728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 13 Juni 2017

    Ahok Terpidana: Selangkah Menuju Khilafat

    Terjemahan pertama Qur’an ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof. Doktor Mahmud Yunus yang terbit pertama kali pada 1950.

    Sejak Buni Yani mengunggah potongan video resmi yang dipublikasikan oleh Pemerintah DKI dengan teks “dibohongi al-Maidah 51”, video ini cepat menjadi viral. Lebih lanjut, banyak orang yang menganggap bahwa Ahok telah melakukan penistaan terhadap Qur’an bahkan sebagian menganggap bahwa Ahok telah melakukan penistaan terhadap ulama dan Islam.

    Semua anggapan ini resmi dinyatakan dalam sikap dan pendapat keagamaan yang dikeluarkan oleh MUI. Dengan sikap dan pandangan keagamaan MUI ini, dari mana-mana bermunculanlah orang-orang yang menjadi pelapor atas pelanggaran yang disangkakan kepada Ahok. Bukan hanya dari persekitaran Jakarta, bahkan seorang pelapor pun datang dari kota yang cukup jauh dari Jakarta, yakni kota kelahiran penulis, Padangsidimpuan di Sumatera Utara. Dan tidak tanggung-tanggung, si pelapor mengatas-namakan umat Islam sedunia tanpa, tentunya, terlebih dulu mendapat kuasa dari seluruh umat Islam di dunia ini.

    Tuntutan dan pengadilan terhadap Ahok pun berlangsung yang diakhiri dengan hakim yang memvonis Ahok dua tahun penjara.

    Beberapa hari lalu, pihak kejaksaan pun telah mencabut memori banding mereka sehingga putusan terhadap Ahok telah incracht yang berarti Ahok saat ini sudah menjadi narapidana.

    Dengan incracht-nya keputusan ini berarti Negara telah MELARANG warganya untuk menerjemahkan al-Maidah 51 di luar yang sudah diterjemahkan Departemen Agama dan diterbitkan pada 1965 (Versi 1). Dengan terpidananya Ahok, semua buku terjemahan di luar buku terjemahan Versi 1 tidak boleh lagi dijadikan acuan oleh warga Republik Indonesia, karena khusus al-Maidah 51, pemadanan “awliya” oleh Kemenag telah diganti dengan “teman(setia)” pada 2002 (Versi 2) dari yang tardinya (Versi 1) dipadankan dengan “pemimpin”. Dengan keputusan yang telah incracht ini, semua buku terjemahan asing, terutama yang berbahasa Inggris juga tidak boleh dijadikan acuan oleh warga NKRI karena tidak satu pun terjemahan berbahasa Inggris ini yang memadankan “awliya” dengan “leader”.

    Yang terjadi sebelum kasus Ahok ini mencuat, terutama ditujukan kepada Ahok di DKI dan Babel Timur, ialah lawan-lawan politik Ahok telah menggunakan Versi 1 dan kemudian disangkal oleh Ahok dengan Versi 2 dan tafsiran yang diberikan oleh alm. Gus Dur (allahum magfirlalu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu).

    Dalam alam demokrasi, lawan Ahok yang menggunakan Versi 1 boleh-boleh saja mengatakan “Jangan mau dibohongi pakai al-Maidah 51 versi Ahok,” dan, sebaliknya, Ahok bisa saja menyatakan “Jangan mau dibohongi pakai al-Maidah 51 versi lama.” Akan tetapi, sejak Ahok terpidana, terjemahan/tafsir Qur’an Versi 1 sudah tidak boleh digunakan lagi, yang kalau digunakan, si pengguna dapat dilaporkan sebagai orang yang melanggar KUHP Pasal 156(a).

    Demikian juga terjemahan Qur’an lainnya, di antaranya terjemahan M Yunus “Terjemahan Qur’an Karim” yang dalam anotasinya untuk al-Maidah 51, M. Yunus menyatakan bahwa ayat umum ini telah ditakhsiskan (dikhususkan) oleh QS. 60.9:

    “HANYA Allah melarang kamu mengangkat wali (pemimpin) dari orang-orang yang memerangi kamu karena agamamu dan mengusir kamu dari negeri kamu dan menolong mengusir kamu. Barang siapa yang mengangkat mereka itu, maka mereka orang-orang aniaya.”

    Sesungguhnya pendapat ini lebih nyata berlawanan dengan Versi 1 dari yang hanya perbedaan terjemahan antara Versi 1 dan Versi 2, karena pendapat ini tidak mempermasalahkan terjemahan al-Maidah 51 yang mendua, tetapi secara tegas tersirat membenarkan Versi 1 hanya saja mengesampingkannya dengan adanya ayat khusus QS. 60.9 ini.

    Untuk melindungi warganya, Pemerintah melalui Kejaksaan Agung harus segera menarik semua buku terjemahan Qur’an yang tidak mengacu pada terjemahan Versi 1. Selanjutnya, MUI harus segera mengeluarkan fatwa “”HARAM” untuk buku-buku terjemahan yang ditarik dari peredaran tersebut. Ini untuk mencegah adanya korban-korban lanjutan oleh al-Maidah 51 ini.

    Dengan demikian, di NKRI ini hanya ada satu terjemahan/tafsir Qur’an yang resmi yang harus menjadi acuan bagi warganya. Dan ini merupakan kemajuan bagi pecandu khilafah: NKRI satu langkah lebih maju menuju khilafat.




    Penulis  :  Zulkifli Harahap   Sumber : Seword .com
    • Komentar Via
    • Facebook
    Item Reviewed: Ahok Terpidana: Selangkah Menuju Khilafat Rating: 5 Reviewed By: Wartadotco News
    Scroll to Top