728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 06 Juni 2017

    Akhirnya Muncul Dokter Bhinneka, Selamat Tinggal Dokter Rasis dan Radikal

    Beberapa waktu ini kita sudah gerah dengan ulah sejumlah dokter yang terkesan rasis dan radikal. Sebut saja mulai kasus dr Chilafat, dokter di RS Permata yang menolak pasien BPJS karena alasan riba, dan banyak lagi sosok dokter yang Anda temui di media sosial maupun tindakan nyata mereka sering melontarkan hal yang rasis, radikal,senang menyebarkan kebencian, tidak mendukung Pancasila dsbnya. Belum lagi kasus persekusi yang dialami dr Fiera di Solok oleh FPI. Akhirnya muncul juga gerakan moral dari dokter-dokter lain yang sudah gerah dengan kelakuan sejawatnya ini. Mereka menyebutnya sebagai dokter Bhinneka.

    Hari ini bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila diselenggarakanlah Deklarasi Petisi Kebangsaan Gerakan Dokter Bhinneka Tunggal Ika oleh para dokter dan dokter gigi bertempat di Gedung Stovia, Jl. Abdul Rachman Saleh no 26 Jakarta Pusat. Banser NU pun mengawal penyelenggaraan acara ini.

        “Demi meneguhkan kembali peran penting para dokter pendahulu kami di masa awal terbentuknya Indonesia dalam melahirkan bangsa dan merumuskan dasar-dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tercetus gerakan moral dokter dan dokter gigi Indonesia yang sepakat hendak mendeklarasikan “Petisi Kebangsaan” pada Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni 2017,” kata dr. Joyce Sopacua selaku panitia.

    Ini adalah hal yang sangat baik dan harus disebarkan. Mengapa? Pertama, masyarakat tak usah lagi khawatir. Kalau Anda menemukan dokter yang rasis, radikal, tidak mendukung semangat Pancasila dan kebhinnekaan maka jangan ragu untuk tak lagi datang ke mereka. Sebab masih banyak kok dokter lain yang kompeten dan tidak punya sikap seperti itu. Selama ini dokter yang rasis dan radikal itu merasa tenang karena menilai masyarakat bagaimanapun tetap butuh jasa mereka. Seolah mereka adalah satu-satunya pilihan. Padahal sebetulnya tidak hanya masyarakat yang butuh dokter, dokter juga butuh pasiennya baik sebagai sumber rejeki maupun untuk mengembangkan pengetahuannya.

    Banyak dokter yang telah menjadi pahlawan bagi negara kita, sebut saja seperti dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Radjiman Wedyodiningrat, dr. Soetomo, dr. Tjipto Mangunkusumo, Prof Moestopo, dll. Mereka tak hanya menggunakan ilmunya tapi juga berjuang lansung bela tanah air bahkan ada yang pernah diasingkan. Masak sekarang penerusnya yang bisa mengenyam pendidikan kedokteran dalam situasi negara yang sudah merdeka malah ada yang mau merobek persatuan dan kesatuan bangsa? Artinya yang melakukan itu tidak bisa meneladani pendahulunya.

    Saya rasa pun Rumah Sakit harus bisa setegas RS Sahid Sahirman yang berani memutus kerjasama dengan dokter yang diketahui bersikap rasis dan menyebarkan kebencian. Dengan adanya gerakan moral ini maka institusi RS di manapun harus menggiatkan tenaga medisnya untuk kembali meresapi makna kebhinnekaan dan Pancasila. Kalau ada yang berlawanan tidak perlu lagi dipertahankan. Buat apa?

    Saya sih berharap bahwa gerakan moral Dokter Bhinneka ini tidak hanya sampai di level dokter yang sudah bekerja saja, tetapi juga pada adik-adik sejawat mereka yang mungkin masih menempuh residensi, koas, ataupun pendidikan dokter di tingkat S1. Mengapa? Sudah bukan rahasia lagi jika pola pikir rasis dan radikalis ini juga sudah banyak mengontaminasi mereka-mereka bahkan yang masih masuk di dunia perkuliahan sekalipun.

    Hierarki senior-junior sejawat dokter seyogyanya dimanfaatkan dengan baik untuk menyebarkan gerakan moral ini termasuk kepada calon dokter sekalipun. Mereka yang memilih tetap bertahan dengan prinsip dan kelakuan rasis serta radikalnya biarkan saja memilih : mau tetap jadi dokter atau tidak.



    Penulis   :   Rahmatika    Sumber   : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Akhirnya Muncul Dokter Bhinneka, Selamat Tinggal Dokter Rasis dan Radikal Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top