjadi pemain aktif dalam kosmos mikro politik domestik.

    Masih segar dalam ingatan pertarungan yang terjadi dalam kontestasi Pemilihan Gubernur (Pilgub) antara kelompok masyarakat pendukung Ahok-Djarot dan Anies-Sandi yang telah memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Perseteruan itu pun terjadi, tidak hanya secara fisik tapi juga di media sosial. Meskipun skala konflik secara fisik tidak dapat teridentifikasi dan terdeteksi langsung.

    Perseteruan itu dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu para pendukung pluralisme dan sektarianisme. Mengapa penulis sebut sektarianisme, karena perjuangan yang dilakukan hanya untuk kelompoknya saja (sekte) bukan untuk masyarakat banyak.

    Sesaat setelah pengumuman kontestasi Pilgub DKI- Jakarta, kelompok pemenang langsung merayakan kemenangan yang diraih dibeberapa kelab malam disertai dengan teriakan ‘mari kita bersulang untuk kemenangan ini.’ Di sisi lain, para petinggi dan tokoh partai pendukung kemenangan tersebut berkumpul rumah seorang mantan petinggi TNI yang juga mantan kandidat presiden dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu. Video ‘syukuran’ ini telah menjadi viral di masyarakat umum dan sudah bukan rahasia lagi.

    Dalam video itu pun terdengar ucapan dari sang tokoh dibelakang layar yang mengatakan “kita umrohkan saja, para pendukung yang sudah bekerja untuk kita”. Hal ini menjadi kenyataan beberapa tokoh seperti, Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Amien Rais , Riziek Shihab ramai-ramai melakukan umroh. Nama yang disebut terakhir, jauh lebih dulu meninggalkan bumi pertiwi untuk melaksanakan ibadah umroh, namun hingga kini masih berada di tanah suci dan belum kembali.

    Melalui deskripsi itu, penulis ingin menyampaikan bahwa upaya untuk berpartisipasi, berperan serta berpolitik dalam kehidupan bernegara di Indonesia memang dijamin oleh Undang-Undang. Akan tetapi, jika menggunakan cara-cara kotor dan licik hal tersebut sangatlah jauh dari stigma tokoh politik dan agama yang melekat pada beberapa tokoh yang disebutkan sebelumnya.

    Strategi pencapaian untuk menggapai kemenangan haruslah dilakukan dengan cara-cara yang santun, terarah dan menghindari penggunaan isu agama karena dampak perpecahan yang ditimbulkan sangat kompleks serta mengarah pada instabilitas, kalau tidak ingin disebut chaos.

    Penggunaan isu agama dalam berpolitik tidaklah tepat, karena kita bukan negara agama, masih banyak isu lain yang bisa diangkat dan dikembangkan untuk menuai simpati dari masyarakat. Lihatlah betapa Indonesia yang kita cintai ini makin terkoyak, membutuhkan waktu lama untuk merajutnya kembali.

    Betapa masyarakat di belahan Timur Indonesia kemudian bergejolak akibat dari penggunaan isu ini, beberapa diantaranya menuntut untuk lepas dari pangkuan ibu pertiwi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Adalah tanggung-jawab kita bersama untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI, bukan tugas dari aparat TNI, Polri dan penegak hukum lainnya.

    Seperti pepatah mengatakan, “siapa menabur angin, akan menuai badai” penggunaan isu agama untuk mendapatkan suatu posisi dalam pemerintahan tidaklah layak untuk digunakan.

    Jargon “rapatkan barisan untuk hancurkan penista agama” sudah usang dan tidak layak untuk diangkat kembali menjadi isu sentral. Karena terbukti bahwa perjuangan untuk mengumpulkan umat diseputaran jalan Sudirman dan MH Thamrin, Jakarta hanya sebuah muslihat kepentingan tertentu.

    Masyarakat kini menanti pertanggungjawaban sang tokoh agama atas chatting tidak senonoh dan amoral dengan salah satu umatnya. Begitu pula dengan tokoh reformasi yang menumbangkan rezim Orde Baru dengan tag line berantas Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) kini harus berurusan dengan isu yang dibuatnya. Sepeti bumerang yang kembali kepada pelemparnya sendiri.

    Masyarakat bangsa Indonesia kini dapat melihat dengan jelas, aktor-aktor politik dan tokoh politik yang kemudian tertawa lebar dan terbahak-bahak atas situasi dan kondisi yang dibuatnya. Serangkaian pertemuan yang dilakukan di Arab Saudi antara seorang tokoh agama dengan beberapa “pemain kunci” dalam pilkada DKI-Jakarta membuktikan sama sekali mereka tidak memiliki etika dan nurani.

    Amien dan Rizieq janganlah kalian tertawa melihat Indonesia menangis, bertanggung-jawablah terhadap perbuatan yang telah kalian lakukan terhadap bangsa dan masyarakat Indonesia, kami menunggu!



    Penulis   :  Kentos Artoko       Sumber  : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Amien dan Rizieq Tertawa Melihat Indonesia Menangis Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top